Tradisi Nyadran Makam Sewu Bantul Menjelang Bulan Puasa

Tradisi Nyadran Makam Sewu Bantul merupakan tradisi nyadran atau ziarah ke makam leluhur yang diselenggarakan secara meriah setiap tahun. Tujuan utama penyelenggaraan tradisi ini adalah untuk menghormati wali penyebar agama Islam bernama Panembahan Bodo yang dimakamkan di Kompleks Makam Sewu. Hingga saat ini tradisi yang diselenggarakan di daerah Pandak Bantul masih dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakat setempat.

Tradisi Nyadran Makam Sewu (Wijirejo) diselenggarakan di Kompleks Makam Sewu, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul. Tradisi ini diselenggarakan pada  tanggal 20 bulan Syaban (Ruwah) atau setelahnya sebelum memasuki bulan ramadhan.

Barisan Prajurit Kirab Tradisi Nyadran Makam Sewu Bantul

Tradisi Nyadran Makam Sewu diselenggarakan beberapa hari sebelum memasuki bulan ramadhan. Biasanya diawali dengan pasar malam disepanjang jalan menuju ke area makam. Meskipun tidak ada perubahan dalam penyelenggaraan acara Tradisi Nyadran Makam Sewu, cukup banyak pengunjung yang ingin melihat prosesi ini setiap tahunya.

Untuk menuju ke lokasi perayaan Tradisi Nyadran Makam Sewu diperlukan perjalanan selama satu jam dengan menggunakan kendaraan bermotor. Disarankan membawa kendaraan roda dua karena area parkir lebih dekat dengan Makam Sewu. Saat kami tiba di lokasi, suasana di sekitar Makam Sewu cukup ramai oleh pengunjung yang berasal dari sekitar desa hingga luar daerah. Kami langsung menuju ke halaman kantor Desa Wijirejo untuk melihat proses kirab Tradisi Nyadran Makam Sewu yang dimulai dari tempat tersebut.

Kirab atau Arak-Arakan Gunungan dan Jodang dikawal oleh bregada (kesatuan) prajurit dari dusun di wilayah Kelurahan Wijirejo, yang terdiri atas 10 dusun. Dalam setiap acara nyadran Makam Sewu ada 5 dusun yang dilibatkan, sementara 5 dusun lainnya akan dilibatkan di tahun berikutnya.

Kirab Gunungan Tradisi Nyadran Makam Sewu Bantul

Kirab Tradisi Nyadran Makam Sewu dimulai dari halaman kantor Desa Wijirejo hingga Pendopo Makam Sewu. Di halaman kantor desa Wijirejo telah ramai dengan barisan peserta kirab yang membawa bermacam-macam sesaji mulai dari gunungan buah dan sayuran, jodang atau tandu yang berisi ketan, apem, dan hasil bumi lainnya. Tidak ketinggalan pula barisan prajurit (bregada) desa yang mengawali barisan pembawa sesaji.

Baca Juga  Tradisi Rasulan di Kampung Nusantara Jelok

Kirab pun dimulai dan pengujung pasar malam atau pasar tiban di sepanjang jalan menuju Makam Sewu dipersilakan ke tepi jalan. Kirab ini lumayan panjang karena diikuti oleh puluhan peserta dari beberapa dusun di Desa Wijirejo. Pengunjung cukup antusias melihat kirab Tradisi Nyadran Makam Sewu ini dan mereka cukup rapi berbaris di tepi jalan. Beberapa diantara mereka mengikuti barisan kirab untuk menuju ke Pendopo Makam Sewu.

Jodang adalah semacam tandu yang dipikul oleh empat orang (bisa lebih) yang di dalam tandu tersebut diletakkan semacam kotak. Kotak tersebut berisi makanan atau berbagai hasil bumi. Kotak tersebut pada umumnya dihias sedemikian rupa sehingga bisa membentuk semacam rumah-rumah kecil. Pada zaman dahulu, Jodang digunakan untuk mengantarkan upeti atau makanan kepada penguasa/petinggi (raja, pemimpin masyarakat, dan sebagainya).

Kirab Sesaji Tradisi Nyadran Makam Sewu Bantul

Kirab Tradisi Nyadran Makam Sewu berakhir di Pendopo Makam Sewu dan dilanjutkan dengan acar selanjutnya. Gunungan dan Jodang yang dibawa ditaruh di tengah-tengah ruang Pendopo dan peserta kirab dipersilakan duduk di dalam pendopo secara melingkar. Acara dilanjutkan dengan gema kalam Ilahi, sambutan kepala Desa Wijirejo, sambutan kepala Dinas Pariwisata Bantul, dzikir dan tahlil, kenduri, dan tabur bunga.

Setelah acara selesai barulah gunungan dan jodang diperebutkan oleh pengunjung yang sejak tadi menunggu. Ketan, kolak, apem menjadi sasaran utama para pengunjung karena disediakan wadah kecil untuk membawa makanan tersebut. Selain itu nasi gurih, ingkung, dan sayur juga menjadi sasaran pengunjung dan mereka membawanya dengan daun pisang yang digunakan menjadi alas. Sedangkan kenduri dibawa kembali oleh orang-orang yang ikut dalam prosesi doa di Pendopo Makan Sewu.

Tradisi Nyadran Makam Sewu yang dilakukan oleh masyarakat Wijirejo dan sekitarnya merupakan upacara untuk menghormat para leluhur yang telah meninggal terutama kepada Panembahan Bodo. Panembahan Bodo dipercaya cikal bakal pendiri Desa Wijirejo sehingga sangat dihormati. Panembahan Bodo menurut cerita merupakan tokoh keturunan Majapahit, cicit Prabu Brawijaya V

Pintu Masuk Kompleks Makam Sewu Bantul

Perayaan Tradisi Nyadran Makam Sewu memang sudah berakhir namun arus pengunjung yang akan berziarah ke area Makam Sewu semakin ramai. Mereka datang berbondong-bondong bersama keluarga untuk berziarah dan berdoa di makam leluhur mereka. Menjelang sore merupakan waktu yang pas untuk berziarah ke makam karena sinar matahari sudah tidak terik dan suhu udara sudah mulai turun. Selain itu karena bukan hari libur, beberapa orang baru dapat mengunjungi makam pada sore hari karena dari pagi hingga sore mereka sibuk bekerja.

Baca Juga  Pengrupukan Pura Jagatnatha Banguntapan Bantul

Ziarah Kubur Di Dalam Kompleks Makam Sewu Bantul

Secara umum tidak banyak perubahan yang terjadi pada Tradisi Nyadran Makam Sewu dari tahun ke tahun. Meski kemasan acara terkesan monoton, masyarakat tetap antusias untuk hadir dalam perayaan tradisi ini. Harapan kedepannya, nilai-nilai tradisi khususnya tradisi nyadran harus tetap dipertahankan dan generasi muda harus turut serta dalam upaya pelestarian budaya ditengah arus modernisasi. (text/foto: annosmile)

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Idah Ceris:

    Kalau di desa saya adanya nyekar. Tradisinya sampai ada gunungan gitu ya, Mas. Mirip2 perayaan hari jadi kota.

    Btw, baru dengar ada pasar malam dekat makam. Hiiii merinding.

  2. Amin:

    Dimana-mana masih banyak diklakukan tradisi nyadran yang sebenarnya berguna untuk menyambut puasa agar siap dalam menjalaninya sampai hari idul fitri akan tetapi kadangkala yang mengikuti nyadran melupakan isi maksud nyadran itu sendiri.

  3. Ladona:

    Ssayangnya banyak tradisi yang sudah pudar sekarang

Kirim pendapat