Tradisi Kembul Sewu Dulur Dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

Tradisi Kembul Sewu Dulur dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan merupakan tradisi budaya masyarakat desa Pendoworejo dalam memperingati bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Asal usul tradisi ini kurang jelas namun telah diselenggarakan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Acara tradisi ini berintikan kenduri massal, pementasan kesenian daerah, dan memandikan jaran kepang.

Tradisi Kembul Sewu Dulur dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo diselenggarakan di Bendung Kayangan, desa Pendoworejo, kecamatan Girimulyo, kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Kirab Budaya Di Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

Lokasi Tradisi Kembul Sewu Dulur dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan berada di tempuran atau pertemuan Sungai Kayangan yang dikenal dengan Bendung Kayangan. Rute menuju acara budaya ini dari pusat kota Yogyakarta dimulai dari jalan lurus ke arah barat dari Tugu Yogyakarta. Ikuti jalan lurus hingga melewati Jembatan Sungai Progo dan memasuki wilayah Kulon Progo. Sebelum melewati tanjakan panjang Girimulyo posisi Bendung Kayangan terlihat pada sisi kanan dan ditandai oleh tebing atau bongkahan batu besar.

Persiapan Acara Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

Tradisi Kembul Sewu Dulur dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan diselenggarakan setiap hari rabu terakhir pada bulan Sapar/Safar dalam penanggalan Jawa/Islam. Setiap keluarga yang akan merayakan tradisi ini diwajibkan memasak menu makanan yang terdiri dari bothok lele, panggang mas, dan nasi golong. Semua makanan yang diwajibkan tersebut dimasak tanpa menggunakan garam. Selain itu setiap keluarga dipersilakan memasak menu tambahan seperti olahan sayur dan lauk yang biasa dikonsumsi setiap hari. Tidak ketinggalan ingkung ayam dipersiapkan setiap dusun untuk disajikan kepada sesepuh dan para tamu. Uniknya persiapan menu khusus ini tidak menyertakan sesaji seperti tradisi adat pada umumnya.

Baca Juga  Mie Ayam Lempar Cak Uji, Atraksi Unik Mie Terbang Ketika Merebus Mie

Seluruh masakan yang dipersiapkan untuk Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayanganditata di dalam tenong. Tenong yang dimaksud adalah semacam benjana berbentuk lingkaran dari anyaman bambu yang terdiri dari alas di bawah dan sungkup penutup di atas. Tenong menjadi alat tradisional untuk membawa makanan dan biasanya dijunjung diatas kepala atau diikatkan pada selendang.

Pentas Jaran Kepang Di Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

Acara Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan dimulai menje dengan kirab budaya dari tepi jalan menuju ke arah lokasi acara yang berada di tepi Sungai Kayangan atau Bendung Kayangan. Kirab budaya ini diikuti oleh kelompok kesenian daerah yang akan tampil dalam pementasan acara ini. Rute kirab cukup pendek hanya sejauh 100 meter saja. Seluruh orang yang hadir yang terdiri dari masyarakat setempat, tamu undangan, dan para penonton dipersilakan berkumpul dan duduk bersama beralaskan tikar. Acara dilanjutkan dengan pidato dan doa bersama dipimpin oleh pemuka agama setempat.

Tradisi Memandikan Jaran Kepang Di Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

Upacara adat ngguyang jaran atau tradisi memandikan kuda lumping merupakan acara kelanjutan setelah pementasan kesenian daerah. Upacara adat ini dipimpin oleh sesepuh desa diiringi oleh musik gamelan. Beberapa jaran kepang (kuda lumping) milik kelompok kesenian jatilan setempat dimandikan bergantian di aliran Sungai Kayangan ini.

Makan Bersama Di Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan Kulon Progo

Acara Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan ditutup dengan makan bersama-sama yang dinamakan Kembul Sewu Dulur. Semua orang yang hadir dalam acara tersebut diajak bersama-sama menikmati hidangan yang telah dipersiapan. Seluruh tenong yang dibawa dibuka tutupnya dan semua isinya dikeluarkan untuk dinikmati bersama-sama. Semua orang yang datang bebas memilih makanan dan memilih tenong milik siapapun. Ingkung ayam yang dipersiapkan khusus pun akhirnya dibagi-bagikan secara merata. Makan bersama ini menghilangkan sekat dan derajat diantara masing-masing orang. Semua orang dianggap setara tidak ada yang direndahkan maupun ditinggikan.

Baca Juga  Grebeg Maulud Di Pakualaman Yogyakarta

Tradisi Kembul Sewu Dulur tidak ada yang namanya rebutan atau rayahan seperti beberapa tradisi yang lain. Makanan yang tersisa tidak dibuang namun kembali dibungkus untuk dibawa pulang. Setelah acara makan bersama selesai, satu demi satu pengunjung dan masyarakat yang hadir mulai meninggalkan lokasi untuk menuju rumahnya masing-masing. Secara keseluruhan Tradisi Kembul Sewu Dulur dan Saparan Rabu Pungkasan Bendung Kayangan dapat menjadi daya tarik wisata budaya dan menjadi agenda budaya tahunan kabupaten Kulon Progo. (text/foto: annosmile)

AGENDA

Tahun 2016: –

Tahun 2015: 8 Desember 2015

Tahun 2014: 1 Januari 2014

Kirim pendapat