Situs Mataram Kerta

Situs Mataram Kerta merupakan situs peninggalan Kraton Mataram Islam yang berada di kabupaten Bantul. Keberadaannya jarang terdengar karena hanya tersisa batu umpak bangunan saja dan belum ditemukan sisa peninggalan bangunan yang lain. Berdasarkan catatan sejarah, Kraton Kerta merupakan pindahan pusat pemerintahan dari Kraton Mataram Kotagede

Situs Karta, Kerta, Kerto, atau Charta adalah nama situs yang terletak di dusun Kerta, kelurahan Pleret, kecamatan Pleret, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Lokasi Situs Mataram Kerta berada di tengah-tengah pemukiman penduduk daerah Pleret Bantul. Rute menuju ke situs ini dari perempatan Jejeran ke arah timur. Ikuti jalan tersebut hingga menemui Kantor Kecamatan Pleret di sisi kanan jalan. Pada sisi timur bangunan kantor kecamatan ada jalan kecil masuk ikuti jalan tersebut. Ikuti jalan tersebut hingga menemui plang kecil ke arah Situs Kerta atau Situs Mataram Kerta. Posisi situs peninggalan tersebut berada di dekat rumah warga dan disamping kebun warga. Kondisi situ dikeliling pagar kawat berduri dan terdapat sebuah papan tertuliskan Cagar Budaya Situs Kerta Kraton Mataram.

Catatan sejarah mengatakan bahwa Kraton atau Keraton Kerta merupakan pusat pemerintahan kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Raden Mas Rangsang yang bergelar lengkap Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo. Kraton Kerto dibangun untuk menggantikan Kraton Kotagede yang rusak terkena serangan musuh. Bangunan kraton ini dibangun pada kisaran abad ke 17 atau tepatnya pada tahun 1614 masehi. Saat pembangunan Kraton Kerta, Sultan Agung sementara masih tinggal di dalam kraton milik ayahnya yaitu di Kraton Kotagede.

Baca Juga  Situs Kedaton Pleret

Kejayaan Kraton Kerta berakhir pada tahun 1645 masehi bersamaan dengan meninggalkan Sultan Agung. Pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam akhirnya dipindah lagi ke daerah Pleret atau sekitar 1 (satu) kilometer ke arah timur dari kraton Pleret. Pemindahan dan pebangunan Kraton Pleret dilakukan oleh putra mahkota yang bernama Raden Mas Said atau bergelar Sri Susuhunan Amangkurat Agung atau Amangkurat i.

Disebuah ujung terlihat dua buah umpak/alas tiang dengan posisi yang tidak berjauhan. Melihat kondisi umpak batu yang pertama, posisi umpak batu berada disebelah atas sususan batu bata. Batu umpak tersebut ukurannya cukup besar dan terdapat ukiran yang mengelilinginya. Ketika mengamati peninggalan umpak yang pertama ini saya di dekati oleh penduduk sekitar kemudian mengajak saya berbincang-bincang.

Beliau bercerita sedikit mengenai kondisi Situs Kerta ini dan menceritakan peristiwa beberapa waktu yang lalu dimana ada seorang pengunjung yang mencoba memotret umpak batu tersebut tapi yang keluar hanya berupa gambar putih dan ketika diulang beberapa kali hasilnya tetap sama. Kemudian dia pulang tanpa mendapatkan satu foto umpak batupun. Ketika saya coba memotret, umpak batu tersebut tertangkap kamera dengan jelas sama seperti yang dilihat oleh mata. Tidak terlihat keanehan yang terjadi ketika difoto oleh pengunjung mengalami kejadian tersebut beberapa waktu yang lalu.

Benda peninggalan yang dapat ditemukan di sana hanya berupa dua buah umpak/alas tiang yang terbuat dari batu andesit, sisa batuan berbentuk persegi yang diduga merupakan salah satu komponen batur. Umpak tersebut berbentuk prisma terpancung. Jumlah umpak tersebut semula adalah empat buah. Satu buah diminta Sultan Hamengkubuwono untuk dibawa ke kawasan Taman Sari Yogyakarta dan digunakan sebagai alas tiang/umpak Masjid Saka Tunggal. Sedangkan umpak yang satu lagi berada di Desa Trayeman, Bantul (sumber:tembi.net)

Kemudian saya berjalan menuju umpak batu yang satunya lagi, tidak terlihat ada perbedaan bentuk karena ukurannya sama. Kecuali pada alas batu bata yang menopang umbak batu tersebut lebih tertimbun ke dalam tanah. Yang cukup mengherankan adalah posisi antara kedua umpak batu tersebut tidak simetris dan terlalu berdekatan ini menyulitkan untuk memperkirakan bentuk bangunan Kraton Mataram Kerta. Entah posisi umpak batu tersebut pernah mengalami pergeseran atau perpindahan sedang diteliti oleh para arkeolog dari Badan Arkeologi Yogayakarta. Penemuan terbaru adalah ditemukan reruntuhan yang diperkirakan merupakan pondasi dan tembok dari Sitihinggil atau Pendopo Agung dari Kraton Kerto. (text/foto: annosmile)

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. antyo:

    Ya ampuunnnnnn…. bocah iki gaweane apa to kok bisa ngeluyur bae…. :-) 

Balas pendapat dari antyo