Perlintasan Mbah Ruwet, Salah Satu Perlintasan Maut di Klaten

Perlintasan Mbah Ruwet adalah nama sebuah perlintasan kereta api tanpa palang pintu perlintasan di kabupaten Klaten. Perlintasan kereta api ini cukup terkenal karena sering diberitakan di media cetak karena kasus kecelakaan di tempat tersebut. Aktivitas perlintasan kereta api ini cukup ramai namun hingga saat ini belum dibuat pintu perlintasan resmi oleh PT KAI. Masyarakat sekitar berinisiatif membuat pos penjagaan sendiri untuk mengurangi kasus kecelakaan.

Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang Pintu Mbah Ruwet terletak di dusun Tegalduwur, desa Pokak, kecamatan Cepet, kabupaten Klaten. Perlintasan ini merupakan salah satu perlintasan maut dan hingga saat ini belum dibangun pintu perlintasan resmi beserta penjagaan dari PT KAI untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Perlintasan Mbah Ruwet Klaten Pada Siang Hari

Lokasi Perlintasan Mbah Ruwet dari arah Klaten menuju ke Delanggu berada sebelum pertigaan Karangwuni. Ditandai sebuah masjid megah berwarna hijau di sebelah kiri Jalan Raya Klaten-Solo kemudian mengambil jalan masuk ke desa sebelah kanan. Jalan desa tersebut merupakan jalan pintas menuju ke salah satu desa karena lebih menghemat jarak dan waktu Beberapa ratus meter setelah melewati jalan teresebut akhirnya kami tiba di perlintasan Mbah Ruwet.

Secara sekilas Perlintasan Mbah Ruwet hampir sama dengan perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang lain. Bahkan kondisinya lebih baik karena telah dipasangi palang pintu semi permanen yang dibuat warga sekitar dan penjagaan oleh warga secara bergantian. Di sisi lain jalur rel kereta api yang melewati tempat ini merupakan jalur rel lurus bukan menikung. Sehingga dari kejauhan dengan mudah mengetahui keberadaan kereta api yang akan melintas dilihat dari lampu kereta api.

Perlintasan Mbah Ruwet pernah digunakan sebagai lokasi uji nyali atau uji keberanian terhadap hal-hal gaib oleh salah satu televisi nasional (TransTV).

Suasana Perlintasan Kereta Api Mbah Ruwet Klaten Saat Kereta Api Melintas

Namun alasan mengapa perlintasan pintu kereta api tanpa palang Mbah Ruwet menuai banyak korban kecelakaan masih menuai misteri. Ada yang mengkait-kaitkan dengan sisi mistis dan ada pula yang mengkait-kaitkan dengan sisi human error atau kesalahan manusianya. Kedua alasan tersebut memang ada benarnya karena tetap saja perlintasan tersebut selalu meminta korban setiap tahunnya.

Baca Juga  Profil Desa Wisata Wonolelo Magelang

Dari segi mistis dan mitos dikatakan bahwa perlintasan Mbah Ruwet dulunya merupakan tempat tinggal Mbah Ruwet. Mengenai siapa ‘Mbah Ruwet” masih misteri karena banyak orang tidak paham mengetahui sosok tersebut. Ada orang yang menyebut Mbah Ruwet sebagai penunggu gaib di perlintasan tersebut sehingga bagi sebagian orang dianggap angker dan keramat. Ada pula orang lain yang mengatakan bahwa sekitar perlintasan tersebut merupakan rumah Mbah Ruwet sebelum dibangun menjadi jalur kereta api.

Salah Satu Penjaga Sukareja Perlintasan Mbah Ruwet

Dari sisi human error atau kesalahan manusia juga cukup logis dimana seberang pos penjagaan warga terdapat persimpangan jalan kecil yang cukup berhimpit dengan persimpangan kereta api Mbah Ruwet. Banyak kejadian pengendara roda empat sedikit kesulitan untuk melihat adanya kereta api yang akan melintas. Pada akhirnya sebagian memilih memasuki area perlintasan untuk mengetahui adanya kereta api yang akan melintas. Dan naas beberapa diantaranya malah tersambar kereta api. Meski demikian kasus kecelakaan tersambar kereta api juga banyak terjadi pada pengendara sepeda motor, bahkan beberapa korban kecelakaan berasal dari warga sekitar.

Hingga pertengahan 2014 ini belum ada kabar dari PT KAI akan membangun pos penjagaan berikut petugasnya di perlintasan Mbah Ruwet ini. Sementara ini masih dilakukan upaya penjagaan oleh warga sekitar secara sukarela dan bergantian. Bapak Slamet, salah satu penjaga di perlintasan Mbah Ruwet mengatakan bahwa usaha penjagaan dari pagi hingga sore oleh warga sekitar cukup menekan angka kecelakaan. Meskipun demikian malam hari belum dilakukan penjagaan karena keterbatasan warga karena sifatnya sukarela. Diharapkan orang yang melintas di perlintasan ini tetap berhati-hati bila tidak ada petugas yang berjaga khususnya pada malam hari. (text/foto: annosmile)

BERITA TERKAIT

5 Juli 2009

Kecelakaan bus tersambar KA Pramex 759 jurusan Solo-Yogyakarta terjadi di Persimpangan Mbah Ruwet pada hari Minggu, 5 Juli 2009. Sebanyak 16 penumpang bus tewas dan belasan lainnya luka parah. Seluruh penumpang bus adalah rombongan pengantin akan menghadiri hajatan di Dusun Sragon, Desa Mlese, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Menurut salah satu korban selamat, Jarot, sesaat sebelum tabrakan bus sempat berhenti di perlintasan karena ada sepeda motor mogok di depannya. Saat motor berhasil melintas, giliran bus yang mogok. Pada saat itu kereta api melaju dan langsung menabrak hingga bus terseret sekitar 500 meter. Seluruh penumpang yang jumlahnya sekitar 30 orang tidak sempat menyelamatkan diri. (Sumber: Tempo)

Baca Juga  Bukit Cemuris Dan Melihat Pelepasan Lampion Waisak Borobudur Dari Atas Bukit

27 Februari 2012

Senin Siang Dua Pelajar SMA Di Klaten tertabrak Kereta Api saat menyeberang rel Perlintasan Kereta Api Mbah Ruwet. Satu diantaranya tewas seketika di tempat kejadian perkara (TKP). (Sumber: Soloraya Online)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Fajar:

    wah.. tim dunia lain berkelana ik

  2. Idah Ceris:

    Bersyukur karena warga peduli dengan jalan Mbah Ruwet ini. Jadi ada yang jagain, selain simbah Ruwet yang antah berantah. :lol:

Kirim pendapat