Situs Petilasan Kraton Mataram Kartasura Merana

Situs Petilasan Kraton Mataram Kartasura Merana
2 (40%) 1 vote

Tidak banyak yang tahu bahwa di daerah Kartasura yang merupakan salah satu kecamatan di Sukoharjo dulunya merupakan Kerajaan Mataram Islam yang dikenal dengan sebutan Kraton Mataram Kartasura karena terletak di Kartasura. Daerah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam setelah terjadi pemindahan pusat pemerintahan dari Kraton Mataram Pleret.

Kraton Mataram Kartasura dibangun oleh Sunan Amangkurat II atau Sunan Amangkurat Amral (1677-1703) dengan suatu pertimbangan bahwa Kraton Mataram Pleret sudah pernah diduduki musuh (Trunajaya). Kraton yang pernah diduduki musuh dalam pandangan masyarakat Jawa dianggap sudah ternoda atau kehilangan kesakralannya. Untuk itu jika raja hendak menduduki tahtanya kembali diusahakan untuk membangun kraton yang baru. Pilihan atas Hutan Wanakerta untuk dijadikan lokasi keraton yang baru didasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi ini tidak jauh dari Pajang, Mataram maupun Pengging.

Papan informasi petunjuk ke Situs Petilasan Kraton Mataram Kartasura cukup minim walaupun ketika mendekati kawasan tersebut disambut dengan gapura yang bertuliskan nama Petilasan Kraton Kartasura. Perjalanan melewati dinding benteng kraton yang terbuat dari susunan bata yang terletak di tepi jalan yang memiliki ketinggian sekitar 3 sampai 4 meter. Kondisi dinding benteng tersebut kurang terawat karena banyak bagian susunan bata yang terlepas dari susunannya dan tidak diperbaiki.

Rasa penasaran tetap hinggap di pikiran saya ketika saya mencoba mencari jalan masuk ke bagian dalam Benteng Kraton Kartasura itu. ketika tiba disebuah jalan masuk yang di depannya terdapat papan nama situs, saya sempat ragu karena di dalamnya terlihat beberapa bangunan rumah penduduk dan tidak terlihat keberadaan bangunan peninggalan kraton. Saya sempat heran mengapa di dalam kompleks situs bersejarah terdapat bangunan tempat tinggal penduduk yang dibangun secara permanen.

Dalam mitos nama Kartasura berasal dari sebuah cerita tentang nenek Sunan Amangkurat II yang pernah bermimpi tentang cucunya ketika menginap di Butuh. Dalam mimpi itu diceritakan cucunya akan menjadi raja dengan kedudukan pada sebuah hutan di sebelah barat Butuh yang dinamakan hutan Wonokerto.

Akhirnya saya mencoba menyusuri jalan masuk tersebut dan melewati beberapa rumah yang beberapa diantaranya berupa bangunan baru. Ketika tiba di ujung jalan tidak terlihat keberadaan bangunan situs Kraton Mataram Kartasura dan saya menduga bahwa bangunan Kraton Kartusura telah lenyap hanya tersisa benteng kraton yang dibangun mengelilingi kraton. Di dalam area benteng Kraton Mataram Kartasura, saya hanya menemui Masjid Istana Kraton Kartasura, beberapa rumah penduduk, dan disebelahnya berupa pemakaman umum.

Saya mencoba bertanya kepada juru kunci makam perihal keberadaan Kraton Mataram Kartasura dan akhirnya ditunjukkan pada sebuah pohon beringin raksasa yang terletak di ujung makam. Perjalanan menuju ke area pohon beringin melewati beberapa kompleks makam. Ketika tiba di area pohon beringin, saya hanya menemukan sebuah dua batu yang ditaruh diatas sebuah lantai yang disemen yang berukuran kurang dari 4 x 4 meter.

Kraton Mataram Kartosura ini tidak berumur panjang, sama seperti Kraton -Kraton Mataram sebelumnya. Dalam kurun waktu tahun 1680-1745 digunakan sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Mataram Islam kemudian dimpindah ke Kraton Surakarta. Saat ini, Kedaton atau bangunan istana bekas Kraton Kartasura ini kini hanya ditandai dengan dua buah batu besar di bawah pohon beringin raksasa.

Keberadaan dua buah batu besar tersebut bukan merupakan peninggalan Kraton Mataram Kartasura melainkan hanya sebuah penanda lokasi. Saya tidak langsung percaya begitu saja mengenai keberadaan batu besar yang dipercaya dahulu merupakan lokasi bangunan inti Kraton Mataram Kartasura karena tidak ditemukan bukti-bukti kuat lainnya. Bukti yang menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah lokasi bangunan inti kraton salah satunya berupa penemuan umpak atau batu tiang penyangga bangunan kraton seperti yang ditemukan di Kraton Mataram Pleret.

Namun informasi yang minim membuat saya tidak mengetahui informasi yang sebenarnya mengenai kebenaran tata letak bangunan istana Kraton Mataram Kartasura. Kondisi kawasan di dalam Benteng Kraton Kartasura yang sudah berubah menjadi kompleks pemakaman umum menambah tingkat kesulitan untuk meneliti lebih jauh sisa-sisa Kraton Kartasura.

Lebih-lebih lagi keberadaan inti bangunan Kraton Kartasura yang ditunjukkan dengan dua batu besar tersebut dikaitkan dengan mistis yang konon sisa-sisa bangunan kraton masih terlihat jelas dengan kasat mata. Sehingga pengunjung kawasan ini sebagian besar berupa peziarah yang mencari wangsit atau berkah bukan mencoba menelusuri sejarah Kerajaan Mataram Islam di Indonesia.

Sebuah lubang menganga pada benteng Kraton Kartasura konon diakibatkan oleh pemberontakan Sunan Kuning (Mas Garendi) yang dikenal dengan peristiwa Geger Pacinan.

Merana memang, area yang tidak digunakan sebagai kawasan pemakaman menjadi area yang ditumbuhi oleh rumput-rumput liat yang tingginya lebih dari setengah meter. Bahkan dinding Benteng Kraton Kartasura hampir tertutup oleh lebatnya rumput liar tersebut. Saya mencoba berjalan mendekati dinding benteng dengan perasaan takut saat melewati semak-semak rumput. Bukan karena takut dengan penunggu halus yang tinggal di kawasan tersebut, melainkan apabila tiba-tiba saja menginjak ular atau sarang ular yang mungkin ada diantara rerimbunan rumput tersebut.

Di salah satu bagian Benteng Kraton Kartasura yang terletak di sebelah utara tersebut terdapat sebuah lubang di tembok yang telah ditutup. Konon lubang tersebut dibuat ketika terjadi perang yang dikenal dengan sebutan Geger Pacinan. Disebelah luar dinding benteng tersebut konon merupakan alun-alun Kraton Kartasura yang sekarang sudah menjadi pemukiman dan jalan umum.

Perancangan pembuatan kedaton ini dilaksanakan oleh Patih Nerangkusuma selaku Patih Sunan Amangkurat Amral. Sedangkan pemilihan lokasinya dilakukan oleh Adipai Urawan selaku tokoh tua dan dihormati di Mataram. Sunan Amangkurat Amral meminta kepada Nerangkusuma agar meniru pola Kedaton Pleret. Kedaton Kartasura ini selesai dibuat dalam waktu tujuh bulan, sekalipun belum sempurna. Bentengnya relatif luas dan tebal. Benteng ini dibuat dari gundukan tanah keliling dengan papan di bagian luar dan di dalamnya sebagai penyangga agar tidak runtuh.

Selanjutnya saya mencoba mengelilingi kawasan Situs Kraton Kartasura dan saya tidak menemukan hal-hal yang menarik berkaitan dengan Sejarah Kerajaan Mataram Islam ini. Ketika melewati salah satu area pemakaman, saya melihat beberapa makam kerabat Kraton Surakarta yang dimakamkan di area Situs Kraton Kartasura ini. Entah saya kurang paham mengapa dan sejak kapan situs ini berubah menjadi area pemakaman dan asal mula keberadaan makam di situs bersejarah ini.

Sejarah menuliskan pada tanggal 11 September 1680 Sunan Amangkurat II memasuki istana yang baru di Wanakerta ini bersama dengan Jacob Couper selaku wakil pemerintah Kompeni (VOC) . Tiba di istana Sunan Amangkurat II kemudian duduk di Bangsal Pangrawit yang telaknya berada di tengah pagelaran dihadap kerabat dan abdi-abdinya. Lebih kurang 23 tahun Sunan Amangkurat II menikmati kekuasaannya di Keraton Kartasura kemudian memindahkan kekuasaan ke Kraton Surakarta setelah peristiwa Geger Pacinan.

Selain benteng yang mengelilingi bangunan kraton Kartasura, masih ada sisa-sisa benteng terluar yang terletak di sebelah barat kawasan Situs Kraton Kartasura yang dinamakan Benteng Baluwerti Kraton Kartasura. Kondisinya lebih parah karena hanya tersisa tinggi bangunan benteng sekitar satu meter dengan kondisi yang hampir roboh di tepi jalan. Selain itu tidak ditemukan papan peringatan dan informasi yang menyatakan bahwa susunan bata yang membentuk benteng itu merupakan benteng Baluwerti. Dikhawatirkan keberadaannya terancam punah karena kondisinya sudah sangat buruk dan harus segera dilakukan renovasi.

Setahun sekali kawasan situs Kraton Kartasura masih digunakan ritual Kraton Surakarta pada malam 1 Sura (Muharram)  dengan menggiring Kebo Bule Kyai Slamet dari area Kraton Surakarta menuju ke area situs ini pulang pergi. Dan hari itu merupakan puncak keramaiannya dan selanjutnya kawasan wisata bersejarah ini kurang diminati oleh wisatawan.

Sebagai warga negara Indonesia saya merasa kecewa dengan nasib situs bersejarah ini yang terancam punah karena minimnya perhatian masyarakat dan pemerintah untuk menjaga dan melestarikan situs budaya. Masih banyak situs semacam ini yang nasibnya merana dan terabaikan. Namun setidaknya saya telah mengunjungi Situs Petilasan Kraton Mataram Kartasura ini dan menelusuri sejarah yang terpendam di dalamnya.

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Andy MSE:

    semoga tulisan ini dibaca Dinas terkait dan selanjutnya ada perhatian secukupnya untuk menyelamatkan peninggalan bersejarah ini…

  2. xitalho:

    sayang sekali situs sejarah yang terlantar

  3. Isnyoto:

    Kalau presidennya seorang arkeolog baru peninggalan sejarah diperhatikan.

Kirim pendapat