7 Tradisi Peringatan Bulan Sapar di Sekitar Yogyakarta

7 Tradisi Peringatan Bulan Sapar di Sekitar Yogyakarta
3 (60%) 2 vote[s]

Bulan Sapar (Safar) dalam penanggalan Jawa/Islam merupakan bulan ke dua dari awal tahun atau bulan setelah Suro/Muharram. Khususnya di sekitar Yogyakarta, bulan ini memiliki daya tarik unik dimana banyak berkembang tradisi atau ritual yang berasal dari mitos dan sejarah. Beberapa tradisi tersebut masih dilestarikan dan saat menjadi daya tarik wisata budaya. Berikut adalah tradisi peringatan bulan Sapar di sekitar Yogyakarta antara lain :

1. Tradisi Sebaran Apem Ki Ageng Wonolelo

Sebaran Apem Saparan Ki Ageng Wonolelo Dari Atas Menara

Tradisi Sebaran Apem Ki Ageng Wonolelo merupakan tradisi masyarakat sekitar Ngemplak Sleman dalam menyambut bulan Sapar dalam penanggalan Jawa/Islam. Tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu oleh Ki Ageng Wonolelo sebagai salah satu wali penyebar agama Islam di daerah Sleman. Acara inti dari penyelenggaraan tradisi ini adalah kirab pusaka Ki Ageng Wonolelo dan sebaran makanan apem sebagai simbol perayaan Sapar.

Baca artikel selengkapnya di Tradisi Saparan dan Sebaran Apem Ki Ageng Wonolelo Sleman

2. Upacara Adat Saparan Bekakak

Penyembelihan Boneka Pengantin Dalam Upacara Adat Saparan Bekakak Sleman

Upacara Adat Saparan Bekakak merupakan tradisi masyarakat sekitar Gamping Sleman dalam menyambut bulan Sapar dalam penanggalan Jawa/Islam. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun sejak berdirinya Kraton Kasultanan Yogyakarta. Asal usul diselenggarakan tradisi adat ini adalah untuk meminta keselamatan warga Gamping agar terhindar dari bencana. Tradisi ini cukup unik dengan prosesi utama berupa penyembelihan boneka sepasang pengantin di kawasan Gunung Gamping.

Baca Juga  Mie Ayam Dan Bakso Sopo Nyono, Tersembunyi Di Timur Yonif 403 Sleman

Baca artikel selengkapnya di Upacara Adat Saparan Bekakak, Tradisi Peringatan Bulan Sapar Di Gamping Sleman

3. Upacara Adat Saparan Sorogeni

Upacara Adat Saparan Sorogeni merupakan tradisi yang diselenggarakan masyarakat Sorogenen dalam menyambut bulan Sapar dalam penanggalan Jawa/Islam tepatnya pada hari Selasa Pon. Tradisi ini diselenggarakan di dusun Sorogenen, desa Banguncipto, kecamatan Sentolo, kabupaten Kulon Progo. Tujuan penyelenggaraan tradisi ini untuk mengingat kembali nenek moyang mereka yang bernama Kyai Sorogeni dan Nyai Sorogeni.

4. Saparan Dusun Kwagon

Saparan Dusun Kwagon merupakan tradisi memperingati bulan Sapar yang diselenggarakan warga dusun Kwagon, desa Sidorejo, kecamatan Godean, kabupaten Sleman. Acara dimulai dengan kirab beberapa gunungan seperti gunungan lempung, gunungan genteng hingga hasil bumi seperti sayur mayur dan buah-buahan menuju ke arah bukit Kwagon. Tradisi ini diselenggarakan dengan tujuan meminta keselamatan warga saat melaksanakan usaha penggalian lempung pembuat genteng.

5. Upacara Rabu Wekasan Wonokromo

Upacara Rabu Wekasan Wonokromo (Rebo Pungkasan) diselenggarakan pada penghujung bulan Sapar pada penanggalan Jawa/Islam tepatnya pada selasa malam atau malam rabu pada minggu terakhir bulan Sapar. Tradisi ini diselenggarakan di desa Wonokromo, kecamatan Pleret, kabupaten Bantul.

6. Tradisi Kembul Sewu Dulur Dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan

Makan Bersama Di Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

Tradisi Kembul Sewu Dulur Dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo merupakan tradisi yag diselenggarakan pada hari rabu bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini sudah diselenggarakan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Acara utama penyelenggaraan tradisi ini adalah doa dan makan bersama kemudian dilengkapi dengan proses memandikan jarang kepang.

Baca Juga  Gunung Mungker Potensi Wisata Puncak Tertinggi Di Bantul

Baca artikel selengkapnya di Tradisi Kembul Sewu Dulur Dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

7. Merti Bumi Tunggul Arum

BACA JUGA

Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

Ulama Yang Menyebarkan Apem Dalam Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten merupakan tradisi masyarakat sekitar Jatinom Klaten dalam menyambut bulan Sapar dalam penanggalan Jawa/Islam. Tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu oleh Ki Ageng Gribig sebagai salah satu wali penyebar agama Islam di daerah Klaten. Beberapa ton apem disebar ke arah penonton dari atas menara saat puncak perayaan saparan tersebut.

Baca artikel selengkapnya di Perayaan Tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

Ada yang mau menambahkan???

 

Ada 4 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Ferdinand:

    Wah brarti tiap bulan sapar masing2 desa/kecamatan punya tradisi dewe2 tah kang?
    Lha nek tradisi sebaran apem kui, ceritane saling lempar apem (semacem perang) nopo pemangku adat, dan sejenise yg lempar ke warga?

    Mampir dr blog’e kang HB7 :)
    Nggak taunya isinya jalan2 pas wes hahaa

    • admin:

      saparan tergantung daerah tersebut punya tradisi atau tidak..beda sama merti desa loh
      sebaran apem ya apemnya disebar buat rebutan penonton

  2. Ferdinand:

    Ooooo…. lha kalo daerahe kang HB7 ndue tradisi saparan mboten?
    sekitaran bangun tapan kesana hehe…

    • admin:

      tidak ada mas..adanya cuma kenduri desa biasa

Kirim pendapat