Patung Slamet Riyadi Solo

Nama Slamet Riyadi sepertinya cukup melekat pada diri kota Solo. Selain digunakan sebagai jalan utama dan terpanjang yang berada di tengah kota Solo, juga dibangunkan sebuah monumen yang letaknya di tengah-tengah kota Solo. Siapakah Slamet Riyadi itu?

Slamet Riyadi merupakan pahlawan nasional yang bernama lengkap Letkol Ignatius Slamet Riyadi dimana berjuang merebut kekuasaan kota Solo dari tangan penjajahan.

Dalam sejarah hidupnya, Slamet Riyadi lahir dengan nama Sukamto di Donokusuman Solo, 28 Mei 1926 putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang anggota legium Kasunanan Surakarta. Mengenyam pendidikan di HIS kemudian MULO Afd B dan pada akhirnya ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT).

Sebagai lulusan terbaik dan berhak menyandang ijasah navigasi kemudian ditambah beberapa kursus navigator maka beliau menjadi navigator dari kapal kayu yang berlayar antar pulau Nusantara. Sejak penjajahan Jepang, beliau melakukan pemberontakan keberaniannya mempelolori perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang yang dipuncaki pada peristiwa penyerangan markas tentara Jepang saat akan diadakannya peralihan kekuasaan di Solo oleh Jepang yang dipimpin oleh Tyokan Watanabe yang merencanakan untuk mengembalikan kekuasaan sipil kepada kedua kerajaan yang berkedudukan di Surakarta yaitu Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran.

Baca Juga  Umbul Buto Klaten Dan Misteri Patung Kepala Buto

Dalam karir setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Slamet Riyadi turut membantu penumpasan pemberontakan dalam negeri seperti pemberontakan PKI Madiun. Ketika Agresi Militer Belanda, Letkol Slamet Riyadi menjadi prakarsa Serangan Umum Kota Solo yang dimulai tanggal 7 Agustus 1949, selama empat hari empat malam. Serangan itu membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ketengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie persenjataan berat, artileri pasukan infantri dan komando yang tangguh. Beliau gugur ketika mengatasi pemberontakan RMS dalam negeri pada  hari sabtu 4 Nopember 1950 pukul 11.30 dengan usia sangat muda belum genap 24 tahun.

Perjuangan Slamet Riyadi dalam membela tanah air memang harus diacungi jempol. Bangsa Indonesia harus meneruskan perjuangannya dengan membangun Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera. Perhargaan tertinggi kepada Slamet Riyadi dengan dibangun monumen dan patung Slamet Riyadi di tengah kota Solo. dibangun di ujung jalan Slamet Riyadi sebelah timur yang berbatasan dengan Kawasan Gladak dan dekat dengan Kraton Kasunanan Surakarta.

Bagi beberapa pihak menyambut positif pembangunan monumen ini. Namun ada segelintir pihak yang menyayangkan lokasi pembangunan monumen yang bertentangan dengan budaya masyarakat Solo. Posisi patung yang membelakangi kraton dinilai kurang santun/sopan terhadap kraton sebagai pusat budaya Solo. Masalah ini memang belum meluas namun diharapkan tata bangun monumen dan patung dikembalikan kepada budaya kota Solo pada tahap renovasi kedepan. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat