Bekas Stasiun Winongo Bantul, Beralih Fungsi Menjadi Ruang Karang Taruna Warga

Bekas Stasiun Winongo Bantul, Beralih Fungsi Menjadi Ruang Karang Taruna Warga
Rate this post

Bekas Stasiun Winongo merupakan stasiun selanjutnya setelah Stasiun Dongkelan dalam menyusuri sisa-sisa jalur kereta api non aktif Yogyakarta – Palbapang Bantul. Letask stasiun ini cukup tersembunyi karena berada di tengah-tengah perkampungan dan dekat dengan aliran sungai Winongo. Saat ini bekas Stasiun Winongo digunakan untuk ruang serbaguna masyarakat sekitar.

Bekas Stasiun Winongo terletak di Desa Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Bekas stasiun ini pernah menjadi tempat tinggal keluarga Atmopawiro.

Bangunan Bekas Stasiun Winongo Bantul Dari Tepi Rel

Melihat beberapa bekas potongan rel kereta api, terdapat beberapa sambungan rel yang berfungsi untuk memecah jalur rel menjadi dua bagian. Kami memperkirakan bahwa di dekat kawasan ini terdapat stasiun. Kami mencoba memperhatikan sekeliling area tempat kami menemukan potongan rel kereta api namun kami belum menemukan bangunan yang kami maksudkan.

Perjalanan kembali kami lanjutkan menuju ke arah selatan kembali menelusuri bekas jalur kereta api sesuai perkiraan kami. Akhirnya kami menemukan lokasi bekas stasiun kereta api yang kami maksudkan. Bekas stasiun yang bernama stasiun Winongo ini masih berdiri kokoh di tepi jalan walaupun kondisinya tidak sebaik bekas stasiun-stasiun yang kami temui sebelumnya.

Kondisi Bangunan Depan Bekas Stasiun Winongo Bantul

Melihat bangunan bekas stasiun Winongo serasa jauh jauh dari kesan terawat. Cat dinding bangunan sudah pudar dan mengelupas. Beberapa bagian sudah terlihat bekas tambalan-tambalan dari semen. Sepertinya bangunan bekas stasiun Winongo ini sama sekali belum dipugar oleh PT Kereta Api Indonesia ataupun pemerintah daerah setempat. Hanya tersisa satu buat tiang komunikasi di tepi bekas bangunan stasiun dan tidak ditemukan sisa-sisa potongan rel kereta api.

Potongan Sambungan Rel di Dekat Stasiun Winongo Bantul

Akhirnya kami menemui penduduk yang tinggal disamping bangunan bekas stasiun. Beliau mengatakan bahwa pada zaman dahulu, bangunan bekas stasiun Winongo ini pernah menjadi tempat tinggal keluarganya. Ditunjukkan label nama keluarga Atmopawiro yang tertempel di bangunan bekas stasiun. Namun akhirnya beliau pindah dan membangun rumah di sampingnya atau di sebelah selatan bekas bangunan stasiun. Walaupun telah tinggal di rumah sendiri, beliau rutin membersihkan bekas bangunan stasiun dan menjaganya.

Diceritakan pula bahwa bangunan bekas stasiun Winongo pernah mengalami kerusakan parah akibat bencana Gempa Bantul beberapa tahun yang lalu. Kemudian masyarakat sekitar berinisiatif memperbaiki bangunan namun mengubah letak pintu yang harusnya menghadap ke barat diubah menghadap selatan. Saat ini bangunan bekas stasiun Winongo ini dimanfaatkan untuk ruang kegiatan karang taruna masyarakat setempat.

Posisi bekas stasiun Winongo yang berada di kawasan perkampungan pedesaan sepertinya lepas dari perhatian pemerintah untuk melestarikan cagar budaya ini. Peran serta masyarakat dalam pemeliharaan cagar budaya sangat penting guna menyelamatkan sisa-sisa sejarah masa lampau. Harapannya pemerintah segera merespon untuk segera merenovasi bangunan bekas stasiun Winongo untuk dikembalikan ke bentuk semula. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju selatan yang akhirnya tembus ke jalan utama penghubung kota Yogyakarta dengan kota Bantul. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat