Prosesi Nawu Sendang Seliran Kotagede

Prosesi Nawu Sendang Seliran Kotagede
Rate this post

Prosesi atau Ritual Adat Nawu Sendang di Kotagede ini baru terdengar oleh sebagian besar masyarakat ketika beberapa tahun terakhir digelar secara meriah dan penambahan rangkaian acara berupa kirab. Konon ritual Nawu Sendang sudah dilakukan sejak zaman dahulu dengan cara sederhana.

Prosesi atau Ritual Nawu Sendang Seliran Kotagede konon sudah dilakukan sejak lama namun tidak ditemukan sumber-sumber tertulis yang menyebutkan waktu yang pasti kapan ritual nawu sendang itu bermula. Menurut penuturan Abdi Dalem Mas Bekel Hastono Raharjo, ritual nawu sendang sudah dilakukan semenjak Sendang (jawa:Sendhang) Seliran itu selesai dibangun.


Setelah dilakukan Kirab Budaya Ambengan Ageng / Gunungan Kuliner Kotagede dari halaman kelurahan Jagalan hingga menuju kompleks Masjid Kotagede, Prosesi Nawu Sendang dibuka dengan pembacaan sambutan oleh beberapa perwakilan tokoh dan diakhiri dengan simbolisasi penyerahan siwur (gayung) dari pengageng juru kunci makam Panembahan Senopati dari Keraton Ngayogyakarta dan Surakarta kepada para abdi dalem yang bertugas nawu atau menguras.

Terdapat tiga siwur yang diberikan salah satunya diberikan oleh kepala desa kepada takmir Masjid Agung untuk menguras jagang (tempat wudhu dan cuci kaki). Sebelumnya tiga siwur tersebut bersama dengan dua genthong kecil untuk masing-masing sendang diletakkan diatas meja yang berada di depan pintu gerbang masuk bangunan Masjid Kotagede

Menurut berbagai sumber, nama Sendang Seliran diambil karena sendang ini diselirani (dikerjakan) sendiri oleh Ki Ageng Mataram dan Panembahan Senapati. Namun ada juga yang berpendapat, bahwa disebut Seliran, karena kolam tersebut airnya berasal makam (selira, yang artinya badan) Panembahan Senapati.

Kemudian abdi dalem yang bertugas menawu (menguras) sendang bersama pengiringnya dan tamu kehormatan berjalan beriringan memasuki kawasan Sendang Seliran yang terletak di sebelah selatan area Makam Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam). Rombongan berjalan menuju ke Sendang Seliran Kakung terlebih dahulu. Sendang Seliran Kakung atau Sendang Kakung adalah sebuah sendang atau kolam yang dipergunakan untuk membersihkan diri bagi kaum laki-laki.

Sebagian rombongan memasuki bilik Sendang Kakung yang berukuran 2 x 1meter yang terletak di depan bangunan pelindung sumber air di Sendang Kakung. Suasana menjadi hening ketika abdi dalem dan tamu kehormatan melakukan pengambilan air dengan menggunakan siwur (gayung) yang disiapkan untuk Sendang Kakung. Pengisian air Sendang Kakung kedalam gentong sebagai simbolisasi dilakukannya pengurasan Sendang Kakung.

Selanjutnya Prosesi Nawu Sendang dilakukan menuju ke area Sendang Seliran Wadon yang terletak di sebelah selatan dari Sendang Kakung. Prosesi yang dilakukan hampir sama dengan mengisi gentong kecil hingga penuh dengan menggunakan siwur (gayung) yang dikhususkan untuk Sendang Wadon. Sendang Seliran Wadon atau Sendang Wadon adalah sebuah sendang atau kolam yang dipergunakan untuk membersihkan diri bagi kaum hawa (wanita). Pengisian air Sendang Wadon kedalam gentong sebagai simbolisasi dilakukannya pengurasan sendang Wadon.

Setelah selesai rombongan kembali menuju ke area Masjid Kotagede dan acara prosesi Nawu Sendang Seliran berakhir. Para abdi dalem yang bertugas menguras Sedang Kakung dan Sendang Wadon langsung bergerak menuju ke area sendang sambil membawa pompa air. Sebagian pengunjung yang menghadiri acara ini turut serta membantu pengurasan sendang dan membersihkan sendang.

Ritual Nawu Sendang Seliran biasanya dilakukan pada bulan Maulud. Namun, sejak 2009, ketika ditambah prosesi Kirab Ambengan, ritual Nawu Sendang Seliran dilaksanakan setiap bulan April. Dahulu yang dibersihkan ada 4 sendang, yaitu Sendang Seliran Kakung, Sendang Seliran Wadon, Sumber Bendha, dan Sumber Kemuning. Kini, Sumber Bendha sudah tertutup bangunan rumah, karena letaknya di pekarangan warga.

Anak-anak kecil tidak ketinggalan ikut bermain air dan masuk ke dalam sendang. Proses pengurasan air sendang bisa berlangsung selama berjam-jam karena sumber mata air yang mengisi sendang cukup banyak debit airnya dan tidak pernah kering sepanjang tahun. Selanjutnya acara ini ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Bangsal Dhondhongan di malam harinya.

Tradisi ritual adat dan prosesi Nawu Sendang Seliran rutin digelar setiap tahun sebagai upaya pelestarian budaya, mengingatkan sejarah Islam di Kerajaan Mataram Kotagede dan menjadi simbol upaya pembersihan diri. Prosesi Nawu Sendang Seliran dan Kirab Ambengan ini diharapkan menjadi media untuk mengangkat citra pariwisata budaya di Kawasan Pusaka Kotagede.

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. azizhadi:

    Pelestarian budaya harus terus dilakukan dan disuarakan, sebagai seorang yang bisa mensuarakan mas anno sudah sangat keren bisa mensuarakan

    lanjutkan!!

  2. mila:

    keren.. kasih tau gw donk jadwalnya acara2 kyk gini…

    gw pengen liat juga… eh, bb lu kog ga bisa sih?

  3. dafhy:

    Kelestarian budaya memang harus digalakkan. Salah satunya dengan mempostingnya. keren kakak liputannya :-)

Kirim pendapat