Penelusuran Sisa-Sisa Jalur Kereta Api Stasiun Winongo – Pabrik Gula Madukismo

Penelusuran Sisa-Sisa Jalur Kereta Api Stasiun Winongo – Pabrik Gula Madukismo
Rate this post

Beberapa minggu yang lalu, kami melakukan penelusuran bekas jalur kereta api yang mengubungkan antara kota Yogyakarta dengan kabupaten Bantul tepatnya rute stasiun Tugu Yogyakarta hingga stasiun Palbapang. Dengan melihat bukti yang masih tersisa, timbul banyak pertanyaan dari kami mengingat minimnya informasi yang ada. Salah satu keraguan yang ada berupa perkiraan stasiun Winongo sebagai stasiun persimpangan.

Rumah Tua Dan Rel Bekas Jalur Kereta Api Wonongo-Madukismo

Dengan keraguan akan fungsi dan kondisi stasiun Winongo membuat kami kembali menelusuri bukti-bukti jalur kereta api yang melintas di kawasan ini. Lokasi stasiun Winongo tidak jauh dari kota Yogyakarta dan terletak ditengah-tengah pemukiman. Karena pernah mengunjunginya, kami tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukannya. Tiba di stasiun Winongo, kami kembali mengamati kawasan sekitar stasiun. Saat teringat dengan potongan rel di sebelah utara stasiun, kami langsung berjalan menuju ke lokasi potongan rel.

Saat tiba di kawasan yang terdapat potongan jalur rel dan percabangan rel yang tergeletak di halaman rumah penduduk, kami mencoba memperkirakan arah datangnya rel kereta api dari jalur yang satunya. Meskipun letak potongan rel yang dimukan sudah bergeser dari letak aslinya, kami memiliki sedikit pemahaman arah jalur kereta api yang di dapat saat penelusuran sebelumnya. Sedikit demi sedikit kami mendapat titik terang, kami menemukan sebuah jalan setapak yang membelah kawasan persawahan diperkirakan merupakan bekas jalur kereta api.

Sinyal Kereta Api Bekas Jalur Kereta Api Wonongo-Madukismo

Kami menulusuri jalan setapak tersebut dan mendapati sebuah bekas potongan rel kereta api yang masih terpasang dan hampir tertimbun. Saat melihat lebar rel kereta yang terpasang bisa dipastikan rel tersebut merupakan rel kereta api bukan rel kereta lori. Ini menjadi salah satu bukti bahwa memang benar terdapat jalur kereta api antara stasiun Winongo dengan Pabrik Gula (PG) Madukismo (dahulu dinamakan pabrik gula Padokan). Disebuah persimpangan dengan jalan setapak biasa, terdapat dua buah tiang peringatan kereta api yang masih berdiri tegak.

Jalan Setapak Yang Merupakan Bekas Jalur Kereta Api Wonongo-Madukismo

Panjang bekas rel yang masih terpasang cukup pendek, sehingga penelusuran bekas jalur kereta api kembali menjadi jalan setapak. Beberapa pondasi yang digunakan untuk saluran air yang melewati jalur kereta api masih tampak meskipun keberadaannya tertimbun tanah. Sudah tidak ditemukan tiang sinyal kereta api di sepanjang bekas jalur kereta api ini.

Tiba di sebuah jalan setapak yang dipenuhi semak-semak, kami menemui persimpangan rel antara rel kereta api dengan rel kereta lori pengangkut tanaman tebu. Sisa-sisa jalur rel kereta lori masih terpasang namun kami tidak menemukan potongan rel kereta api. Sepertinya jalur kereta api menuju ke pabrik gula Madukismo sudah lama dihentikan daripada penghentian pengoperasian kereta lori pabrik. Ditempat ini juga ditemukan sebuah tiang sinyal kereta api yang belum diketahui fungsinya.

Tembok PG Madukismo Bekas Jalur Kereta Api Wonongo-Madukismo

Penelusuran dilanjutkan hingga ujung jalan setapak berupa jalan aspal kecil di belakang pabrik gula Madukismo. Arah jalan setapak tersebut mengarah ke tembok pabrik gula madukismo dan kami memperkirakan kereta api masuk ke area pabrik melalui tempat tersebut. Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari buku dan internet, rute jalur kereta api stasiun Winongo menuju ke pabrik gula Madukismo adalah untuk pengangkutan spritus atau air perasan tebu. (text/foto: annosmile)

Ada 4 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. HeruLS:

    Masuk akal.
    Jika fasilitas yg dipakai umum, dipakai juga untuk kepentingan komersil, kemungkinan besar karena pemiliknya sama: perusahaan dagang Belanda.
    Atau, jangan2 kereta api/ stasiun itu bukan fasilitas umum, tapi milik perusahaan yg digunakan seolah2 utk kepentingan umum, padahal untuk menunjang operasional perusahaan. Jadi ingat politik etis.

    Btw, perspektif foto2nya mulai lebih enak bagiku.

  2. putrosn:

    berarti masih ada stasiun ujung dari persimpangan Stasiun Winongo yang menuju Madukismo. atau memang Madukismo merupakan stasiun terakhir dari rute kereta sebagai transportasi massal (bukan lori)?

    • admin:

      rute terakhir..soalnya bekas jalan masuk kompleks pabrik :)

  3. jeri:

    Mungkin jalur ini merupakan jalur ke P.G yang terakhir di tutup, dibandingkan P.G lain di wilayah Bantul, seperti P.G Gesikan, Pundong, Pleret, Kedaton, Barongan, dan Sewu Galur. Kebanyakan dari mereka juga menggunakan jalur N.I.S 1435mm

Kirim pendapat