Sampai Kapan Taman Buaya Indonesia Jaya Bertahan?

Sampai Kapan Taman Buaya Indonesia Jaya Bertahan?
Rate this post

Dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah penangkaran buaya di daerah Cikarang, bekasi dalam rangka salah satu acara perhelatan komunitas blogger di Bekasi. Nama Taman Buaya Indonesia Jaya masih cukup masih asing ditelinga saya, mengingat yang saya tahu penangkaran buaya hanya ditemukan di luar Jawa dan objek wisata satwa yang cukup terkenal seperti Taman Safari Indonesia dengan koleksi buaya yang beragam dan populasi yang banyak juga bukan merupakan penangkaran.

Taman Buaya Indonesia Jaya (TBIJ) terletak di Sukaragam, Serang, Bekasi, Jawa Barat merupakan salah satu penangkaran buaya terbesar di Indonesia ini juga dikembangkan sebagai tempat rekreasi. Menurut beberapa informasi, Taman Buaya Indonesia Jaya dibangun pada awal tahun 1990.

Memasuki pintu masuk, saya disambut seorang patugas yang membagikan brosur mengenai objek wisata tersebut. Suasana tampak sepi dan tidak seperti kebanyakan objek wisata yang dihari libur ramai dipadati oleh wisatawan. Karena merupakan rangkaian acara, saya dan peserta perhelatan komunitas yang lain diarahkan menuju ke sebuah ruangan yang ternyata sebuah arena pertunjukan berupa atraksi ular, buaya, dan debus Banten.

Atraksi Ular, Buaya, dan Debus Banten hanya diselenggarakan di hari libur untuk menarik wisatawan dan diselenggarakan dua kali pada pukul 11.00 dan 14.00 WIB.

Tiba-tiba saja hujan turun ketika acara pertunjukan belum dimulai. Namun acara pertujukan tetap dimulai tanpa ada penundaan menunggu hujan turun. Saya merasa salut dan terharu melihat semangat para pawang yang ingin tampil sempurna dihadapan para penonton yang kali ini. Raut muka mereka tampak bersemangat dan terharu melihat banyaknya penonton. Atraksi pertama berupa atraksi ular yang dimainkan oleh beberapa pawang. Acara selanjutnya berupa atraksi debus Banten dimana pawang yang melakukan atraksi kebal terhadap benda-benda tajam yang diarahkan kepada mereka.

Atraksi terakhir berupa atraksi seorang pawang yang bermain dengan buaya. Seakan buaya terlihat patuh dan terdiam ketika dipermainkan oleh sang pawang. Cukup berbahaya atraksi tersebut dan sang pawang mengingatkan agar hal tersebut tidak dicoba tanpa ada latihan khusus. Acara berlangsung lancar tanpa ada kecelakaan, maklum semua atraksi yang dilakukan sangat berbahaya dan bila ada kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.

Taman Buaya Indonesia Jaya (TBIJ) menempati lahan satu seperempat hektar dengan populasi satwa reptil kurang lebih 500 ekor. Terdapat 5 kolam besar yang huni berbagai macam buaya seperti Buaya Sumatera, Buaya Kalimantan, Buaya Irian, Buaya Putih, Buaya Buntung.

Setelah selesai menikmati pertujukan atraksi ular, buaya, dan debus Banten, saya menyempatkan diri berkeliling di Taman Buaya Indonesia Jaya. Tidak ada hal yang menarik selama saya berkeliling seputaran area Taman Buaya Indonesia Jaya, yang tampak hanyalah beberapa kolam yang dihuni oleh buaya. Itupun kondisi kolam terlihat sudah kurang memadai, beberapa bagian telah terjadi kerusakan dan tidak ada tanda-tanda bekas renovasi. Saya menduga kondisi objek wisata ini berada di ujung tanduk, dengan pemasukan yang minim dan biaya operasional yang cukup besar.

Kawasan wisata ini memang bukan milik pemerintah melainkan milik perseorangan atau pribadi yang kini telah dibentuk menjadi Yayasan Taman Buaya Indonesia Jaya. Sepertinya pemerintah masih belum merespon dan memberikan tanggapan untuk bekerjasama dan membantu pengembangan Taman Buaya Indonesia Jaya agar kembali diminati oleh wisatawan.

Seharusnya pemerintah memberikan perhatian terhadap semua objek wisata yang terletak di wilayah pemerintahannya tanpa pengecualian. Tanpa memilih objek wisata mana yang memberikan keuntungan lebih, justru pemerintah seharusnya tanggap terhadap kondisi objek wisata yang diambang keterpurukan dan mengangkatnya kembali. Karena itu semua merupakan aset wisata di daerah tersebut. Terlebih objek wisata Taman Buaya Indonesia Jaya memiliki nilai lebih dimana sejarah penangkaran buaya di Indoensia dan sarat akan keilmuan yaitu ilmu pengetahuan mengenai dunia reptil dan dapat digunakan sebagai penelitian.  Bila semua objek wisata di sebuah daerah tidak diminati, apa yang harus dibanggakan dari daerah tersebut?

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. jarwadi:

    entah kenapa aku ngga suka dengan eksploitasi satwa untuk atraksi dan pertunjukan :(

    menurutku itu sih bertentangan dengan usaha pelestarian satwa dan lingkungan

  2. baby buaya:

    disana dijual ga anak buayanya…??

Kirim pendapat