Tradisi Rasulan di Kampung Nusantara Jelok

Tradisi Rasulan di Kampung Nusantara Jelok
Rate this post

Ini merupakan kali pertama saya melihat acara budaya yang bernama Rasulan yang rutin diselenggarakan dari tahun ke tahun di setiap wilayah di kabupaten Gunungkidul pada bulan Rajab pada penanggalan Islam. Siang hari, acara rasulan ini biasa diselenggarakan oleh Kampung Nusantara Jelok.

Tradisi Rasulan atau bersih desa merupakan tradisi budaya yang sudah berlangsung turun temurun di wilayah Gunungkidul. Tujuan dari di adakannya tradisi Rasulan adalah untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah selesai panen.

Perjalanan menuju lokasi acara Rasulan di Kampung Nusantara Jelok atau Desa Wisata Jelok tidak menemui hambatan karena lokasinya cukup mudah untuk ditempuh. Beruntung, saat tiba di lokasi acara sedang dilakukan persiapan acara Rasulan oleh sebagian besar warga yang berkumpul di rumah dukuh Jelok.

Kerumunan warga yang ingin menyaksikan kirab atau arak-arakan Rasulan yang mengelilingi kawasan desa sudah mulai terlihat. Area parkir yang disediakan tidak lama lagi akan dipenuhi oleh kendaraan. Saya langsung bergegas menuju ke lokasi dimulainya kirab yang berada di halaman rumah bapak dukuh Jelok.

Di halaman rumah dukuh Jelok, terlihat kesimbukan peserta kirab untuk mempersiapkan barisan dan memulai acara kirab. Barisan pembawa Gunungan berada paling depan, kemudian di diikuti barisan jatilan dan para warga yang ingin turut meramaikan kirab. Gunungan ini merupakan gunungan yang dibikin oleh warga sendiri yang isinya merupakan hasil bumi dari panen di sawah-sawah warga sekitar.

Gunungan hasil bumi ini dibawa melewati kawasan pemukiman warga dan persawahan kemudian menuju ke bagian tepi Sungai Oyo yang berada di bawah jembatan gantung Jelok. disepanjang jalur yang dilewati kirab Rasulan ini dipadati oleh penonton baik yang berasal dari desa sebelah ataupun wisatawan dari jauh yang ingin mengetahui tradisi ini.

Pada tiap-tiap dusun atau wilayah, acara Rasulan di adakan pada waktu yang berbeda-beda. Dalam suasana Rasulan akan di pentaskan tontonan-tontonan yang meriah seperti ketoprak, seni jathilan, kesenian reog, wayang kulit, turnamen, dan acara meriah lainnya.

Ketika tiba di area bawah Jembatan Jelok yang merupakan tepian sungai Oyo, arak-arakan kirab berhenti dan acara di tepi sungai Oyo dimulai. Pembawa acara yang membawa pengeras suara mengumumkan urutan acara di tepi sungai. Acara pertama dimulai dengan sambutan panitia acara. Kemudian dilakukan upacara pelepasan sesaji ke tengah sungai dan pelepasan bibit ikan oleh para pemuka desa dan ketua panitia. Sebelumnya, gunungan tidak boleh direbut sebelum upacara di tepi sungai Oyo selesai dilakukan.

Gunungan yang berisi hasil panen para petani dusun Jelok ini didoakan terlebih dahulu oleh pemuka agama. Setelah itu dilakukan simbolisasi pengambilan isi Gunungan oleh perwakilan perangkat desa. Para penonton yang sudah tidak sabar merayah isi gunungan langsung menyerbu mengambil isi gunungan beramai-ramai hingga habis. Kejadian berlangsung singkat dan tidak sampai satu menit, isi gunungan habis diserbu pengunjung.

Setelah selesai melakukan acara rayahan Gunungan di tepi Sungai Oyo, para warga kembali ke area pendopo Kampung Nusantara Jelok untuk makan siang bersama dengan hidangan khas desa. Acara makan siang bersama ini menambah keakraban antar warga pada khususnya maupun wisatawan yang kebetulan turut menyaksikan acara Rasulan ini. Setelah acara makan siang ini selesai, para warga kembali ke rumah masing-masing.

Acara tradisi budaya Rasulan di Kampung Nusantara Jelok atau Desa Wisata Jelok ini rutin dilakukan dari tahun ke tahun. Selain untuk melestarikan tradisi, acara Rasulan ini juga sebagai media promosi dan daya tarik Kampung Nusantara Jelok agar lebih dikenal oleh wisatawan. Di lihat dari penyelenggaraan tahun ke tahun sepertinya sudah cukup tertata rapi meskipun masih ada pembenahan agar lebih baik kedepannya. (text/foto: annosmile)

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. applausr:

    mirip seperti tradisi di bali ya….. ada arak arakannya hanya saja ini nuasannya lebih sawah gitu ya…
    saya juga baru pertama kali lihat ini…

  2. HeruLS:

    Waaa, kak Anno bela2in menempuh satu jam perjalanan demi makan siang gratis, waaa…

Kirim pendapat