Tradisi Saparan dan Sebaran Apem Ki Ageng Wonolelo Sleman

Tradisi Saparan dan Sebaran Apem Ki Ageng Wonolelo Sleman
4 (80%) 3 votes

Tradisi Saparan dan Sebaran Apem Ki Ageng Wonolelo merupakan salah satu upacara adat menyambut bulan Sapar dalam penanggalan Jawa/Islam di sekitar Yogyakarta. Keberadaan upacara adat ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu dan mampu menyedot animo masyarakat untuk turut serta hadir dan mengikuti upacara adat ini. Beberapa hari sebelum upacara adat ini dimulai, telah diselenggarakan pasar malam di dekat lokasi.

Upacara Adat Saparan atau sering disebut Apeman Ki Ageng Wonolelo diselenggarakan di dusun Pondok Wonolelo, desa Widodomartani, kecamatan Ngemplak, kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Prosesi upacara adat saparan diawali dengan pengajian akbar sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama Islam dan diakhiri dengan sebaran apem.

Barisan Prajurit Pembuka Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo Sleman

Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara puncak Saparan Ki Ageng Wonolelo diselenggarakan pada hari jumat setelah selesai diselenggarakan shalat jumat. Acara puncak dimulai dengan kirab prajurit, pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo, gunungan apem, dan peserta lain yang turut memeriahkan upacara adat ini. Memulai start dari halaman Balai Desa Widodomartani, barisan kirab berjalan melewati jalan menuju ke Makam Ki Ageng Wonolelo.

Barisan Wanita Berpakaian Kebaya Dalam Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo Sleman

Di dalam barisan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo tampak beberapa jenis barisan prajurit seperti Bregada Ganggeng Samodra, Bregada Muspika Kecamatan Ngemplak, Bregada Ki Ageng Wonolelo, dan Bregada Ugel-Ugelan. Semua barisan prajurit menggunakan kostum dan aksesoris yang berbeda-beda. Bila diperhatikan ada kemiripan antara barisan prajurit yang dimiliki oleh Kraton Yogyakarta.

Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang linuwih, ia pernah diutus oleh Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram. Iapun berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya.

Barisan Pembawa Gunungan Apem Dalam Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo Sleman

Rute Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo sejauh kurang lebih satu kilometer menuju ke area Makam Ki Ageng Wonolelo. Akhirnya kirab pusaka dan prajurit berakhir disebuah halaman disebelah Makam Ki Ageng Wonolelo. Gunungan Apem ditarik ke atas pohon untuk diamankan dan nantinya akan menjadi rebutan oleh penonton yang hadir pada upacara adat ini.

Pusaka-pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo yang dibawa kirab dibawa memasuki kompleks makam Ki Ageng Wonolelo. Suasana berubah hening ketika barisan ulama menggelar doa bersama di dalam kompleks makam Ki Ageng Wonolelo. Para penonton hanya diperbolehkan berada di luar kompleks makam karena ukuran kompleks makam yang sempit. Beberapa petugas menjaga sekeliling kompleks makam agar penonton tidak memasuki kompleks makam.

Sejarahnya, apem ini dibawa oleh Juru Kunci makam Ki Ageng Gribig dari Jatinom, kepada mertua Kepala Desa Widadamartani, untuk membasmi hama tikus yang menyerang panenan penduduk Pondok Wonolelo. Kue apem tadi dipotong menjadi empat sama besar, disesuaikan dengan jumlah bendungan air yang mengairi tanah persawahan Pondok Wonolelo. Setiap potong apem tadi ditaruh pada masing-masing bendungan air agar tuah apem tadi dapat terbawa oleh aliran air dan menyebar secara merata ke sawah-sawah yang terkena aliran air. Ternyata berkat tuah apem itu hilanglah hama tikus.

Berebut Gunungan Apem Saparan Ki Ageng Wonolelo Sleman

Setelah prosesi doa di Makam Ki Ageng Wonolelo selesai, acara dilanjutkan dengan penurunan gunungan apem Ki Ageng Wonolelo yang sebelumnya dikaitkan diatas pohon. Para penonton langsung lari berhamburan menuju ke arah gunungan apem tersebut. Mereka berebut apem yang ditempelkan pada gunungan tersebut. Tidak sampai satu menit, apem-apem yang berada di dalam gunungan tersebut habis tidak tersisa.

Sebaran Apem Saparan Ki Ageng Wonolelo Dari Atas Menara

Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo belum berakhir karena masih ada 1 ton apem yang siap dibagikan melalui menara yang berada ditengah lapangan. Suara penonton tiba-tiba bergemuruh ketika apem-apem dilemparkan dari atas menara. Apem-apem tersebut dilemparkan oleh panitia yang bertugas diatas menara ke segala penjuru. Para penonton pun kembali berebut untuk mendapatkan apem tersebut. Suasana sebaran apem dari atas menara ini mengingatkan saya kepada Sebaran Apem Ki Ageng Gribig di Jatinom Klaten pada bulan yang sama. Meskipun jumlah penonton tidak sebanyak yang berada di Sebaran Apem Ki Ageng Gribig. Akhirnya 1 ton apem habis dibagi-bagikan dan acara selesai.  (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat