Perayaan Tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

Perayaan Tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten
5 (100%) 3 votes

Perayaan Sebaran Apem Yaqowiyo merupakan tradisi yang turun temurun diselenggarakan masyarakat Jatinom Klaten setiap tahunnya untuk menghormati perjuangan Ki Ageng Gribig dalam melakukan syiar agama Islam. Dalam sejarahnya, Ki Ageng Gribig menggunakan media makanan apem sebagai syiar agama Islam di daerah Klaten. Perayaan ini diselenggarakan setiap tahun pada bulan Sapar dalama penanggalan Islam atau Jawa. Perayaan Sebaran Apem yang dikenal dengan nama Yaqowiyu saat ini menjadi magnet dan mampu menarik minat ribuan penonton yang berasal dari sekitar Klaten dan luar daerah bahkan turis mancanegara.

Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu dilaksanakan setiap jumat terakhir bulan Sapar pada penanggalan Jawa. Tradisi ini dimulai sejak zaman Kyai Ageng Gribig seorang ulama penyebar agama Islam yang menetap dan meninggal di Jatinom pada zaman Kerajaan Mataram Islam. Tahun ini sebanyak 5 ton kue apem diperebutkan oleh pengunjung.

Gunung Apem Dalam Sebaran Apem yaqowiyu Klaten

Suasana Perayaan Trasional Sebaran Apem ini bertambah meriah dengan keramaian pasar malam yang berada di tepi jalan menuju ke lokasi sebaran apem. Jalan utama pun ditutup untuk lalu lintas kendaraan dan dialihkan melalui jalur lain. Area parkir yang disediakan dekat lokasi acara tidak mampu menampung kendaraan sehingga banyak kendaraan yang terparkir jauh dari lokasi acara.

Ribuan Penonton Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

Masjid Ageng Jatinom menjadi lokasi awal permulaan acara sebaran apem karena di area masjid inilah gunungan apem disemayamkan selama semalam dan prosesi awal untuk diboyong menuju ke pelataran Sendang Plampeyan. Masjid ini penuh sesak oleh ratusan pengunjung untuk mengikuti ibadah shalat Jumat. Bahkan banyak orang yang terpaksa tidak menjalankan shalat Jumat karena area masjid sudah penuh oleh jamaah dan memilih langsung menuju ke Sendang Plampeyan karena ketakutan akan tidak kebagian tempat saat prosesi sebaran apem berlangsung.

Menurut para sesepuh Jatinom, gunungan apem itu mulai diadakan sejak 1974, bersamaan dengan dipindahnya lokasi sebaran apem dari halaman Masjid Gedhe ke tempat sekarang. Sebelumnya, acara sebaran apem tidak menggunakan gunungan.

Menara Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

 

Selesai shalat Jumat, prosesi sebaran apem dimulai dengan rombongan pembawa gunungan apem dari area Masjid Ageng Jatinom menuju ke Sendang Plampeyan yang ada didekatnya. Rombongan pembawa gunungan apem ini berpakaian putih-putih seperti kyai pada jaman dahulu. Ketika rombongan gunungan apem akan memasuki area Sendang Plampeyan, sorak-sorak penonton bergemuruh memenuhi kawasan Sendang Plampeyan. Tiba di pelataran Sendang Plampeyan, gunungan apem diletakkan di atas panggung dan acara di pelataran Sendang Plampeyan dimulai.

Ulama Yang Menyebarkan Apem Dalam Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

Sambutan dari Bupati Sleman dan Ketua Penyelenggara yang diakhiri dengan berdoa bersama. Gunungan apem yang berjumlah sepasang tersebut menjadi rebutan bagi pengunjung yang memadati area panggung. Setelah gunungan apem habis diserbu penonton, barulah dua menara yang letaknya berdampingan mulai melempar apem ke arah penonton.

Asal Usul Sebaran Apem Yaquwiyu saat Kyai Ageng Gribig ke Mekkah mendapat apem 3 buah yang masih hangat, kemudian dibawa pulang untuk anak cucunya, ternyata sampai di Jatinom apem tersebut masih hangat. Dengan bersabda “APEM YAQOWIYU” artinya kata yaa qowiyyu itu ialah Tuhan Mohon Kekuatan. Berhubung apem buah tangan itu tidak mencukupi untuk anak cucunya, maka Nyai Ageng Gribig diminta membuatkan lagi agar dapat merata. Oleh karena orang-orang semua tahu bahwa Nyai Ageng Gribig sedekah apem, maka kini penduduk Jatinom ikut-ikutan sama membawa apem untuk selamatan.

Penonton Berebut Apem Yang DIilemparkan Dalam Sebaran Apem Yaqowiyu Klaten

Ribuan orang berebut apem yang dilempar dari atas menara oleh panitia yang berpakaian serba putih. Suara riuh penonton meminta untuk dilemparkan apem ke arahnya bercampur dengan suara penonton yang berebut apem yang dilemparkan ke arahnya. Meskipun ratusan kali apem dilempar ke arah penonton, para penonton tidak bosan-bosan untuk merebut apem yang dilempar dari atas panggung. Mereka menganggap apem yang diperebutkan pecaya akan berkah apem untuk bermacam-macam kepentingan. Namun penyenggara berharap agar orang-orang selalu meminta sesuatu hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari tahun ke tahun penyelenggaraan Perayaan Sebaran Apem Yaqowiyu Kyai Ageng Gribig ini selalu sukses dipadati pengunjung meskipun tahun-tahun terakhir turun hujan saat acara berlangsung. Banyak kecelakaan kecil yang terjadi selama acara seperti terjatuh dan terinjak-injak saat rebutan apem diharapkan agar para penonton lebih berhati-hati. Acara Sebaran Apem Yaqowiyu ini mirip dengan Tradisi Sarapan dan Apeman Ki Ageng Wonolelo yang lebih dahulu berlangsung pada bulan yang sama. (text/foto: annosmile)

JADWAL

Tahun 2016:

Tahun 2015: 27 November 2015

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. pututik:

    sayangnya meskipun penyelenggara sudah mengingatkan kebanyakan dari kita malah jadi syirik

Kirim pendapat

error: Content is protected !!