Telaga Dringo Atau Sidlingo Dieng, Dualisme Nama Danau Dan Kemilikan Kawasan

Telaga Dringo Atau Sidlingo Dieng, Dualisme Nama Danau Dan Kemilikan Kawasan
3.1 (62.22%) 9 votes

Telaga Dringo Atau Sidlingo merupakan salah satu danau yang terbentuk dari bekas kawah di dalam kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kondisinya masih cukup alami karena belum dikembangkan sebagai obyek wisata dan sulitnya akses menuju tempat ini. Beberapa orang berpendapat bahwa Telaga Dringo ini mampu disejajarkan dengan Ranu Kumbolo sehingga sering disebut dengan Ranu Kumbolo KW.

Telaga Dringo atau Sidlingo berada di perbatasan antara desa Mojotengah, kecamatan Reban, kabupaten Batang dengan desa Pekasiran, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Secara geografis Telaga Dringo berada di salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng.

Kondisi Air Telaga Dringo Dieng Sedang Surut

Lokasi Telaga Dringo atau Sidlingo Dieng berada di dalam kawasan Dataran Tinggi Dieng yang menjadi perbatasan antara dua kabupaten yaitu kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Batang. Akses untuk menuju Telaga Dringo atau Sidlingo Dieng masih cukup sulit dibandingkan wisata telaga (danau) lainnya di Dataran Tinggi Dieng. Ada dua jalur menuju ke Telaga Dringo yaitu dari kecamatan Batur kabupaten Banjarnegara dan kecamatan Reban kabupaten Batang. Jalur dari kabupaten Banjarnegara relatif lebih dekat ketimbang melewati jalur dari kabupaten Batang. Namun jalan menuju Telaga Dringo dari kabupaten Batang kondisinya sudah cukup baik karena telah dilakukan pembangunan jalan permanen oleh pemerintah daerah setempat.

Telaga Dringo atau Sidlingo terbentuk dari bekas letusan kawah yang meletus pada tahun 1786. Hal ini diperkuat dengan bentuk cekungan yang terlihat dari salah satu bukit yang mengelilinginya. Nama Dringo berasal dari nama tanaman Dringo yang tumbuh secara liar dan tidak dibudidayakan di sekitar kawasan telaga tersebut.

Pantulan Bukit Di Telaga Dringo Dieng

Memilih jalur menuju ke Telaga Dringo atau Sidlingo Dieng dari kabupaten Batang merupakan tantangan tersendiri. Jalur ini merupakan jalur favorit bagi para penjelajah dengan kendaraan offroad. Medan jalan yang dilalui cukup menantang karena kondisi jalan masih berupa jalan tanah berbatu (jalan makadam) dan beberapa tanjakan cukup curam dan tajam. Tida heran bila para pengguna kendaraan offroad sering melintasi jalur ini pada akhir pekan. Kendaraan biasa atau non offroad pun dapat melalui jalur dari kabupaten Batang ini. Hanya saja kondisi kendaraan harus benar-benar prima dan dikendalikan oleh pengemudi yang handal.

Berkemah Di Telaga Dringo Dieng

Telaga Dringo atau Sidlingo Dieng bisa dikatakan mirip seperti Ranu Kumbolo yang berada di lereng Gunung Semeru Jawa Timur. Tidak heran bila banyak yang menyebut Telaga Dringo ini sebagai Ranu Kumbolo KW 2 atau Ranu Kumbolonya Dieng. Seperti yang kita tahu bahwa Ranu Kumbolo KW 1 adalah Danau atau Telaga Ngebel Ponorogo. Hal yang mungkin menjadi kesamaan antara kedua tempat tersebut adalah bentuk danau yang bulat dikelilingi oleh perbukitan dan sangat cocok digunakan untuk menikmati panorama matahari terbit atau sering disebut sunrise.

Kondisi air pada Telaga Dringo atau Sidlingo masih terlihat alami dan belum tercemar. Air Telaga Dringo berasal dari sumber mata air yang bermunculan dari dasar danau dan aliran air hujan yang mengarah ke danau tersebut. Ikan-ikan liar yang hidup di danau atau telaga tersebut cukup melimpah dan kadang muncul ke permukaan telaga. Tidak diketahui asal-usul ikan tersebut apakah pernah ada yang melepas bibit di danau ini. Sepertinya menarik untuk dipancing namun hal tersebut sebenarnya dilarang karena dapat menganggu kelestarian alam.

Telaga Dringo atau Sidlingo Dieng mulai ramai dan menjadi salah satu lokasi favorit berkemah (camping) sejak awal tahun 2015. Daya tariknya yang mirip dengan Ranu Kumbolo membuat sebagian petualang memilih tempat ini dan tidak perlu jauh-jauh pergi ke Gunung Semeru. Setiap akhir pekan tampak beberapa tenda wisatawan terpasang di tepi telaga.

Pepohonan Di Telaga Dringo Dieng

Polemik awal yang muncul dari kawasan Telaga Dringo atau Sidlingo Dieng adalah penggunaan air telaga untuk mengairi lahan pertanian kentang warga. Pertanian atau ladang tanaman kentang sangat membutuhkan banyak air untuk meningkatkan produksi sekaligus pertumbuhan tanaman. Kondisi semacam ini sebenarnya dilarang karena dapat mengancam kelestarian air dan juga kelestarian alam. Aktivitas pengambilan air pada Telaga Dringo dilakukan pada musim kemarau dengan menggunakan pipa-pipa berukuran besar dengan panjang beberapa ratus meter. Dikhawatirkan makin lama ketersediaan air Telaga Dringo akan asat atau mengering.

Sumber mata air yang ada disekitar Telaga Dringo atau Sidlingo Dieng memiliki debit yang kecil dan berada di dasar telaga. Debit air yang kecil atau rendah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kondisi telaga yang penuh air seperti semua. Selain itu ancaman pendangkalan telaga juga turut memperparah kondisi ini akibat gundulnya hutan yang mengelilingi kawasan telaga. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah setempat dan segera melakukan sosialisasi sebelum terlambat.

Annosmile Di Telaga Dringo Dieng

Kepemilikan kawasan Telaga Dringo atau Sidlingo masih belum jelas karena disekitar telaga tidak ditemukan adanya tapal batas antara kabupaten Banjarnegara dengan kabupaten Batang. Bisa dikatakan bahwa Telaga Dringo merupakan batas antara dua kabupaten tersebut dan keduanya memiliki hak atas pengelolaan kawasan tersebut. Perlu segera dilakukan pembahasan pengembangan wisata Telaga Dringo atau Sidlingo agar tidak ada pihak yang dirugikan.

Penentuan nama telaga pun penting karena banyak wisatawan yang bingung dan beberapa menganggap bahwa Telaga Dringo dengan Telaga Sidlingo merupakan tempat yang berbeda. Informasi yang berkembang di masyarakat dan wisatawan bahwa nama Telaga Dringo digunakan untuk penamaan telaga yang berada di wilayah kabupaten Banjarnegara sedangkan nama Telaga Sidlingo merupakan telaga yang berada di kabupaten Batang. Padahal sebenarnya Telaga Dringo dengan Telaga Sidlingo merupakan satu tempat atau satu lokasi. Hal-hal tersebut harusnya segera diluruskan agar tidak membuat polemik pada saat pengembangan wisata kawasan Telaga Dringo atau Sidlingo nantinya. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat