Situs Mataram Kerta

Situs Mataram Kerta
Rate this post

Nama Situs Kerta yang terletak di sebelah barat dari Museum Purbakala Pleret ini masih jarang dikenal oleh wisatawan. Padahal situs ini masih banyak menyimpan misteri dan sejarah kerajaan Mataram Islam karena hanya ditemukan sedikit peninggalan sejarah.

Situs Karta, Kerta, atau Charta adalah nama situs yang terletak di dusun Kerta, Kelurahan Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul.

Perjalanan menuju ke Situs Kerta ini melewati Museum Purbakala Pleret kemudian ke arah barat hingga Kantor Kecamatan Pleret selanjutnya memasuki jalan menuju ke area perkampungan karena posisi situs berada di tengah-tengah perkampungan. Tiba di area Situs Kerta, kawasan situs hanya dikelilingi oleh pagar kawat dan ada papan kecil bertuliskan Cagar Budaya Situs Kerta.

Asal Usul Karta dulunya adalah sebuah nama kompleks Kraton Mataram  Islam (setelah Mataram Kotagede). Kraton Mataram Karta dibangun oleh Sultan Agung. Ketika pembangunan Kraton Kerta dilakukan, Sultan Agung untuk sementara masih tinggal di dalam kraton ayah dan neneknya, yaitu di Kotagede.

Disebuah ujung terlihat dua buah umpak/alas tiang dengan posisi yang tidak berjauhan. Melihat kondisi umpak batu yang pertama, posisi umpak batu berada disebelah atas sususan batu bata. Batu umpak tersebut ukurannya cukup besar dan terdapat ukiran yang mengelilinginya. Ketika mengamati peninggalan umpak yang pertama ini saya di dekati oleh penduduk sekitar kemudian mengajak saya berbincang-bincang.

Beliau bercerita sedikit mengenai kondisi Situs Kerta ini dan menceritakan peristiwa beberapa waktu yang lalu dimana ada seorang pengunjung yang mencoba memotret umpak batu tersebut tapi yang keluar hanya berupa gambar putih dan ketika diulang beberapa kali hasilnya tetap sama. Kemudian dia pulang tanpa mendapatkan satu foto umpak batupun. Ketika saya coba memotret, umpak batu tersebut tertangkap kamera dengan jelas sama seperti yang dilihat oleh mata. Tidak terlihat keanehan yang terjadi ketika difoto oleh pengunjung mengalami kejadian tersebut beberapa waktu yang lalu.

Benda peninggalan yang dapat ditemukan di sana hanya berupa dua buah umpak/alas tiang yang terbuat dari batu andesit, sisa batuan berbentuk persegi yang diduga merupakan salah satu komponen batur. Umpak tersebut berbentuk prisma terpancung. Jumlah umpak tersebut semula adalah empat buah. Satu buah diminta Sultan Hamengkubuwono untuk dibawa ke kawasan Taman Sari Yogyakarta dan digunakan sebagai alas tiang/umpak Masjid Saka Tunggal. Sedangkan umpak yang satu lagi berada di Desa Trayeman, Bantul (sumber:tembi.net)

Kemudian saya berjalan menuju umpak batu yang satunya lagi, tidak terlihat ada perbedaan bentuk karena ukurannya sama. Kecuali pada alas batu bata yang menopang umbak batu tersebut lebih tertimbun ke dalam tanah. Yang cukup mengherankan adalah posisi antara kedua umpak batu tersebut tidak simetris dan terlalu berdekatan ini menyulitkan untuk memperkirakan bentuk bangunan Kraton Mataram Kerta. Entah posisi umpak batu tersebut pernah mengalami pergeseran atau perpindahan sedang diteliti oleh para arkeolog dari Badan Arkeologi Yogayakarta. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. antyo:

    Ya ampuunnnnnn…. bocah iki gaweane apa to kok bisa ngeluyur bae…. :-)¬†

Kirim pendapat