Sudut Pandang Kebiasaan Minum Kopi dan Nyethe di Tulungagung

Sudut Pandang Kebiasaan Minum Kopi dan Nyethe di Tulungagung
5 (100%) 1 vote

Meminum kopi sepertinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang tinggal di Jawa Timur tidak terkecuali daerah Tulungagung. Kebiasaan masyarakat Tulungagung meminum kopi dilakukan hampir disetiap waktu, entah pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan malam hari. Konon kebiasaan ini telah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan tidak diketahui siapa yang memulainya terlebih dahulu. Sampai saat ini kebiasaan meminum kopi telah menjadi bagian dari kehidupan seluruh masyarakat Tulungagung.

Suasana Warung Kopi Cak Yun Tulungagung

Adanya kebiasaan meminum kopi memberikan angin segar bagi munculnya warung-warung kopi di seluruh menjuru wilayah Tulungagung. Hampir setiap jalan-jalan perkotaan dan pedesaan sering ditemui penjual warung kopi. Bahkan ada desa di wilayah Tulungagung dimana hampir seluruh tepi jalannya banyak dibuka warung kopi. Salah satu desa tersebut bernama desa Bolorejo dan kami pernah menyempatkan diri untuk menikmati kopi di Warung Kopi Ijo Pak Yun yang berada di desa tersebut.

Keberadaan warung Kopi Pak Yun adalah salah satu dari sekian banyak warung kopi yang dibuka di desa Bolorejo. Sebagian besar warung kopi yang ada buka mulai sore hari hingga malam hari dan beberapa diantaranya buka sejak pagi hari. Lokasinya cukup strategis karena berada di kawasan pedesaan yang tidak jauh dari pusat kota sehingga pengunjung pun bermacam-macam tidak hanya dari kawasan sekitar desa saja. Sebenarnya Desa Bolorejo cukup berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata khusus untuk menikmati sajikan kopi khas Tulungagung meskipun keberadaannya belum mendapat perhatian pemerintah setempat.

Secangkir Kopi Ijo Tulungagung Warung Kopi Cak Yun

Sebagian besar warung kopi yang dibuka merupakan warung kopi yang menyajikan minuman kopi dengan harga murah dan enak. Minuman kopi yang diminta bukan sembarang kopi seduhan atau kopi instan (kemasan) melainkan kopi asli lokal yang berasal dari daerah sekitar dengan campuran kacang hijau yang sering disebut dengan kopi ijo. Dengan uang sekitar Rp1000,- hingga Rp1.500,- kita sudah mendapatkan secangkir kopi ijo dengn rasa yang enak. Sangat murah dibandingkan saat kita membeli kopi di daerah perkotaan yang secangkir harganya hingga 10 bahkan 20 kali lipatnya. Di Tulungagung sendiri, secangkir kopi dengan harga mahal tidak akan laku meskipun masyarakat cukup mampu untuk membelinya.

Harga secangkir kopi yang sangat murah itu sempat membuat kami sangsi dengan rasa dan kualitas kopi yang diberikan. Namun perlahan-lahan sirna ketika menikmati secangkir kopi tersebut dan percaya dengan citarasa khas kopi ijo yang cukup memberikan sensasi rasa sendiri. Sedikit berbincang-bincang akhirnya diketahui bahwa bahan pembuat kopi ijo yang merupakan kopi lokal harganya cukup murah karena langsung dibeli dari petani kopi. Meskipun bukan merupakan kopi dengan kualitas terbaik, proses pengolahan kopi ijo yang unik tetap akan menghasilkan rasa kopi ijo yang menarik.

Menyaring Ampas Kopi

Kesukaan masyarakat Tulungagung terhadap kopi lokal atau kopi ijo membuat kopi-kopi kemasan atau kopi instan kurang laku dijual di daerah Tulungagung. Bila diperhatikan di warung kopi ataupun warung makan jarang ditemui kopi kemasan atau kopi instan. Rasa aneh, kurang enak, dan tidak terbiasa sepertinya menjadi alasan sebagai masyarakat Tulungagung untuk tidak meminum kopi kemasan dan lebih memilih kopi lokal atau kopi ijo. Kami pun mengakui bahwa meminum kopi instan memang bukan cara menikmati kopi yang sebenarnya.

Biasanya masyarakat Tulungagung menikmati kopi sambil melakukan kegiatan ‘nyethe’. Nyethe (nyete) adalah istilah untuk menyebut seni menggambar motif atau membatik pada permukaan rokok dengan menggunakan ampas kopi. Ampas kopi yang digunakan untuk memberi motif pada batangan rokok itu sendiri disebut ”cethe“. Tidak diketahui sejarah dan asal-usul munculnya budaya nyethe ini. Menurut beberapa orang tua yang kami temui budaya nyethe ini telah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan meskipun tidak seperti sekarang.

Nyete

Pada mulanya tujuan nyethe adalah menambah rasa pada batang rokok yang akan dihisap disamping menambah aroma dan lebih awet. Kegiatan semacam ini disukai oleh masyarakat sekitar Tulungagung Namun saat ini berkembang dengan diadakannya perlombaan atau kontes menggambar motif pada sebatang rokok yang diselenggarakan setiap tahun. Tidak heran bila banyak produsen rokok memasang iklan rokok di warung-warung kopi di sekitar Tulungagung.

Kegiatan minum kopi dan nyethe berulang kali kami lakukan saat berkunjung di Tulungagung. Cukup menarik memang sambil meminum kopi, kita mencoba membuat motif pada permukaan batang rokok. Meski akhirnya yang kami lakukan bukan menggambar motif namun sekedar memoles ampas kopi pada permukaan rokok, kami cukup puas melakukannya. Budaya ini tentu saja positif karena selain menjalin persahabatan juga melatih kreativitas dalam seni menggambar pada media rokok. Sebagai salah satu khasanah budaya negeri yang perlu dilestarikan, ngopi dan nyethe adalah wajib ketika berkunjung ke Tulungagung. (text/foto: annosmile)

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Mas Jun:

    aku pernah denger dari temen yg keliling ngopi, katanya di sana budaya ngopi sudah dikenalkan kepada anak2nya. sebelum sekolah mereka mampir ke warung kopi, lalu selepas pulang sekolah pas njemput anaknya, mereka mampir lagi.. ndak heran sih, budaya ngopi kuat banget di daerah jawa timur, khususnya Tulungagung.

  2. paidi:

    ada jg kopi pangkon. semacam kopi remang remangnya disana. “ngopi sisan ples pangkon bakule”

  3. jarwadi:

    wainiii, jalan jalan kamu makin luar biasa, kakak ketua :)

Kirim pendapat