Sebuah Cerita Tentang Candi Losari dan Bapak Badri

Sebuah Cerita Tentang Candi Losari dan Bapak Badri
5 (100%) 1 vote

Jalan Yogyakarta-Semarang sudah sering kami lalui, namun beberapa tempat menarik kadang terlewatkan dan tidak kami pedulikan. Sebuah Candi yang terletak di dekat perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah ini menjadi kunjungan kami kali ini. Candi yang bernama Candi Losari ini masih terhitung candi yang baru ditemukan, bukan candi yang sudah terkenal sejak beberapa puluh tahun yang lalu seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Candi Losari merupakan candi Hindu yang ditemukan pada tahun 2004 di tengah sebuah kebun salak di Dusun Losari, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini terkubur lahar dingin letusan Gunung Merapi yang diperkirakan terjadi tahun 900-an Masehi.

Dari kota Yogyakarta, perjalanan ditempuh kurang lebih limabelas menit. Tiba di Jembatan Krasak yang merupakan perbatasan antara Daerah istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah, kami memperlambat laju kendaraan. 300 meter dari arah jembatan, kami menemukan sebuah papan petunjuk jalan kecil arah lokasi Candi Losari.

Karena minim papan informasi dan tersesat, kami bertanya kepada penduduk sekitar mengenai lokasi Candi Losari. Akhirnya kami meminta izin kepada salah satu penduduk sekitar untuk memarkir motor kami di halaman rumahnya karena belum tersedia lokasi parkir.

Cukup unik, keberadaan Candi Losari terletak di tengah-tengah kebun salak yang dahulu milik salah satu penduduk sekitar. Kami memasuki perkebunan salak yang rimbun dan kemudian dihadapkan ke sebuah area yang sedang dilakukan proses penggalian. Kami baru tahu kalau Candi Losari baru mengalami proses penggalian dan belum dibuka secara resmi sebagai kawasan wisata sejarah. Ada tiga lobang yang sedang dilakukan penggalian, ada dua lobang berukuran kecil dan satu lubang berukuran besar yang diperkirakan merupakan candi utama.

Candi Losari diperkirakan terdiri dari 1 candi utama dan 3 candi perwara (pendamping) yang terbuat dari batuan andesit. Diperkirakan dibangun pada abad ke 7 pada zaman kerajaan Mataram HIndu dan berkaitan dengan Prasasti Canggal yang ada didekat candi tersebut.

Ditengah mengamati tiga lobang yang merupakan tiga buah bangunan candi yang terpendam di bawah tanah, kami dihampiri oleh seseorang penduduk sekitar yang kebetulan berada di lokasi candi. Beliau dengan ramah memperkenalkan diri, Bapak Muhammad Badri namanya. Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Pak Badri, nama sapaan beliau, akhirnya kami mengetahui bahwa beliau adalah penemu Candi Losari dan Candi Losari ditemukan di kebun salak miliknya pada beberapa tahun yang lalu.

Pada tahun 2002, Pak Badri, seorang guru SMPN 12 Magelang menemui kejanggalan ketika menggali tanah di tengah-tengah kebun salak miliknya dengan menemukan beberapa serpihan batu tua yang konon merupakan batuan candi namun kembali ditimbun dengan tanah. Baru kemudian tanggal 11 Mei 2004 beliau menggali kembali dengan maksud membuat parit dan akhirnya menemukan cukup banyak batuan candi. Akhirnya beliau membawa pulang batu-batuan tersebut dan menyusun kembali dihalaman rumahnya. Selanjutnya beliau melaporkannya kepada Balai Arkeologi Yogyakarta untuk ditindak lanjuti dan diteliti. Saat ini sudah diambil alih oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Beliau banyak bercerita mengenai sejarah penemuan candi ini dan cukup ramah ketika membalas pertanyaan kami. Kami berbincang-bincang sambil menuruni salah satu lubang untuk melihat kondisi candi dari dekat. Kamipun dipersilakan mengunjungi rumahnya yang terletak di sebelah dusun Losari. Akhirnya pergi mengunjungi rumahnya untuk menjawab rasa penasaran kami mengenai informasi seputar sejarah Candi Losari tersebut. Pembicaraan dimulai dengan perkenalan dari bapak Badri dan alasan beliau turut melestarikannya.

Bapak Badri bercerita, beliau merasa belum menerima apapun dari pemerintah mengenai jasanya menemukan salah satu bukti sejarah bangsa Indonesia. Beliau merasa ikhlas dan panggilan untuk ikut serta merawat dan menyelamatkan peninggalan sejarah bangsa Indonesia. Beliau tidak sampai hati bila bagian-bagain candi hilang atau diperjualbelikan secara ilegal. Sehingga beberapa bagian candi yang dianggap penting dia selamatkan dirumahnya agar tidak terjadi pencurian.

Menurut beliau banyak kasus pencurian batuan candi di Indonesia yang lolos dari perhatian publik. Beberapa yang terpublikasi di media massa seperti kasus penukaran arca candi di Museum Radya Pustaka dimana arca asli ditukar dengan arca palsu yang sama persis kondisinya dan tidak bisa dibedakan oleh orang awam. Kasus itu tidak kunjung usai dan sepertinya kurang mendapat perhatian oleh rakyat Indonesia sehingga hilang dari pemberitaan.

Kasus pencurian dan penduplikasian batuan candi yang tak tersentuh media massa pun sebenarnya banyak, sehingga beliau bilang kepada kami, “apakah bangunan candi-candi yang biasa kalian liat di kawasan wisata candi itu semuanya batuan asli?“. Dilanjutkan, “Negara-negara tetangga pernah mengklaim memiliki koleksi batuan candi dari Indonesia dan itu benar adanya. Namun sepertinya pemerintah Indonesia kurang peduli dan kurang protektif mengenai perlindungan aset budayanya“.

Perbincangan berlanjut ketika beliau mengatakan, “bisa saja bila saya berbuat curang dan melakukan hal penduplikasian batuan candi tersebut, namun hati nurani saya mengatakan tidak untuk hal tersebut dan saya ingin warisan budaya bangsa Indonesia bisa dikenal oleh generasi penerus bangsa dan saya ikhlas dengan usaha saya menyelamatkan peninggalan budaya bangsa Indonesia“. Bapak Badri yakin kalau rezeki sudah diatur oleh Sang Pencipta dan kedatangan tamu seperti kami adalah merupakan sebuah rezeki dan penyambung tali silaturahmi antar penduduk Indonesia. Beliau menyayangkan bahwa pemerintah kurang memperhatikan para penemu peninggalan sejarah di Indonesia dan terkesan mengabaikan keberadaan mereka padahal jasa orang-orang tersebut sangat besar dalam mengetahui Asal-Usul Peradaban Manusia yang berkembang di Tanah Air ini. Terakhir beliau bercerita beberapa bagian candi yang dirasa penting dan rawan terjadi pencurian dia selamatkan dan dia simpan rapat-rapat didalam rumahnya secara ikhlas. Bagian-bagian candi yang dirasa penting ini mungkin nantinya berguna untuk penelitian lebih lanjut dan menyelamatkan aset sejarah bangsa.

Kami terharu mendengar setiap ucapan yang tulus dari mulut Bapak Badri, beliau dengan ikhlas menyelamatkan, melindungi, dan menjaga setiap hari Situs Candi Losari tanpa jasa atau bayaran dari pemerintah atau dinas terkait disamping pekerjaannya sebagai guru. Selain itu juga beliau selalu menyambut dengan ramah setiap orang yang berkunjung ke candi Losari tanpa meminta imbalan. Semoga masih ada Badri lain yang ada di Bumi Pertiwi Indonesia.

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. mawi wijna:

    ini setelah Merapi meletus atau sebelum No?

  2. panchabayu alias R.M.Subarjo:

    Khusus kepada Guru Kang Badri sekeluarga

    Shukur dapat bersilaturahiim dengan Kang Badri,sempat melihat dengan mata sendiri Candi Losari dikebun nya dan beberapa hari tidur dirumahnya,alhamdulillah semua kejadian ini ada rahsia serta hikmah yang tersembunyi,Saya sekeluarga dari Malaysia,mengucapkan ribuan terima kasih pada keluarga Guru Kang Badri sekeluarga,Guru Kang Masmono sekeluarga,Bambang sekeluarga diatas layanan yang teramat istimewa sepanjang kami adik beradik berada di perkampungan Losari

Kirim pendapat