Patung Sura dan Buaya Yang Sekarang jadi Ikon Kota Surabaya

Patung Sura dan Buaya Yang Sekarang jadi Ikon Kota Surabaya
4.5 (89.23%) 26 votes

Patung Sura dan Buaya (Jawa=Ikan Hiu dan Boyo/Baya) merupakan salah satu landmark atau ikonkota Surabaya yang cukup terkenal hingga saat ini. Keberadaannya konon menginspirasi nama kota Surabaya.Patung berbentuk hewan atau binatang ini mengambil kisah pertarungan antara ikan hiu dan buaya. Keberadaan Patung Sura dan Buaya ini pada mulanya hanya terdapat di depan Kebun Binatang Surabaya kemudian dibangun dengan bentuk serupa di beberapa titik kota Surabaya.

Patung Sura Baya (Sura Baya statue) terletak di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) Jl. Raya Diponegoro No. 1-B, kelurahan Darmo, kecamatan Wonokromo, kota Surabaya 60241

Patung Sura dan Buaya

Sejarah keberadaan Patung Sura dan Buaya pada mulanya hanya dibangun sebagai penghias gerbang masuk Kebun Binatang Surabaya. Namun karena gesekan dari cerita masyarakat dan perkembangan zaman akhirnya patung tersebut menjadi salah satu ikon atau landmark kota Surabaya. Maka tidak heran bahwa banyak syuting film, sinetron, atau iklan disekitar tempat ini untuk menunjukkan kesan bahwa syuting tersebut benar-benar dilakukan di kota Surabaya, Jawa Timur.

Patung Sura dan Buaya yang berada di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) dibuat oleh seniman patung dan dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya bernama Sigit Margono. Patung setinggi sekitar 20 meter ini dibangun pada tahun 1980. Posisi patung tersebut terlihat seperti melayang dan tidak berdiri diatas tanah. Patung tersebut hanya melekat pada sulur atau lidah api. Teknik pembuatan patung tidak disebutkan karena Sigit Margono tidak menjelaskan secara rinci prosesnya. Bahan dasar pembuatan patung menurut informasi terdiri dari semen, pasir, dan batu bata. Saat ini, Patung Sura dan Buaya ini menjadi salah satu tujuan utama untuk berfoto ketika berkunjung ke kota Surabaya. (text/foto: annosmile)

CERITA ASAL USUL SURABAYA

Dahulu kala di lautan luas tepatnya di Laut Jawa hiduplah 2 hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah ikan hiu (sura) dan seekor buaya (boyo). Karena tinggal berdampingan, dua hewan tersebut sering berselisih dan berkelahi saat memperebutkan makanan. Karena sama-sama kuat, tangkas, ganas, dan sama-sama cerdik, perkelahianpun terus berlangsung karena tidak ada yang bisa menang dan tidak ada yang bisa kalah. Pada akhirnya, kedua hewan tersebut merasa bosan dan lelah jika harus terus berkelahi. Menyadari hal itu keduanya kemudian sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan.

“Hai Buaya, lama-lama aku bosan berkelahi denganmu.” kata ikan hiu Sura. “Hmm, Aku juga, Sura. Lalu, apa yang mesti kita lakukan supaya perkelahian kita ini bisa berhenti?” tanya Buaya.
“Untuk mencegah terjadinya perkelahian lagi di antara kita, alangkah baiknya jika kita membagi daerah ini menjadi 2 daerah kekuasaan. Aku berkuasa di dalam air dan hanya bisa mencari mangsa di dalam air, sedang engkau barkuasa di daratan dan dengan begitu mangsamu harus pula yang ada di daratan. Lalu, sebagai batasnya, kita tentukan lebih dulu yaitu tanah yang dapat dicapai air laut pada saat pasang surut!”
“Oke, aku setujui dengan gagasanmu itu, Sura!” kata Buaya sambil mengangguk.

Baca Juga  Misteri Gunung Kumbokarno Trenggalek

Dengan adanya perjanjian tersebut, untuk beberapa saat ikan hiu Sura dan buaya tak pernah berkelahi lagi. Keduanya sepakat untuk saling menghormati wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun, setelah waktu berselang begitu lama, ikan-ikan yang menjadi mangsa hiu sura mulai habis dilautan. Sebagian ikan yang tersisa justru bermigrasi ke arah muara sungai Brantas karena takut dimangsa si hiu Sura. Menyadari hal itu, ikan hiu sura terpaksa dengan sembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak ketahuan oleh buaya. Namun tanpa disadari si buaya ternyata mengetahui tingkah si hiu sura dan langsung menyerangnya.

” Sura, kenapa kau melanggar perjanjian yang sudah kita berdua sepakati? Kenapa kamu berani-beraninya memasuki wilayah sungai yang adalah daerah kekuasaanku?” tanya si Buaya.
“Eits… Aku melanggar perjanjian? Ingatkah engkau akan bunyi perjanjian kita? Bukankah sungai ini berair? Dan karena ada airnya, jadi sungai ini juga termasuk daerah kekuasaanku, bukan?” Kata Sura mengelak.
“Apa maksudmu Sura? Bukankah sungai itu berada di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu termasuk daerah kekuasaanku!” jawab Buaya ngotot.
“Ohh… Tidak bisa. Bukankah aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau air itu hanya air laut? Bukankah pula air sungai itu air” jawab Hiu Sura.
“Hmm… Rupanya sengaja kau mencari gara-gara denganku, Sura?” hentak Buaya.
“Tidak!! Ku kira alasanku sudah cukup kuat dan aku ada dipihak yang benar!” elak Sura.
“Kau memang benar-benar sengaja mengakaliku Sura. Aku tidaklah sebodoh yang engkau kira!” jawab Buaya mulai marah.
“Aku tak peduli kau pintar atau bodoh, yang jelas sungai dan laut merupakan daerah kekuasaanku!” serang Sura tak mau mengalah.

Adu mulut antara Sura dan Baya pun berakhir dengan perkelahian yang sengit. Perkelahian kali ini menjadi sangat seru dan dahsyat karena keduanya merasa sama-sama tidak salah. Mereka saling menggigit, menerjang, memukul, dan menerkam. Dan dalam waktu sekejap, air sungai disekitarnya tempat perkelahian itu menjadi merah karena darah yang keluar dari luka kedua binatang itu. Mereka bertarung dengan mati-matian. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus. Karena sama-sama sudah terluka parah, keduanya kemudian berhenti berkelahi. Ikan surapun mengalah dan akhirnya kembali ke laut. Buaya yang menahan sakitnya pun merasa puas karena telah mampu mempertahankan daerah kekuasaannya.

Baca Juga  Air Terjun Irenggolo Kediri, Salah Satu Wisata Alam Di Lereng Gunung Wilis

Tak berselang lama diketahui bahwa kedua hewan tersebut ternyata mati karena luka yang cukup parah dari bekas perkelahian. Dan untuk mengenangnya, penduduk sekitar menyatakan  untuk memberi nama “Surabaya” pada daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.

Hikmah yang dapat diambil dari Kisah Sura dan Buaya bahwa peperangan dan perkelahian tidaklah bisa menyelesaikan masalah dan justru akan menimbulkan masalah baru. Kita perlu bersikap arif dan bijaksana dalam menyelesaikan segala problematika kehidupan.

INFORMASI
Patung Sura dan Buaya
Jl. Raya Diponegoro No. 1-B, kelurahan Darmo, kecamatan Wonokromo, kota Surabaya 60241

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Henri Nurcahyo:

    Kalimat ini mengganggu saya: “Sepertinya dibangun oleh para pekerja bangunan saat memperbaiki dan mempercantik kota Surabaya……” Asal tahu saja, patung tersebut dikerjakan oleh seniman patung dan dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya bernama Sigit Margono. Jangan asal beropini dunk….. Tanya kalau gak tahu…

    • admin:

      Hi Henri Nurcahyo, terima kasih atas koreksinya ya. Semoga berkenan :-)

Kirim pendapat