Tradisi Unik Takjil Bubur Sayur Di Masjid Sabilurrosyad Bantul

Takjil bubur sayur merupakan hidangan makanan yang rutin disajikan untuk berbuka puasa di Masjid Sabilurrosyad Bantul. Tradisi takjil ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan tetap dipelihara hingga saat ini. Panembahan Bodho sebagai penyiar agama Islam disebut-sebut sebagai orang yang mencetuskan hidangan bubur untuk berbuka puasa ini.

Tradisi bubur sayur untuk takjil berbuka puasa di Masjid Sabilurrosyad Pandak Bantul merupakan peninggalan Panembahan Bodho pada abad ke 15. Panembahan Bodho merupakan salah satu penyebar agama Islam di wilayah Bantul dan di makamkan di Kompleks Makam Sewu.

Papan Nama Masjid Sabilurrosyad Bantul

Setiap hari pada bulan puasa atau ramadhan, juru masak Masjid Sabilurrosyad Bantul yang dipilih secara turun temurun mempersiapkan hidangan bubur untuk berbuka puasa. Dalam satu kali memasak bubur diperlukan sekitar 4.5 kilogram beras. Khususnya pada hari jumat jumlah porsi memasak bubur meningkat dua kali lipat karena hari jumat merupakan hari besar dan banyak warga berdatangan ke masjid untuk menikmati hidangan takjil bubur.

Memasak Bubur Sayur Di Masjid Sabilurrosyad Bantul

Proses memasak bubur sayur dimulai setelah waktu dzuhur atau sekitar pukul 14.00 WIB. Lokasi memasak bubur dilakukan di samping bangunan Masjid Sabilurrosyad Bantul oleh juru masak dibantu beberapa warga secara bergantian. Hidangan yang pertama kali dimasak adalah bubur nasi kemudian dilanjutkan beberapa buah sayur sebagai lauk sajian bubur. Sayur lodeh, bihun goreng, dan sambal krecek merupakan salah satu hidangan sayur yang sering dimasak oleh para juru masak. Setiap hari menu sayur berganti-ganti sebagai variasi dan agar jamaah tidak bosan.

Ditinjau dari segi kesehatan, makanan bubur sangat baik dimakan saat buka puasa karena sifatnya yang halus dan mudah dicerna sehingga perut lapar tidak akan kaget saat menampung makanan.

Mempersiapkan Hidangan Bubur Sayur Untuk Berbuka Puasa Di Masjid Sabilurrosyad Bantul

Selepas waktu Ashar atau sekitar pukul 15.00, kegiatan memasak para juru masak dibantu beberapa orang warga telah selesai dan hidangan telah masak. Selanjutnya para juru masak beserta warga sekitar mulai menyajian hidangan bubur pada piring-piring kecil yang sebelumnya telah dipersiapkan. Bubur nasi diletakkan pada dasar piring kemudian sayur diletakkan pada bagian atasnya. Selanjutnya bubur yang telah disajikan diletakkan diatas meja kayu dan disusun berjajar.

Ditinjau dari segi filosofi bubur memiliki banyak makna diantaranya : Pertama Bibirrin, artinya di Masjid adalah sebagai sumber dan pusat kebaikan. Kedua Beber, artinya menjelaskan tentang agama Islam secara gamblang yang saat itu disampaikan Panembahan Bodho. Termasuk pada zaman dahulu makanan juga dijadikan sebagai sarana dakwah. Ketiga Babar, artinya ajaran Islam harus bisa mengena dan bisa diterima semua lapisan masyarakat. Terlebih, kata Hariyadi, Panembahan Bodho yang juga murid Sunan Kalijaga itu juga menjadi ulama yang menyebarkan agama Islam di wilayah selatan Jawa. Keempat Bubur, artinya melebur yang dimaksudkan bahwa ajaran Islam harus dapat melebur dalam jiwa setiap pemeluknya.

Bubur Sayur Hidangan Berbuka Puasa Masjid Sabilurrosyad Bantul

Menjelang adzan Maghrib, bubur sayur yang telah tersaji di dalam piring kecil bersama teh manis hangat dihantarkan ke dalam serambi Masjid Sabilurrosyad Bantul untuk dibagikan kepada para jamaah sebagai hidangan berbuka puasa. Jamaah yang datang didominasi oleh anak-anak remaja. Namun tidak sedikit para orang tua yang datang ke masjid untuk mencari takjil. Jamaah yang hadir di Masjid Sabilurrosyad Bantul terlihat lahap menikmati sajian bubur sayur tersebut.

Baca Juga  Tradisi Grebeg Bebek Sukomarto, Tradisi Menyambut Bulan Maulud DI Temanggung

Jamaah Masjid Sabilurrosyad Bantul

Tradisi takjil atau hidangan berbuka puasa dengan bubur sayur di Masjid Sabilurrosyad Bantul tetap dipertahankan oleh masyarakat sekitar. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap Panembahan Bodho yang menyiarkan agama Islam di kawasan ini. Dari tahun ke tahun, jamaah yang mencari takjil di masjid ini selalu meningkat dan bertambah banyak karena hidangan berbuka puasa berbeda dibandingkan di tempat ini.

Kebutuhan beras, sayur, dan kayu pengapian untuk memasak bubur serta sayur berasal dari sumbangan masyarakat sekitar. Ada yang menyumbang dengan wujud beras, sayur, dan bahan makanan serta ada pula yang menyumbang dalam wujud uang. Tidak sedikit jamaah dari luar desa atau wilayah yang turut menyumbang penyelenggaraan takjil bubur sayur ini. (text/foto: annosmile)

PETA

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. lamaran kerja:

    mantep bener…. pasti nikmat nih, apalagi gratis… hehe :D

  2. Wasiun Mika:

    Saya beberapa kali melihat informasi ini di televisi setiap bulan Ramadhan, membaca artikel anda serasa saya berada di sana dan turut menikmati bubur dan suasananya, terima kasih atas artikel yang informatif ini, salam suksses.

    • admin:

      Hi Wasiun Mika,
      Silakan cobanikmati sajian bubur sayur unik ini :-)

Balas pendapat dari lamaran kerja