Rejeban Plabengan, Tradisi Masyarakat Dusun Cepit Temanggung Menyambut Bulan Rajab

Rejeban Plabengan, Tradisi Masyarakat Dusun Cepit Temanggung Menyambut Bulan Rajab
4 (80%) 1 vote

Rejeban Plabengan merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan masyarakat dusun Cepit dalam menyambut bulan Rejeb/Rajab dalam penanggalan Jawa. Waktu pelaksanaan tradisi ini setiap tahun pada hari Jumat Wage Bulan Rajab/Rejeb. Tujuan penyelenggaraan tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melestarikan adat budaya nenek moyang.

Tradisi Rejeban Plabengan beralamat di Desa Wisata Cepit, dusun Cepit, desa Pagergunung, kecamatan Bulu, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Lokasi Tradisi Rejeban Plabengan berada di dusun Cepit atau tepatnya Bukit Plabengan Lereng Gunung Sumbing yang menjadi petilasan Ki Ageng Makukuhan. Ki Ageng Makukuhan merupakan pepunden desa dan salah satu penyiar agama Islam di daerah Temanggung. Dalam sejarah yang diceritakan beliau konon merupakan penerus Wali Songo pada kisaran abad ke 16-17. Rute dari pusat kota Temanggung ke arah kecamatan Parakan atau jalur utama menuju arah Jakarta. Sebelum tiba di kota kecamatan Parakan perhatikan ada sebuah tikungan yang ramai, kios-kios kecil penjual, Rumah Sakit Kristen Ngesti Waluyo, dan minimarket waralaba. Pada samping minimarket tersebut ada jalan kecil masuk dan arahkan kendaraan menuju jalan kecil tersebut yang kondisinya perlahan-lahan menanjak. Ikuti papan petunjuk arah menuju dusun Cepit, desa Pagergunung, atau Pos Pendakian Gunung Sumbing via Cepit. Kondisi jalan sebagian beraspal sebagian lagi masih berupa jalan cor semen. Pengunjung disarankan berhati-hati karena kondisi jalan kurang mulus dan terdapat beberapa lubang jalan. Akses menuju lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi mulai kendaraan roda dua hingga roda empat.

Prosesi Pengambilan Air menjadi rangkaian awal Prosesi Rejeban Plabengan dimana dilaksanakan pada sore hari sebelum hari berlangsungnya Tradisi Rejeban Plabengan. Perwakilan dari masing-masing RT dan kepala dusun melakukan ritual pengambilan air suci di sumber mata air yang letaknya berada di lereng Gunung Sumbing. Perwakilan yang berjumlah 7 (tujuh) orang ini berangkat dari basecamp Pendakian Gunung Sumbing via Cepit dengan berjalan kaki. Lokasi sumber mata air yang disucikan tersebut berada di sebelah atas dari Pos 1 Pendakian Gunung Sumbing via Cepit dan sebelum tiba di Pos 2. Waktu tempuh perjalanan dari basecamp menuju lokasi mata air sekitar 1 (satu) jam lebih sedikit. Air suci tersebut di masukkan kedalam wadah yang terbuat dari batang bambu atau disebut londong. Prosesi pengambilan air suci ini sering disebut Prosesi 7 (tujuh) Londong karena berjumlah tujuh buah tempat menampung air. Selain pengambilan suci yang dilakukan oleh perwakilan warga, ada pengambilan air suci menggunakan gentong yang dimuat atau dibawa dengan kendaraan jenis pick-up. Setelah pengambilan air suci selesai, mereka berjalan kembali ke dusun untuk beristirahat.

Acara Tahlilan menjadi acara selanjutnya dalam Prosesi Rejeban Plabengan dimana diselenggarakan pada malam hari sebelum berlangsungnya acara puncak tradisi tersebut. Sehabis shalat isya, para warga baik pria maupun wanita, tua maupun muda berkumpul di ujung desa atau dusun untuk berjalan menuju Bukit Plabengan. Mereka berjalan bersama-sama menuju ke atas bukit dengan membawa obor api yang berisi minyak tanah. Sepanjang jalan setapak dari ujung desa hingga Bukit Plabengan lokasi acara dipasangi bor kecil untuk menerangi jalan. Warga yang berjalan menuju Bukit Plabengan membawa obor api yang terbuat dari bambu untuk menambah terangnya perjalanan. Dari kejauhan terlihat menarik dan unik barisan orang membawa obor yang menerangi jalan hingga membentuk garis api mendekati badan gunung pada malam hari. Pemandangan semacam ini cukup unik dan langka ditemukan di daerah lain. Sesampai di Bukit Plabengan, para tetua adat, pemimpin kampung, dan perwakilan warga memasuki bangunan kecil yang dipercaya sebagai lokasi petilasan Ki Ageng Makukuhan. Sedangkan para warga dipersilakan duduk di luar petilasan atau di sekitar Bukit Plabengan dengan beralaskan tikar. Obor-obor yang dibawa para warga ditancapkan pada tanah untuk menerangi lokasi acara.

Prosesi tahlil dimulai dengan hatur salam kepada Ki Ageng Makukuhanyang menjadi pepunden desa Cepit. Selanjutnya dilakukan prosesi penyerahan sesaji dan doa meminta keselamatan dalam menyelenggarakan acara Rejeban Plabengan esok harinya. Selanjutnya doa Tahlil dan Shalawat yang menjadi tujuan utama acara ini dilantunkan oleh tetua adat yang diikuti oleh seluruh warga yang hadir dalam acara tersebut. Setelah acara tahlil selesai, para warga berjalan meninggalkan lokasi dan kembali ke rumah masing-masing.

Jumat pagi menjadi puncak acara Prosesi Rejeban Plabengan yang diselenggarakan masyarakat dusun Cepit Temanggung. Sebelum matahari terbit, masyarakat telah beraktivitas dengan memasak di dapur untuk mengisi tenong ang akan mereka bawa. Isi tenong para warga pada umumnya berisi nasi tumpeng atau nasi biasa, ingkung ayam kampung, sayur, lauk pauk, kerupuk, peyek (keripik), dan buah-buahnya dimana sebagian besar menggunakan buah pisang yang berasal dari ladang mereka. Setelah tenong siap terisi, para warga bersiap-siap untuk bersolek dan mengenakan pakaian mereka yang paling bagus. Setelah semuanya siap, mereka berangkat keluar rumah untuk berkumpul dengan warga lain di tengah-tengah perkampungan.

Masyarakat dusun Cepit berkumpul di tengah-tengah perkampungan untuk berangkat bersama-sama menuju Bukit Plabengan. Setiap RT ada sebuah jodang atau tandu yang berisi tumpeng raksasa beserta lauk pauk yang dipikul oleh 4 (empat) orang. Barisan pembawa tenong, jodang, dan kesenian setempat diurutkan tiap RT dan dimulai secara serempak ketika semua peserta Rejeban Berkumpul. Mereka berjalan menuju ke Bukit Plabengan melewati jalan yang sama pada malam hari sebelumnya ketika melakukan prosesi tahlil.

Iring-iringan pembawa tenong Rejeban Plabengan terlihat menarik dari kejauhan karena barisannya cukup panjang, memenuhi jalan setapak yang berliku-liku, dan berwarna-warni. Perjalanan melewati area pertanian atau ladang penduduk yang terbuka membuat pemandangan iring-iringan ini tidak terhalang. Ditambah lagi Gunung Sumbing pada saat itu telihat jelas dari lereng hingga puncak, tidak berkabut, dan berlangit biru cerah memberikan kesan suasana pedesaan yang alami. Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya tiba di area Bukit Plabengan. Tenong yang dibawa warga diturunkan dan masing-masing peserta Rejeban Plabengan menempati tempat yang telah disediakan. Acara doa bersama dimulai dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rezeki yang diberikannya, berdoa memohon keselamatan para warga, dan meminta kelancaran rezeki agar warga desa makmur dan sentosa.

Acara doa bersama selesai dan para peserta Rejeban Plabengan memulai makan bersama isi tenong yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Para pengunjung yang turut hadir dalam acara dipersilakan mengikuti acara makan bersama.

Puncak Rejeban Plabengan ditutup dengan pentas kuda lumping di sekitar Bukit Plabengan yang dipenuhi oleh warga dusun Cepit. Akhirnya puncak acara Rejeban Plabengan selesai dan para warga berjalan kembali menuruni bukit dan pulang menuju rumah masing-masing. Rangkaian acara Rejeban Plabengan belum sepenuhnya selesai karena setelah salat Jumat ada pentas seni di lapangan tengah dusun Cepit. Selanjutnya akan ada juga Festival Permainan Anak Tempo Dulu untuk memeriahkan acara rejeban ini. (text/foto: annosmile)

INFORMASI
Tradisi Rejeban Plabengan
Desa Wisata Cepit, dusun Cepit, desa Pagergunung, kecamatan Bulu, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

Kirim pendapat