Telaga Cebong Dieng, Wisata Pelengkap Bukit Sikunir

Telaga Cebong Dieng, Wisata Pelengkap Bukit Sikunir
2.5 (50%) 2 votes

Telaga Cebong merupakan salah satu danau atau telaga yang terbentuk karena proses alam di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Keberadaannya mulai dikembangkan menjadi wisata pelengkap bagi wisatawan yang berkunjung ke Puncak Bukit Sikunir yang menawarkan pesona sunrise terbaik. Sama seperti danau atau telaga lain yang ditemukan di Dataran Tinggi Dieng, telaga Cebong terbentuk dari bekas kawah purba yang mati jutaan tahun lalu.

Telaga Cebong terletak di desa Sembungan, kecamatan Kejajar, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Pemandangan Telaga Cebong Dieng

Lokasi Telaga Cebong berada di tepi area parkir kendaraan dan jalur pendakian menuju Puncak Bukit Sikunir Dieng. Rute menuju telaga ini dari Kompleks Candi Arjuna ke arah Desa Sembungan melewati depan Telaga Warna Dieng. saat menemui pertigaan kecil ambil jalan ke kiri menuju ke arah Sembungan/Dieng Theatre. Selanjutnya ada pertigaan lagi pilih jalan lurus ke arah Sembungan/Sikunir melewati area pemukiman penduduk hingga tiba area parkir telaga yang menjadi pintu masuk pendakian Puncak Sikunir.

Telaga Cebong Dieng pada awalnya memiliki luas sekitar 18 hektar (ha) namun saat ini menyusut hingga tersisa 18 hektar saja. Ada beberapa versi mengenai penamaan Telaga Cebong, pertama nama Cebong berasal dari bentuk telaga menyerupa bentuk cebong/kecebong/berudu bila dilihat dari atas/ketinggian. Versi kedua pada zaman dahulu menurut penduduk sekitar banyak terdapat katak yang hidup secara liar sehingga diberinama Cebong atau anak dari katak dalam bahasa Jawa. Hal yang menarik dari telaga ini adalah airnya terlihat jernih dan memantulkan bayangan layaknya cermin kaca.

Sejarah yang tercatat pada Telaga Cebong, sekitar sepuluh tahun yang lalu telaga ini pernah dilakukan proyek perluasan dan pembersihan dengan pengerukan menggunakan alat berat untuk memperluas sisi-sisi telaga yang sudah tersedimentasi dan tumbuh gambut disekitarnya. Pada proses ini ditemukan juga kayu-kayu purba dengan ukuran sangat besar didalamnya yang seharusnya dapat dijadikan bahan kajian dan pembelajaran bagi generasi sekarang. Namun keserakahan pemborong proyek, kayu purba tersebut dipotong-potong untuk dijual sebagai kayu bakar. Padahal jenis kayu ini cukup langka untuk sekitar kawasan Dieng dengan ciri-ciri warnanya hitam, kerasnya luar biasa, dan beratnya mirip besi. Selanjutnya pada tahun 2008 ada bencana alam berupa gas beracun keluar dari dasar danau dan banyak ikan mati mengambang di permukaan danau. Selain itu masih banyak hal mengenai Telaga Cebong yang lepas dari pengamatan dan tidak tercatat dalam sejarah. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat