Upacara Adat Saparan Bekakak, Tradisi Peringatan Bulan Sapar Di Gamping Sleman

Upacara Adat Saparan Bekakak, Tradisi Peringatan Bulan Sapar Di Gamping Sleman
3.7 (74.29%) 7 votes

Upacara Adat Saparan Bekakak merupakan salah satu tradisi bulan Sapar dalam penanggalan Jawa yang masih dilestarikan di wilayah kabupaten Sleman. Tradisi ini telah diselenggarakan selama ratusan tahun dan menjadi agenda budaya unggulan kabupaten Sleman. Pelaksaaan Upacara Adat Saparan Bekakak saat ini digelar cukup meriah dengan pasar malam hingga kirab budaya yang diikuti oleh beragam kelompok kesenian lokal dan daerah di sekitar kabupaten Sleman.

Saparan Bekakak merupakan ritual yang digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Disebut demikian karena dalam pelengkap upacaranya terdapat sepasang pengantin bekakak. Upacara adat Saparan Bekakak yang dilaksanakan di Desa Ambarketawang, Gamping sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I.

Boneka Pengantin Dalam Upacara Adat Saparan Bekakak Sleman

Dari tahun ke tahun, acara Saparan Bekakak berlangsung secara meriah. Tahun ini jumlah peserta kirab upacara Saparan Bekakak melebihi target peserta dari yang direncanakan. Tidak heran bila lapangan Ambarketawang hampir penuh oleh peserta kirab dan hanya menyisakan sedikit tempat untuk penonton.

Upacara Adat Saparan Bekakak dimulai di lapangan Ambarketawang yang berada di sebelah barat Pasar Buah Gamping Sleman. Pembukaan acara diawali dengan kirab sepasang pengantin bekakak dari balai desa Ambarketawang menuju tengah lapangan Ambarketawang. Sehari sebelumnya pengantin bekakak dilakukan bermacam-macam prosesi adat pernikahan Jawa layaknya seperti seorang pengantin manusia.

Tradisi yang hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bermula dari kisah meninggalnya Kyai dan Nyi Wirasuta serta warga lain akibat musibah longsornya Gunung Gamping dan jasad mereka tidak. Sejalan dengan waktu, setiap bulan Sapar terjadi musibah serupa yang menimpa warga sekitar. Masyarakat setempat meyakini arwah Kyai dan Nyi Wirasuta masih menempati Gunung Gamping. Mengetahui keresahan tersebut, Sri Sultan bertitah pada masyarkat Ambarketawang agar tiap bulan Sapar mengadakan upacara selamatan dengan menyembelih sepasang pengantin (Bekakak) yang terbuat dari campuran beras ketan yang dimaksudkan untuk menggantikan Kyai dan Nyi Wirasuta serta warga lain yang tertimpa musibah longsornya Gunung Gamping agar tidak terjadi bencana serupa di wilayah ini.

Pembawa Boneka Pengantin Dalam Upacara Adat Saparan Bekakak Sleman

Acara kirab budaya dimulai dengan barisan Kudo Wiro Manggolo dan kuda pengiring, prajurit Bregodo Gamping Tengah, Rombongan Bekakak, Santri Pembawa Tirto Dono Jati, Bregodo Kijing Kidul, Gunungan Buah-buahan serta beberapa peserta lain yang turut memeriahkan acara kirab ini. Tidak lupa patung Genderuwo (sejenis makhluk halus) yang merupakan perwujudan penunggu Gunung Gamping juga ikut dalam kirab.

Kirab budaya yang menjadi rangkaian prosesi upacara adat Saparan Bekakak ini dimulai dari lapangan Ambarketawang Gamping berjalan menuju ke kawasan Gunung Gamping yang berdekatan dengan bekas Pesanggrahan Ambarketawang Kraton Yogyakarta. Rute kirab melewati Jalan Raya Wates ke arah timur kemudian berbelok ke selatan melewati Jalan RingRoad Barat. Dari Jalan RingRoad Barat, rombongan kiran berbelok ke arah barat menuju kawasan Gunung Gamping.

Kirab Prajurit Upacara Adat Saparan Bekakak Sleman

Rombongan (arak-arakan) yang membawa Boneka Pengantin Bekakak berjalan menuju ke kawasan Gunung Gamping untuk dilakukan prosesi penyembelihan boneka pengantin. Lokasi Gunung Gamping terletak di dekat petilasan pesanggrahan Ambarketawang yang lokasinya berada di sebelah selatan dari kantor kelurahan kira-kira 500 meter.

Rombongan pembawa tandu yang berisi boneka sepasang pengantin dan gunungan dipersilakan memasuki kompleks Gunung Gamping. Sedangkan peserta kirab yang lain telah diarahkan menuju ke halaman bekas Pesanggrahan Ambarketawang yang berada di dekatnya dan sebagian lurus ke lokasi finish untuk beristirahat. Para penonton hanya dapat melihat prosesi dari balik pagar luar kompleks Gunung Gamping.

Sepasang Boneka Pengantin Bekakak disembelih di dua tempat yaitu di pelataran Gunung Gamping dan di lapangan dukuh Gamping Kidul. Acara penyembelihan utama Boneka Pengantin Bekakak sebenarnya berlangsung di kawasan Gunung Gamping dan lokasi penyembelihan lain sebagai daya tarik wisata tambahan.

Boneka Pengantin Upacara Adat Saparan Bekakak Sleman Dibawa Ke Gunung Gamping

Memasuki acara puncak Upacara Adat Saparan Bekakak, boneka sepasang pengantin dibawa ke sebuah altar yang terletak di sebelah utara Gunung Gamping. Kemudian boneka sepasang pengantin disembelih dimulai dari boneka pengantin pria terlebih dahulu dilanjutkan boneka pengantin wanita oleh pemimpin upacara. Prosesi ini disaksikan oleh penonton yang melihat dari sisi luar pagar kawasan.

Setelah sepasang pengantin bekakak disembelih oleh perwakilan desa Ambarketawang yang berpakaian prajurit, potongan badan bekakak yang terpisah tersebut dirusak dan dilemparkan ke arah penonton yang menyaksikan prosesi Upacara Adat Sarapan Bekakak. Gunungan buah-buahan yang ikut dibawa ke atas altar kemudian menjadi rebutan para penonton ketika pintu kawasan Gunung Gamping dibuka. Setelah rebutan gunungan buah-buahan selesai, para peserta upacara dan penonton perlahan-lahan meninggalkan lokasi. Upacara Adat Sarapan Bekakak telah berakhir namun kemeriahan acara masih berlanjut beberapa hari dengan hiburan pasar malam.

Penyembelihan Boneka Pengantin Dalam Upacara Adat Saparan Bekakak Sleman

Beberapa konsep penyelenggaraan Upacara Adat Saparan Bekakak telah mengalami perubahan atau modifikasi sehingga kurang terlihat sakral. Perubahaan konsep acara ini cukup wajar mengingat tradisi dan budaya akan berkembang mengikuti kemajuan zaman. Selain itu bertujuan untuk membuat acara lebih meriah dan menambah daya tarik agenda budaya dan tradisi di kabupaten Sleman. (text/foto: annosmile)

Ada 5 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. areximut:

    Interesting event on there, keren nich acaranya :-) Thanks reviewnya

  2. mursid:

    iki sing gendruwo karo wewe gombel kuwi yo?  mantab!
    jalan2 teruuuuus.. syem.. aku kapan ya..

  3. kips:

    Sepertinya seru jg ya kl bisa hadir , disini tidak ada hal serupa euy :-D

  4. airyz:

    kenapa pengantinnya disembelih?

  5. soewoeng:

    lha yen ayam bekakak ki opo dari kata iki ya kang?

Kirim pendapat