Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo, Salah Satu Bukti Kerukunan Masyarakat Gunungkidul

Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat dan nelayan sekitar Jepitu di kabupaten Gunungkidul. Ngalangi atau sebagian lebih mengenalnya dengan sedekah laut ini diselenggarakan di kawasan Pantai Wediombo yang berada di daerah tersebut. Tradisi ini diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang diberikan dan memohon rezeki berlimpah untuk masa mendatang.

Upacara Adat dan Sedekah Laut Ngalangi diselenggarakan masyarakat Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul setiap tahun di area pantai Wediombo. Tradisi ini diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki dan keselamatan yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

Kirab Sesaji Dalam Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo Gunungkidul

Tradisi Sedekah Laut Ngalangi Pantai Wediombo ini diselenggarakan oleh masyarakat desa Jepitu setiap tahun tepatnya pada bulan setelah panen dan jatuh pada hari Kamis Wage. Waktu atau bulan setelah panen tersebut biasanya pada bulan ke empat atau menjelang musim kemarau. Prosesi berlangsung sejak pagi hari hingga siang hari, namun persiapannya telah dilakukan beberapa hari sebelumnya.

Lokasi penyelenggaraan Upacara Adat dan Sedekah Laut Ngalangi berada di area Pantai Wediombo Gunungkidul. Pantai Wediombo merupakan salah satu pantai di Gunungkidul yang berada di sebelah timur. Perjalanan menuju ke Pantai Wediombo dari kota Wonosari membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan dan bila ditempuh dari kota Yogyakarta membutuhkan waktu sekitar 2-3jam. Kondisi jalan menuju ke Pantai Wediombo sudah beraspal lebar dan mampu dilalui kendaraan hingga bus kecil.

Tradisi Ngalangi Pantai Wediombo telah mengalami pergeseran budaya dengan menghapus beberapa prosesi yang ada karena keterbatasan waktu, biaya, dan kondisi yang tidak memungkinkan. Seperti prosesi prosesi penangkapan ikan dengan cara menggunakan gawar yang terbuat dari akar pohon wawar yang menjalar sebagai jaring yang dipancangkan dari bukit Kedungwok dan dihalau bersama-sama ke laut oleh masyarakat setempat. Prosesi ini telah lama tidak dilaksanakan karena kondisi pantai yang sudah ramai dan tidak ada ikan yang berenang ke tepi pantai.

Kirab Kesenian Lokal Dalam Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo Gunungkidul

Suasana pagi hari di Pantai Wediombo menjelang dilaksanakan Upacara Adat Ngalangi terlihat cukup ramai dan tidak seperti biasanya yang terlihat sepi. Beberapa wisatawan dan masyarakat sekitar mulai berdatang untuk melihat upacara adat atau tradisi yang berlangsung setahun sekali ini. Persiapan demi persiapan juga dilakukan oleh panitia penyelenggaraan acara agar acara dapat dimulai sesuai waktu yang telah ditentukan.

Baca Juga  Sego Gudeg Geneng dan Mangut Lele Mbah Marto

Acara Upacara Adat Tradisi Ngalangi dimulai pukul 09.00 dengan arak-arakan atau kirab dari sisi sebelah atas dekat pos retribusi masuk menuju ke kawasan Pantai Wediombo. Kirab tersebut merupakan arak-arakan masyarakat dan nelayan sekitar Pantai Wediombo yang akan mengikuti Upacara Adat Ngalangi. Kirab tersebut terdiri dari barisan masyarakat yang berpakaian adat jawa, rombongan orang yang membawa tandu yang berisi sesaji, nasi kenduri, dan tidak lupa rombongan kesenian lokal sekitar Pantai Wediombo.

Seluruh Warga Berkumpul Dalam Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo Gunungkidul

Kirab Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo berjalan melewati jalan aspal hingga menuruni tangga menuju area warung-warung makan pinggir pantai. Kirab tersebut dilanjutkan dengan menyisir area tepi Pantai Wediombo ke arah selatan. Tidak lama kemudian arak-arakan atau kirab berhenti di pelataran Semar yang disakralkan penduduk sekitar. Area pelataran Semar saat ini telah dibikin sebuah pondasi permanen yang lebih tinggi  dan dipasang tenda khusus dipergunakan selama acara Sedekah Laut Ngalangi Pantai Wediombo berlangsung.

Nasi kenduri dan bungkusan makanan yang dibawa warga ditaruh ditengah-tengah pelataran kemudian warga yang mengikuti prosesi sedekah laut ngalangi duduk melingkarinya. Beberapa ibu-ibu yang membawa selendang kain menggantungkan selendangnya di bagian depan dekat pohon yang dikeramatkan sebagai syarat dimulainya prosesi Upacara Adat Tradisi Ngalangi Pantai Wediombo

Nasi Kenduri Dan Lauk Dalam Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo Gunungkidul

Prosesi Ngalangi Pantai Wediombo dimulai dengan beberapa sambutan dari pemuka adat setempat dilanjutkan dengan ritual doa menghadap pohon tua yang dipercaya sebagai pepunden dan dikeramatkan di area pelataran Semar. Bau menyan tiba-tiba cukup tajam saat pemuka adat atau juru kunci membakarnya bersamaan dengan peletakan sesaji. Acara doa di pelataran ditutup dengan doa bersama yang dilakukan seluruh masyarakat yang hadir dalam prosesi tersebut.

Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo dilanjutkan dengan makan bersama antara masyarakat yang menjalankan prosesi ini dengan penonton yang hadir dalam acara tersebut. Bungkusan makanan dan nasi kenduri yang diletakkan ditengah-tengah langsung dibagian kesemua orang yang hadir dalamacara tersebut. Selanjutnya mereka membuka bungkusan makanan tersebut dan langsung memakannya secara bersama-sama. Bungkusan makanan dan kenduri yang ada berisi hasil bumi yang dipanen oleh masyarakat sekitar. Saat bungkusan tersebut dibuka berisi nasi dan lauk berupa tempe, serundeng, ikan laut, dan masakan khas desa yang diolah dari hasil bumi yang mereka panen.

Baca Juga  Bekas Stasiun Dongkelan Yogyakarta, Berdiri Disamping PASTY

Masyarakat Menikmati Kenduri Dalam Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo Gunungkidul

Prosesi larung sesaji Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo dilanjutkan setelah selesai acara makan kenduri bersama. Tandu berisi sesaji hasil bumi masyarakat sekitar yang diletakkan ditengah pelataran dibawah ke arah utara menuju tempat perahu nelayan yang sedang bersandar. Tandu sesaji tersebut dinaikkan ke atas perahu kemudian perahu dibawa ke tengah laut atau sejauh kurang lebih lima kilometer dari bibir pantai untuk dilabuh atau dilarung.

Prosesi larung sesaji Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo ini hanya menggunakan satu buah perahu nelayan saja.  Perwakilan masyarakat dan nelayan ikut dalam perahu nelayan untuk melakukan proses larung sesaji di tengah laut.  Tidak banyak yang mengetahui bagaimana prosesi larung sesaji Tradisi Ngalangi Pantai Wediombo karena hanya menggunakan satu perahu yang terbatas kapasitas penumpangnya. Masyarakat sekitar percaya bahwa laut selatan dibawah kekuasaan Nyi Roro Kidul sehingga upacara sedekah laut juga dipersembahkan kepada Nyi Roro Kidul.

Melarung Sesaji Upacara Adat Ngalangi Pantai Wediombo Gunungkidul

Prosesi Upacara Adat atau Tradisi Ngalangi Pantai Wediombo ditutup oleh pementasan kesenian lokal dari desa Jepitu yaitu jathilan. Pementasan jatilan dilakukan di area jalan dekat kawasan warung makan Pantai Wediombo. Penonton masih memadati kawasan pantai Wediombo hingga usai. Sepertinya penyelenggaraan Tradisi Ngalangi mampu menyedot banyak wisatawan untuk menonton acara ini meskipun baru wisatawan lokal atau domestik.

Upacara Adat Ngalangi ini merupakan salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat pesisir pantai kabupaten Gunungkidul khususnya masyarakat sekitar Pantai Wediombo. Tradisi ini memiliki banyak kesamaan dengan sedekah laut namun terdapat perbedaan dimana dibagian acaranya terdapat permohonan sesorang yang memiliki hajat tersendiri dengan mempersiapkan larung sesaji sendiri yang diikutkan bersama-sama dalam prosesi larung sesaji. (text/foto: annosmile)

BERITA TERKAIT

30 April 2015

Masyarakat Jepitu kembali melaksanakan Upacara Adat Tradisi Ngalangi di kawasan Pantai Wediombo. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya rangkaian acara tidak berubah namun dikemas lebih alami atau natural. Dalam kesempatan ini mahasiswa KKN dari UPN Yogyakarta juga turut hdir meramaikan acara.

Ada 4 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. dafhy:

    Sebuah budaya yang patut untuk dilestarikan mas. Semoga tidak ada orang yang sok agamis merusaknya

  2. HeruLS:

    Menarik, lebih menarik jika ada gambar melarungnya.
    Sayang, bagian menangkap ikan dengan gawar sudah tiada, padahal itu akan sangat menarik gambarnya.
    Salam.  

    • admin:

      melarungnya jauh ditengah laut dan hamya pemuka adat yg melakukannya
      ya cuma sebatas prosesi membawa sesaji ke kapalnya saja :)

  3. wahyu:

    Tradisi yang masih di pertahankan oleh masyarakat Jepitu, dan semua itu kita menganggapnya sebagai warisan budaya yang harus kita lestarikan. Sangat mengapresiasi pada teamtouring yang sudah mau meliput

Kirim pendapat