Kawasan Pengok, Antara Balai Yasa, Perumahan, dan Area Hijau

Bila menyebut nama Balai Yasa di Yogyakarta, orang-orang langsung tertuju pada sebuah kawasan yang terletak di daerah Pengok Yogyakarta dimana posisinya tidak jauh dari Stasiun Lempuyangan. Akan tetapi bila ditanya apa yang menarik dari kawasan tersebut, sebagian besar orang hanya bisa menjawab bahwa kawasan tersebut terdapat bengkel kereta api milik PT KAI. Cukup jarang orang yang dapat menjabarkan kawasan Pengok tersebut dan bagaimana asal mulanya.

Kawasan Pengok terletak di Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Di kawasan tersebut terdapat Balai Yasa milik PT Kereta Api Indonesia, Perumahan Pegawai PT KAI, dan pemukiman penduduk.

Monumen Balai Yasa PT KAI Yogyakarta

Hal ini yang menarik minat saya untuk mencoba menelusuri apa saja yang terdapat di kawasan Pengok selain Balai Yasa milik PT KAI yang telah banyak diketahui orang. Dari Jembatan Layang Lempuyangan, saya langsung berbelok menuju kawasan Pengok. Pemandangan jalan satu arah ini memang tidak banyak menarik perhatian pengendara lalu lintas untuk berhenti di beberapa kios dan toko yang ada disepanjang jalan.

Hingga tiba di pada bangunan tugu berhiaskan roda kereta api tua pada bagian atasnya yang sering disebut dengan Monumen Balai Yasa Yogyakarta, saya melihat banyak pengendara kendaraan yang melintas dengan kecepatan sedang dan tinggi. Sepertinya mereka tidak acuh dengan kawasan ini dan menganggapnya sebagai kawasan yang harus segera dilewati untuk segera menuju ke tempat tujuan. Kondisi jalan aspal yang baik pun mendukung para pengendara motor untuk melintasi Jalan Pengok atau sekarang disebut Jalan Kusbini dengan cepat.

Balai Yasa Pengok Yogyakarta dibangun pada tahun 1914 oleh Nederland Indische Spoorweg Maatschapij (NIS), namanya waktu itu adalah Centraal Werkplaats dan tugas pokoknya adalah melaksanakan overhaul lokomotif, gerbong dan kereta. Pada tahun 1942 diambil alih oleh pemerintahan Jepang menjadi perusahaan kereta api pemerintah dengan tugas pokok melaksanakan overhaul lokomotif, gerbong dan kereta. Pada tanggal 28 September 1945 aset perkeretaapian diambil alih oleh Pemerintah Indonesia. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Kereta Api dan nama perusahaannya adalah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Sedangkan nama bengkel keretaapi diubah menjadi Balai Karya dengan tugas pokok sama. Pada tahun 1959 Balai Karya diubah lagi menjadi Balai Yasa Traksi dengan tugas pokoknya hanya melaksanakan overhaul lokomotif.

Lorong Jalan Pengok

Melihat kondisi Monumen Balai Yasa Yogyakarta yang kurang terawat ini justru menjadi perhatian saya untuk menelusuri lebih lanjut potensi dan daya tarik yang dapat ditangkap dari kawasan Pengok ini. Pada sebuah jalan kecil menuju pintu masuk Balai Yasa Yogyakarta, saya memulai penelusuran di kawasan ini. Dari kejauhan sepintas jalan ini terlihat sepi namun ketika mendekat suasana di tepi jalan cukup ramai. Ada beberapa pedagang yang menggelar dagangannya di sisi kiri atau utara jalan. Warung angkringan, bakso, soto, siomay, es dogen, dan es dawet mewarnai santapan kuliner di tempat ini.

Baca Juga  Dalem Ropingen Kotagede, Jejak Sejarah Yang Jarang Diketahui

Kuliner yang dijajakan oleh para pedagang kakilima memang tidak spesial, namun cukup menarik minat pembeli untuk datang bersantap dan bersantai diantara hiruk pikuk lalu lintas yang cukup ramai. Beberapa kali saya sempat mampir di tempat ini untuk sekedar beristirahat siang sambil nongkrong beberapa teman. Beberapa kawan lebih memilih menikmati es dawet khas Banjarnegara karena menurut mereka rasanya cukup enak dan harganya lebih murah. Namun bagi saya, rasa es dawet biasa saja dan sama seperti rasa es dawet yang dijual oleh pedagang keliling.

Sedikit informasi, nama Jalan Pengok diganti menjadi Jalan Kusbini pada tahun 1997 untuk mengenang seniman keroncong era tahun 30-an Kusbini yang tinggal tidak jauh dar kawasan Pengok.

Pedagang Kaki Lima Sekitar Jalan Pengok

Saya sedikit menangkap hal lain, dimana yang mendukung kita untuk menikmati makanan sehingga terasa enak adalah suasana yang ada disekitar warung. Iya benar, suasana di sekitar warung pedagang kakilima memang cukup teduh dari sengatan sinar matahari siang yang panas. Rerimbunan daun pada pohon yang tumbun di tepi jalan mampu menahan pancaran sinar matahari sehingga kawasan dibawahnya terlindung dan terasa sejuk.

Pohon yang berdaun cukup lebat ini ditanam disepanjang jalan depan Balai Yasa Yogyakarta dimana cara penanamannya cukup rapi dan diberi jarak antara satu dengan yang lain. Batang pohonnya tinggi dan bentuk akar yang cukup besar menunjukkan usia pohon tersebut. Saya memperkirakan pohon tersebut ditanam bersamaan dengan dibangunnya kawasan Balai Yasa Yogyakarta oleh Pemerintah Belanda pada awal tahun 1900an. Tidak ada papan informasi yang menjelaskan jenis pohon tersebut.

Tanaman Kenari merupakan anggota suku Burseraceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan pada bagian buahnya untuk dimakan, terutama bagian dalam bijinya. Paling tidak ada dua spesies yang biasa menghasilkan buah kenari yaitu Canarium vulgare Leenh. dan Canarium indicum L (wikipedia)

Pohon Kenari di Pengok

Saya pun penasaran dengan jenis pohon tersebut dan setelah membuka beberapa literatur merujuk pada nama pohon Kenari. Karena belum saatnya berbuah, saya tidak dapat mengetahui jenis pohon Kenari yang terdapat di kawasan Pengok. Pohon Kenari saat ini sudah jarang ditemui di tepi jalan di kota Yogyakarta dan populasi terbanyak yang saya ketahui hanya di kawasan Pengok ini. Pohon ini dibiarkan tumbuh tinggi dan jarang dilakukan pemangkasan karena tidak ada jaringan kabel disekitarnya.

Baca Juga  Embung Nglanggeran, Cikal Bakal Kebun Buah Nglanggeran Gunungkidul

Pohon-pohon Kenari yang ditemukan di sepanjang area Pengok ini menjadi salah satu area hijau di kota Yogyakarta. Namun kondisinya semakin lama semakin berkurang akibat perlebaran jalan dan pembangunan gedung didekatnya. Keberadaannya perlu dijaga dan dilestarikan karena populasi pohon Kenari di kota Yogyakarta semakin berkurang setiap tahunnya. Meskipun merupakan tanaman yang mudah tumbuh ketika ditanam, keberadaan pohon Kenari tua di kawasan Pengok ini merupakan saksi hidup sejarah perkembangan kawasan Pengok ini.

Perumahan PT KAI

Pada sisi kanan atau sisi selatan dari jalan merupakan kawasan Balai Yasa PT KAI Yogyakarta dimana telah dibangun pagar besi memanjang dari ujung ke ujung. Disebalik pagar terdapat lintasan rel kereta api yang digunakan untuk melakukan tes lokomotif sebelum difungsikan pada jalur kereta api utama. Bila beruntung, saat melintas kawasan ini pada pagi atau siang hari akan melihat lokomotif berjalan dan melakukan test mesin di jalur ini. Bagi beberapa orang penggemar kereta api, pemandangan ini menjadi objek yang paling dinanti.

Hal yang tidak ketinggalan adalah kawasan Perumahan Pegawai PT KAI yang letaknya disisi utara Balai Yasa Yogyakarta. Hampir seleruh bangunan berarsitektur Belanda tersebut nampak sepi dan beberapa diantaranya tidak berpenghuni. Bentuk rumah tua peninggalan zaman Belanda yang cukup besar tersebut terlihat besar namun terkesan angker. Dibalik keangkeran rumah tua tersebut tersimpan sejarah yang cukup panjang dan saat ini beberapa diantaranya ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Dengan kondisi yang tidak berpenghuni, beberapa rumah tua mengalami kerusakan dan belum diperbaiki. Entah sampai kapan akan diperbaiki atau ditunggu hingga rusak agar dapat dibangun sebagai kawasan baru yang lebih menguntungkan PT KAI, waktu yang akan menjawabnya. (text/foto: annosmile)

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. fotodeka:

    ini tempat shooting FTV apa film pendek biasa nek di Jogja ya mas? :3

  2. Tarto:

    Di era th 90an semua rumah dikomplek PJKA masih berpenghuni khususnya di area blok A karna saya pernah tinggal di situ tepatnya di blok rumah no 25 saya tinggal di situ selama 3th mulai th 89–91

  3. Tarto:

    Melihat potret rumahnya yang di atas insepertinya perumahan komplek PJKA blok A klu tidak salah rumah itu blok A no 24 dulu penghuninya atas nama bu Seno apa bu Peno begitu

Kirim pendapat