Perayaan Zhong Qiu Jie di Klenteng Poncowinatan Yogyakarta

Tidak seperti biasanya, malam itu Klenteng Poncowinatan Yogyakarta ramai diserbu pengunjung. Sekitar lokasi klenteng penuh dengan umbul-umbul dan spanduk acara yang akan digelar. Sedikit informasi yang didapat, Klenteng Poncowinatan akan menyelenggarakan Perayaan Zhong Qiu Jie atau sering dikenal dengan nama Festival Kue Bulan. Perayaan ini diselenggarakan pada malam hari saat bulan purnama untuk menghormati Dewi Bulan.

Perayaan Zhong Qiu Jie (Thiong Ciu) atau sering disebut Festival Kue Bulan (Mid Autumn Festival) adalah perayaan yang digelar setiap tanggal 15 bulan ke-8, penanggalan Tionghoa atau Imlek. Acara ini diselenggarakan setiap tahun oleh Perkumpulan Warga Thionghoa Yogyakarta dan kali ini diselenggarakan di Klenteng Poncowinatan ( Zhen Ling Gong) Yogyakarta.

Suasana Klenteng Poncowinatan Yogyakarta Saat Perayaan Zhong Qiu Jie

Halaman klenteng yang beralamat di Jalan Poncowinatan 16 Yogyakarta sepertinya tidak mampu menampung penonton yang dari tadi telah memadati pelataran parkir klenteng. Pukul 18.00 tepat acara Perayaan Zhong Qiu Jie dimulai dengan pembukaan berupa sambutan dilanjutkan dengan beberapa rangkaian acara. Penonton yang tidak kebagian tempat di halaman klenteng, menonton dari luar pagar klenteng. Setelah dibuka ketua panitia, acara dilanjutkan dengan membakar dupa dan diletakkan di depan klenteng.

Kirab Liong Dupa Dalam Perayaan Zhong Qiu Jie Klenteng Poncowinatan Yogyakarta

Liong dupa dibawa masuk menuju halaman klenteng dan diletakkan di tengah pelataran klenteng. Doa-doa kemudian dilantunkan kemudian dilakukan pembakaran dupa pada liong yang khusus dibuat dan dirangkai dengan berbahan dupa. Setelah lantunan doa selesai, liong dupa ini dibawa keluar dari kompleks Klenteng Poncowinatan untuk dilakukan kirab. Para umat ikut berjalan di belakang kirab liong dupa sambil memegang obor dan dupa. Rute Kirab Liong Dupa ini mengelilingi kawasan Poncowinatan (Kranggan).

Baca Juga  Masjid Agung Al Barkah Bekasi

Kue bulan adalah kue yang bulat seperti bulan terbuat dari tepung yang khusus diolah oleh masyarakat Tionghoa yang mendunia. Di beberapa negara menyebutnya Mid Autumn Festival atau Festival Pertengahan Musim Gugur. Di Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Cina (Tiongkok), negara asalnya, dirayakan dengan sangat semarak.

Lampion Klenteng Poncowinatan Yogyakarta Saat Perayaan Zhong Qiu Jie

Sebagian besar penonton tidak mengikuti Kirab Lion Dupa karena kirab tersebut dikhususkan untuk para umat dan warga Tionghoa saja. Meskipun demikian, penonton yang tertarik mengikuti Kirab Lion Dupa tetap diperbolehkan. Barisan kirab mengarap ke timur melewati belakang Pasar Kranggan hingga jalan A.M. Sangaji kemudian berbelok ke arah utara (kanan). Di utara pom bensin berbelok ke arah kiri masuk ke jalan Kranggan hingga kembali ke pelataran Klenteng Poncowinatan.

Riuh penonton menyambut barisan pembawa liong dupa yang masuk ke dalam pelataran Klenteng Poncowinatan. Setelah barisan kirab seluruhnya masuk ke dalam pelataran klenteng, acara dilanjutkan dengan permainan liong dupa oleh pasukan pembawa liong yang sebelumnya melakukan kirab. Permainan apik para pasukan pembawa liong dupa cukup memukau penonton. Bunyi genderang yang mengiringi permainan liong membuat suasana semakin lengkap dan meriah.

Ada beberapa versi tentang asal usul Perayaan atau Festival Zhong Qiu Jie (Thiong Ciu) diantara telah dirayakan oleh suku Tionghoa sejak jaman dahulu pada masa Dinasti Cina. Menurut catatan sejarah sejarah, bangsa Tiongkok sudah mulai memberi penghormatan kepada para dewa  yang dianggap suci pada  Dinasti Song (1127-1279) dan dimulainya tradisi merayakan pesta setelah  panen  sebagai ungkapan rasa syukur para petani kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta, maka dibuatlah kue bulan yang bulat melukiskan bulan  dengan sajian untuk menghormati Dewi Bulan dan dimakan bersama-sama. Versi lain menyebutkan bahwa ada  legenda yang melatar-belakangi mengapa Sang Dewi Bulan harus mendapat persembahan kue khusus ini.

Atraksi Liong Dupa Dalam Perayaan Zhong Qiu Jie Klenteng Poncowinatan Yogyakarta

Di akhir permainan, liong dupa tersebut diletakkan melingkar di tengah-tengah pelataran Klenteng Poncowinatan kemudian dibakar menggunakan minyak pembakaran dan api hingga habis. Bunyi letusan dupa bersaut-saut bersamaan dengan percikan api. Penonton yang hadir dipersilahkan mundur menjauhi pembakaran Liong Dupa. Perlahan-lahan api mulai membesar dan menghangatkan udara di sekeliling. Para umat dan warga Tionghoa berdoa untuk kelancaran rejeki dan kesehatan yang diterima sepanjang tahun ini.

Baca Juga  Unik, Prosesi Melasti di Umbul Geneng

Salah Satu Hiburan Dalam Perayaan Zhong Qiu Jie Klenteng Poncowinatan Yogyakarta

Prosesi membakar Liong Dupa ini berakhir ketika perlahan-lahan api mulai padam dan disiram dengan air. Sebagian peserta dengan sigap langsung membersihkan sisa-sisa pembakaran Liong Dupa. Setelah pelataran tempat membakar dupa selesai dibersihkan, acara kemudian dilanjutkan kembali.

Pertunjukan Barongsai Dalam Perayaan Zhong Qiu Jie Klenteng Poncowinatan Yogyakarta

Ritual inti perayaan Zhong Qiu Jie (Thiong Ciu) telah berakhir, namun acara masih dilanjutkan dengan beberapa pertunjukkan seperti nyanyian, tarian, dan barongsai. Pertunjukkan barongsai menjadi pertunjukkan yang ditunggu-tunggu penonton karena memberikan atraksi berupa barongsai Tonggak yaitu permainan barongsai diatas tiang-tiang yang memiliki ketinggian yang berbeda.

Makna Perayaan Zhong Qiu Jie sebagai wadah berkumpulnya keluarga besar Tionghoa dan melestarikan budaya warisan nenek moyang mereka. Keberadaan perayaan Zhong Qiu Jie (Thiong Ciu) ini sebagai pelengkap acara rutin yang diselenggarakan warga Tionghoa seperti Perayaan Tahun Baru Imlek, Perayaan Peh Cun, dan Festival Perahu Naga karena telah rutin diselenggarakan setiap tahun. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat