Misteri Sendang Mangunan Dan Panggung Alam Terbuka

Sendang Mangunan merupakan potensi wisata berbasis budaya pedesaan yang belum lama dikembangkan di daerah Mangunan Bantul. Masyarakat setempat memiliki keyakinan bahwa sendang tersebut merupakan peninggalan para wali yang singgah di daerah tersebut. Rencananya kawasan ini akan digunakan sebagai panggung pertunjukan oleh kelompok kesenian daerah setempat.

Sendang Mangunan terletak di Jalan Raya Imogiri-Dlingo, desa Mangunan, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Kondisi Sendang Mangunan Bantul Setelah Revitalisasi

Lokasi Sendang Mangunan berada di tepi Jalan Raya Imogiri-Mangunan yang dekat dengan akses jalan keluar obyek wisata Kebun Buah Mangunan dan kuliner Thiwul Ayu Mbok Sum. Posisi sendang ini berada di sebelah kanan jalan yang ditandai dengan pohon yang berukuran besar dan terlihat teduh. Area parkir pengunjung sudah disediakan dengan lahan yang tidak cukup luas namun dapat menampung beberapa kendaraan beroda empat atau puluhan kendaraan beroda dua.

Sendang Mangunan Bantul lebih tepatnya merupakan sumber mata air yang muncul dari pohon besar yang berusia ratusan tahun. Pada area sendang ini ditemukan 3 (tiga) titik mata air yang masing-masing berada di bawah pohon besar. Masyarakat setempat lebih menyebutnya sebagai sendang dibandingkan mata air karena sebelum direvitalisasi sering dimanfaatkan sebagai tempat mengambil air bersih serta keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian. Sendang Mangunan dikembangkan menjadi obyek wisata berbasis budaya dan religi setelah dilakukan revitalisasi oleh pemerintah daerah setempat dan masyarakat setempat.

Baca Juga  Warung Budhe Pah Dan Sajian Mie Ayam Hotplate

Revitalisasi Sendang Mangunan dimulai pada tahun 2015 dengan menggunakan dana Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan selesai ada awal tahun 2016. Peresmian sendang ini dilakukan pada tanggal 30 Mei 2016 oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti yang disaksikan oleh Wakil Bupati Bantul beserta tamu undangan lainnya dari Kementerian Pariwisata, SKPD DIY, SKPD Kabupaten, kecamatan dan desa serta undangan lainnya. Beberapa fasilitas dibangun di sekitar kawasan sendang ini seperti area parkir, amphiteater atau panggung terbuka yang selaras dengan alam, toilet, taman, dan beberapa tempat duduk permanen. Pemerintah dan masyarakat setempat berharap tempat ini dalam melengkapi potensi wisata unggulan di sekitar kawasan tersebut seperti Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus Mangunan.

Amphitheatre Di Sendang Mangunan Bantul

Masyarakat setempat meyakini bahwa Sendang Mangunan merupakan peninggalan para wali atau Wali Songo dalam melakukan syiar agama Islam di daerah Dlingo Bantul. Selain itu ada juga peninggalan lain berbentuk batu berlubang dimana masyarakat setempat menamakannya sebagai Watu Dakon. Watu Dakon dimaknai sebagai batu yang digunakan untuk bermain dakon (congklak). Namun tidak diketahui dengan pasti siapakah yang bermain congklak dengan batu-batu berlubang itu di masa lalu. Masyarakat setempat mempercayai bahwa watu Dakon memiliki keterkaitan dengan para wali yang singgah di daerah tersebut. Cerita masyarakat turun temurun mengenai Wali Songo yang singgah di tempat ini masih diragukan kebenarannya dan masih misterius karena tidak ada bukti sejarah yang cukup kuat seperti adanya peninggalan bangunan masjid, makam, tugu, dan sebagainya. Beberapa cerita masyarakat mengenai persinggahan Wali Songo juga hadir pada obyek wisata lainnya seperti Goa Cerme yang merupakan goa alam di selatan Imogiri Bantul.

Baca Juga  Sejenak di Umbul Ponggok

Pengunjung Sendang Mangunan masih sedikit karena tidak ada jadwal rutin pertunjukan kesenian daerah. Mereka hanya sekedar mampir untuk mengobati rasa penasaran mengenai bentuk panggung yang terlihat dari kejauhan ketika melintas. Kegiatan tradisi tingkeban masyarakat Jawa masih dilestarikan di sekitar Mangunan dan diselenggarakan di kawasan ini. Namun jadwalnya tidak pasti karena merupakan tradisi yang diselenggarakan oleh keluarga atau pribadi. Hal tersebut sebenarnya dapat menjadi daya tarik wisata sendang ini. Selain itu diharapkan panggung terbuka atau amphiteater yang telah dibangun benar-benar dimanfaatkan untuk pentas pertunjukan seni daerah sekaligus mengenalkan budaya lokal setempat. Cukup disayangkan bila nantinya tempat tersebut malah mangkrak dan rusak tidak terpakai. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat