Upacara Adat Nguras Enceh Makam Imogiri

Upacara Adat Nguras Enceh Makam Imogiri
2.8 (55.56%) 9 votes

Upacara Adat Nguras Enceh di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri merupakan salah satu upacara yang digelar pada bulan suro dalam penanggalan Jawa. Upacara ini jauh mendapat perhatian masyarakat umum kecuali bagi orang yang ingin mencari berkah. Kebanyakan mereka lebih memilih untuk melihat Upacara Ngarak Siwur yang diselenggarakan di halaman parkir makam Imogiri pada hari sebelumnya ketimbang harus bersusah payah mendaki tangga makam untuk melihat upacara adat Nguras Enceh.

Upacara Nguras Enceh atau Mengganti Air Gentong adalah tradisi yang dilakukan pada setiap bulan Sura khususnya pada hari Jumat Kliwon. Enceh atau gentong yang ada di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri ini berjumlah 4 (empat buah). Nama-nama enceh adalah Gentong Kyai Danumaya, Kyai Danumurti, Kyai Mendung, dan Nyai Siyem. Gentong Kyai Danumaya berasal dari Kerajaan Palembang, Kyai Danumurti dari Kerajaan Aceh, Kyai Mendung dari Kerajaan Ngerum di Turki, dan Nyai Siyem berasal dari Kerajaan Siam (Thailand).

Saya sempat datang terlambat menuju ke lokasi Upacara Adat Nguras Enceh di Kompleks Makam-Makam Imogiri. Akhirnya tanpa membuang waktu, saya langsung menuju parkir atas dekat dengan makam tanpa harus menaiki tangga makam yang cukup membutuhkan waktu dan tenaga. Dari area parkir, saya berjalan melewati gerbang luar makam sebelah barat untuk menuju ke lokasi upacara yang berada di sebelah bawah pintu gerbang utama Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri.

Upacara Adat Nguras Enceh sudah dimulai ketika saya tiba ke lokasi yang berada di sebelah bawah pintu masuk gerbang utama Kompleks Makam raja-Raja Mataram Imogiri. Saat itu sudah dimulai ritual doa dan salawat yang ditujukan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Suasana tampak hening dengan lantunan doa dan bau kembang bercampur menyan yang dibakar para juru kunci. Kerabat kraton, para abdi dalem, masyarakat, dan wisatawan yang hadir memenuhi hampir semua kawasan yang disediakan untuk pengunjung.

Upacara Adat Nguras Enceh dilakukan di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, tepatnya di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Setelah ritual doa selesai, acara inti yang ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat yang hadir dalam Upacara Adat Nguras Enceh tiba. Para kerabat kraton dan para abdi dalem membawa untaian bunga dan sesaji untuk diletakkan dan dikalungkan kepada enceh atau gentong yang berada dalam Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri.

Prosesi mengalungkan untaian bunga ini diikuti dengan abdi dalem yang membawa siwur (siwur = gayung air dari batok kelapa dengan tangkai bambu) untuk mengisi genthong (enceh) dengan air. Sebelumnya pada malam harinya setelah Upacara Ngarak Siwur dilakukan pengurasan air dalam genthong. Sepasang siwur yang dibawa melambangkan dua kerajaan yang menjadi bagian dari kerajaan Mataram Islam yaitu sebuah milik Kraton Kasunanan Surakarta dan satunya lagi kepunyaan Kraton Kasultanan Yogyakarta.

Rombongan pembawa siwur berjalan menuju ke arah genthong yang masih kosong dengan membawa sesaji. Beberapa abdi dalem bersiap di depan galon yang berisi air yang dipersiapkan untuk mengisi air genthong. Masyarakat yang menonton sebagian bergerak maju untuk melihat prosesi pengisian enceh ini.

Dengan menggunakan siwur, empat genthong yang berada di depan pintu Makam Raja-Raja Mataram Imogiri diisi dengan air. Pengambilan air dilakukan oleh abdi dalem berpangkat Tumenggung atau Ngabehi. Kemudian para abdi dalem dibantu warga mengambil air untuk mengisi genthong hingga penuh. Setelah penuh, masyarakat boleh meminta air yang dianggap bertuah tersebut. Tidak semua orang berebut untuk mengambil air bertua tersebut, sebagian orang yang lain hanya melihat prosesi ini dan beberapa diantaranya mendokumentasikan karena peristiwa seperti ini hanya terjadi setiap setahun sekali. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat