Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo Bantul

Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo Bantul
2 (40%) 1 vote

Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo merupakan situs petilasan salah satu keturunan Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit yang bernama Ki Ageng Mangir. Beliau mengembara ke arah barat setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit untuk kembali menempati daerah-daerah subur yang ditinggalkan oleh Kerajaan Mataram Kuno (Mataram Hindu). Beliau akhirnya tiba di daerah Mangir Bantul dan tinggal menetap bersama para pengikutnya. Sejarah mencatat bahwa Ki Ageng Mangir tidak mau tunduk kepada Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Panembahan Senopati.

Situs Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo terletak di dusun Mangir, desa Sendangsari, kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta

Papan Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo Bantul

Lokasi Situs Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo berada di daerah Pajangan atau sebelah barat dari ibukota kabupaten Bantul. Rute menuju ke tempat ini dari kota Yogyakarta ke arah Bantul menuju perempatan Palbapang. Dari perempatan Palbapang Bantul ikuti jalan ke arah barat melewati Jalan Palbapang-Srandakan. Kurang lebih sekitar 1-2 kilometer terdapat pertigaan lampu merah berbelok ke kanan menuju arah Sedayu. Ikuti Jalan Pajangan-Sedayu tersebut hingga tiba di pertigaan kecil depan Koramil Pajangan. Pilihlah jalan kecil ke arah kiri melewati perkampungan penduduk hingga tiba di lokasi. Bila anda pernah menuju Tempuran Ngancar dan Jembatan Sesek Mangir, letaknya masih satu area dusun.

Situs Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo dibangun diatas tanah seluas 50 area di tengah-tengah area pemukiman penduduk dusun Mangir. Pembangunan situs ini dimulai tanggal 7 Oktober 1985 dan diresmikan pada 22 Desember 2010. Lahan situs petilasan yang dibangun diyakini penduduk setempat sebagai area tempat tinggal Ki Ageng Mangir Wonoboyo semasa hidupnya.

Bangunan Utama Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo Bantul

Gapura Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo bergaya Majapahitan atau Jawa Timuran yang dibuat dengan batu bata merah. Namun dibagian atasnya dibangun atap permanen yang memberikan kesan tanggung dan kurang menarik. Setelah melewati gapura, pengunjung akan menemui sebuah nama papan situs berupa prasasti peringatan dibangunnya situs petilasan. Ketiadaan papan informasi berisi tulisan singkat mengenai sejarah Ki Ageng Mangir sepertinya dapat menjadi kritik karena masih banyak orang yang tidak mengetahui mengenai siapa Ki Ageng Mangir.

Area utama Situs Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo merupakan sebidang tanah yang dikelilingi oleh beteng atau tembok berbahan batu bata tebal layaknya tembok sebuah keraton. Pada bagian tengah terdapat sebuah altar atau pondasi yang mirip seperti bangunan candi bergaya Jawa Timuran dengan struktur batu bata. Dibagian atas altar tersebut terdapat tiga bangunan kecil dimana bangunan utama atau bagian tengah berbentuk seperti pura tempat peribadahan umat Hindu. Bangunan pada sisi barat terdapat sebuah arca berbentu nandi dan bangunan sisi timur merupakan lingga yoni. Sepertinya arca Nandi dan Lingga Yoni tersebut merupakan peninggalan pada zaman kerajaan Hindu Buddha dan diperkirakan pada era kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno.

Salah Satu Lingga Yoni Di Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo Bantul

Pada bagian belakang altar Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo ada sebuah lingga yoni berukuran setengah meter yang kondisinya telah dipugar. Sepertinya cukup dikeramatkan oleh masyarakat setempat karena masih terlihat bekas sesaji seperti bunga dan kendi air. Selain Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo, di daerah Mangir masih ada jejak peninggalan sejarah lain diantaranya Situs Watu Gilang, Situs Lingga Yoni, Situs Lembu Andini, dan Situs Batu Lumpang.

Jejak peninggalan Ki Ageng Mangir Wonoboyo terhitung masih minim karena hampir seluruh peninggalan berbentuk batu yang ditemukan berasal dari era Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Ki Ageng Mangir hanya kembali menempati bekas lahan subur yang ditinggalkan kerajaan Mataram Kuno. Bangunan peninggalan Ki Ageng Mangir nyaris tidak ditemukan lagi karena telah rata dengan tanah. Peninggalan Ki Ageng Mangir berikut sejarahnya masih perlu dikaji dan ditelusuri lebih lanjut untuk memperkuat keberadaannya di kawasan Mangir Bantul. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Jarwadi MJ:

    hihi, ki angeng mangir ini menjadi lakon yang ikonik di cerita cerita kethoprak mataram

  2. nbsusanto:

    akhirnya sampe disini ya mas.. :D

    memang yang disayangkan disini informasinya kurang banget.. lhawong baca denah di sekitar tempuran ngancar itu bingung ini dimana.. akhirnya mengandalkan plang kecil-kecil yang untungnya lumayan ada.. tentu lebih enak kalo tanya warga setempat.. :)

Kirim pendapat