Situs Bokong Semar Kotagede

Situs Bokong Semar Kotagede
Rate this post

Situs Bokong Semar merupakan salah satu sisa bangunan istana Kerajaan Mataram Islam yang dibangun oleh Panembahan Senopati di kawasan Kotagede. Situs ini disebut juga sebagai pojok beteng karena terletak di pertemuan dua sisi benteng kraton. Kondisi situs ini sudah mengalami renovasi dan susun batu bata yang berserakan sudah disusun ulang kembali menjadi sebuah dinding atau benteng.

Bokong Semar adalah sudut tenggara dari benteng yang bagian sudutnya melengkung. Istilah itu diberikan penduduk karena bentuknya yang melengkung seperti pantat (bokong) Semar, seorang punakawan pelayan pelindung bertubuh tambun yang mengasuh putra putri raja dalam cerita pewayangan.

Salah Satu Sudut Benteng Baluwerti Kraton Mataram Kotagede

Lokasi Situs Bokong Semar sebetulnya tidak jauh dari Situs Watu Gilang dan Watu Gatheng. Namun karena harus memasuki kawasan pemukiman penduduk yang sempit dan berbelok-belok, banyak orang tidak mengetahui keberadaan situs ini. Bila saya tidak diajak oleh kawan yang tinggal di kawasan Kotagede, mungkin saya tidak sampai ke situs ini.

Saat tiba di Situs Bokong Semar, kondisinya baru saja selesai direnovasi. Batuan benteng disusun ulang dan dibersihkan dari lumut dan kotoran yang lain. Beberapa bagian batu yang sudah rusak dan hilang diganti dengan yang baru. Benteng yang telah tersusun cukup tinggi meskipun diperkirakan tinggi aslinya lebih dari yang sekarang ini direnovasi. Cukup terlihat perbedaan antara batu penyusun benteng yang asli dengan batu pengganti ditinjau dari warna dan jenis batunya.

Menurut cerita dan kepercayaan penduduk setempat, disebelah selatan Situs Bokong Semar terdapat telaga gaib yang dahulu digunakan untuk memandikan gajah milik kraton Mataram Islam.

Benteng Baluwerti Kraton Mataram Kotagede Melewati Rerimbunan Pohon

Situs Bokong Semar ini tidak seluruhnya utuh dan direnovasi karena baru sebagian pengerjaannya. Pengganti batuan benteng yang hilang dan rusak baru dilakukan bertahap karena cukup banyak jumlah batuan benteng yang hilang dan rusak. Menurut informasi, batuan yang hilang dikarenakan digunakan untuk membangun rumah dan pagar di sekitar kawasan Kotagede. Kejadian semacam ini tejadi karena kurangnya perhatian masyarakat untuk melestarikan benda dan situs bersejarah.

Selain itu disebelah utara Situs Bokong Semar banyak dibangun rumah yang sepertinya tidak berizin dan mengganggu cagar budaya. Posisi bangunan yang terlalu berhimpit membuat benteng Baluwerti semakin terhalang dan tersembunyi dari bangunan rumah. Saya berharap kondisi Situs Bokong Semar dan Benteng Baluwerti dapat dikembalikan seperti semula sehingga menjadi kawasan wisata sejarah baru di kawasan Kotagede.

Kirim pendapat