Sejarah Perkebunan Teh Tambi Wonosobo

Sejarah Perkebunan Teh Tambi Wonosobo
Rate this post

Perkebunan Teh Tambi Wonosobo Berlatar Gunung

Sejarah Perkebunan Teh Tambi yang berada di kawasan lereng Gunung Sindoro didirikan pada zaman penjajahan Belanda. Perkebunan teh ini mulai dirintis oleh pengusaha Belanda yang bernama D. Vander Ships (untuk Unit Perkebunan Tanjungsari) dan W.D. Jong (untuk Unit Perkebunan Tambi dan Bedakah). Pada tahun 1880, perkebunan teh tersebut dibeli oleh Mr. M.P. van Der Berg, A.W. Hole, dan Ed Jacobson, yang kemudian bersama-sama mendirikan Bagelen Thee En Kina Maatschappij di Wonosobo. Dalam perkembangannya, pengurusan dan pengolahan perkebunan teh tersebut diserahkan kepada firma John Feet and Co. yang berkedudukan di Jakarta.

Saat pendudukan Jepang pada rentang tahun 1942-1945, perkebunan teh Tambi diambil alih oleh Jepang. Tanaman teh yang ada terbengkalai, tidak dirawat, dan sebagian dibongkar untuk diganti tanaman lain seperti palawija, ubi-ubian, dan jarak.

Selepas Republik Indonesia merdeka, status kepemilikan perkebunan teh Tambi diambil alih oleh pemerintah RI. Perkebunan teh ini berada di bawah Pusat Perkebunan Negara (PPN) yang berpusat di Surakarta, sedangkan kantor perkebunan daerah Tambi, Bedakah, dan Tanjungsari dipusatkan di Magelang, Jawa Tengah. Namun kepemilikan Perkebunan Teh Tambi kembali diserahkan kepada pemilik semula ketika perundingan Konferensi Meja Bundar antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda. Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda pada November 1949, maka perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia yang sebelumnya sudah diakui sebagai milik Negara harus diserahkan kembali kepada pemilik semula. Sesuai hasil KMB maka perkebunan teh Bedakah, Tambi, dan Tanjungsari harus diserahkan kembali oleh pemerintah Indonesia kepada pemilik semula yaitu Bagelen Thee En Kina Maatschappij.  Bagelen Thee En Kina Maatschappij kembali mengelola perkebunan teh Tambi dan mengadakan koordinasi antara ketiga pengelola kebun tersebut. Akhirnya disepakati dengan membentuk kantor bersama oleh para eks pegawai PPN yang dinamakan Perkebunan Gunung pada tanggal 21 Mei 1951.

Beberapa tahun setelah Perkebunan Gunung mengelola ketiga kebun itu, Bagelen Thee En Kina Maatschappij tidak berminat untuk melanjutkan usahanya dan merasa terlalu sulit untuk mengurus perkebunan yang kondisinya sudah sangat memburuk (akibat revolusi fisik antara Indonesia dengan Belanda). Oleh Bapak Imam Soepomo, SH selaku Kepala Jawatan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah mengusahakan agar pihak Bagelen Thee En Kina Maatschappij diserahkan ke Indonesia. Hal tersebut diterima baik oleh Bagelen Thee En Kina Maatschappij. Selanjutnya didirikan Perseroan Terbatas (PT) NV Eks PPN Sindoro Sumbing pada tanggal 17 Mei 1954. Perjanjian jual beli antara NV Bagelen Thee En Kina Maatschappij dengan PT NV Eks PPN Sindoro Sumbing terjadi tanggal 26 November 1954, sehingga status perkebunan Bedakah, Tambi, dan Tanjungsari resmi dalam penguasaan PT NV Eks PPN Sindoro Sumbing.

Tahun 1957, tercapai kesepakatan bersama antara Pemerintah Daerah Wonosobo dan PT NV Eks PPN Sindoro Sumbing untuk bersama-sama mengelola perkebunan tersebut, dengan membentuk perusahaan baru yang modalnya 50 % dari PT NV Eks PPN Sindoro Sumbing dan 50 % dari Pemerintah Daerah Wonosobo. Perealisasian tujuan tersebut dilakukan melalui pembentukan suatu perusahaan baru dengan nama Perseroan Terbatas (PT) NV Perusahaan Perkebunan Teh Tambi, disingkat PT NV Tambi (saat ini PT Perkebunan Tambi) dengan akte notaris Raden Sujadi di Magelang pada tanggal 13 Agustus 1957 No. 10, serta mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman tanggal 18 April 1958, No. JA 5/30/25 yang kemudian diterbitkan pada lembaran berita negara tanggal 12 Agustus 1960 No. 6. Hingga saat ini PT Perkebunan Tambi yang mengelola seluruh area perkebunan teh di lereng Gunung Sindoro tersebut.

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Nasirullah Sitam:

    Wahhh, jadi ingat waktu ke sini tahun 2013 hehehhehe, seru rasanya :-D

  2. Dimas:

    Mempelajari sejarah memang menyenangkan…!

Kirim pendapat