Wayang Tingklung, Kesenian Lokal Yang Hampir Pudar

Wayang Tingklung, Kesenian Lokal Yang Hampir Pudar
Rate this post

Pertunjukkan Wayang Tingklung tak ubahnya seperti pertunjukkan wayang kulit biasa. Namun dalam penyelenggaraan pertunjukkan Wayang Tingklung sedikit berbeda dengan pertunjukkan wayang kulit biasa. Peran dalang tidak hanya ditempatkan sebagai orang yang memainkan wayang dan penguasa jalannya cerita, namun juga sebagai subyek yang melantunkan lagu dan menirukan sendiri instrumen gamelan pengiring dengan suaranya.

Wayang Tingklung merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kotagede. Ada juga yang menyebutnya “Wayang Cangkeman” karena semua pertunjukkan dilakukan oleh dalang seperti nyinden, ndalang, dan nggamel dengan suaranya.

Wayang Kulit dan Latar

Dengan kata lain, pertunjukkan Wayang Tingklung tidak menggunakan alat musik gamelan dan hanya menggunakan bibir si dalang saja yang menirukan suara gamelan tersebut. Pertunjukkan Wayang Tingklung memang terdengar unik dan menarik meskipun saat ini kesenian ini sudah diambang kepunahan karena. Sedikitnya peminat dan penonton menjadi alasan utama Wayang Tingklung semakin jarang dimainkan. Saat mendengar pertunjukkan Wayang Tingklung di kawasan Kotagede, saya langsung bergegas menuju ke lokasi pertunjukkan.

Pertunjukkan Wayang Tingklung yang cukup langka ini belum pernah saya tonton dan saya ingin sedikit mengamati mengapa keberadaannya diambang kepunahan. Di kawasan Kotagede, pertunjukkan Wayang Tingklung ini diselenggarakan sangat sederhana di sebuah bangunan joglo yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Pertunjukkan Wayang Tingklung ini tidak diselenggarakan secara meriah dengan tenda dan kursi seperti pertunjukkan wayang yang biasa kita lihat. Sepertinya penyenggaraan pertunjukkan Wayang Tingklung ini merupakan inisiatif para warga yang masih peduli dengan keberadaan kesenian tradisional ini dan diselenggarakan ala kadarnya.

Dalang Sedang Memainkan Wayang Tingklung

Suasana pertunjukkan Wayang Tingklung hanya terlihat seperti perkumpulan warga biasa yang sedang rapat di balai pertemuan karena dihadiri oleh sedikit orang. Mereka nampak akrab dan saling mengobrol sambil menunggu persiapan pementasan wayang dimulai. Ketika ada penonton yang datang, mereka langsung menyuguhkan minuman teh hangat dan mempersilakan duduk santai untuk menikmati perunjukkan. Pertunjukkan Wayang Tingklung dimulai pukul 08.00 malam dan dihadiri sekitar 30 warga yang hampir seluruhnya berasal dari kampung sekitar. Penonton pertunjukkan Wayang Tingklung didominasi oleh para orang tua dan orang lanjut usia, sedikit sekali anak muda yang menyaksikan pertunjukkan wayang ini.

Saat pertunjukkan berlangsung, pementasan wayang yang dilakukan oleh dalang sama seperti pementasan wayang biasa. Namun dalang dalam pementasan ini dituntut untuk bisa menirukan bunyi gamelan dengan bibirnya. Perlu keahlian khusus untuk menjadi dalang dalam pementasan Wayang Tingklung ini. Dalang pementasan Wayang Tingklung saat ini menurut informasi yang saya ketahui berasal dari warga kampung sekitar. Lantunan suara dalang terdengar jelas meskipun tiruan suara gamelan terdengar unik dan lucu bagi orang yang belum pernah mendengarkannya.

Penonton Wayang Tingklung

Pertunjukkan Wayang Tingklung biasanya berlangsung selama 3 hingga 4 jam dan selesai saat menjelang tengah malam. Namun ketika satu jam pertama berlalu jumlah penonton mulai menyusut. Mereka merasa sudah cukup untuk menyaksikan wayang dan kembali ke rumah mereka yang lokasinya hanya beberapa puluh meter dari lokasi pertunjukkan. Tinggal beberapa warga yang menyaksikan dan akhirnya pertunjukkan Wayag Tingklung dipercepat untuk diakhiri.

Rendahnya minat penonton untuk menyaksikan Wayang Tingklung menjadi salah satu alasan mengapa kesenian lokal ini sulit untuk berkembang dan terancam punah. Sebagian kecil masyarakat masih mencoba menyelenggarakan pertunjukkan Wayang Tingklung untuk melestarikan peninggalan leluhur. Meskipun dalam penyelenggaraan akhirnya hanya sedikit sekali jumlah penonton dan terancam tidak ada penonton pada akhir pertunjukkan. Kurangnya edukasi kepada generasi penerus seperti anak-anak dan pemuda membuat Wayang Tingklung ini terancam punah dan tidak ada generasi penerus yang mau melestarikan budaya leluhurnya. Harapan tinggal harapan, tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya dan mampu melestarikannya hingga dilanjutkan oleh anak cucu mereka. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. alannobita:

    senasib sama wayang gadrung yah :( semoga selalu lestari

  2. maurenfitri:

    bahkan saya sudah ndak ingat kapan terakhir kali nonton wayang :(

Kirim pendapat