Patirtan Kamulyan, Sendang Pencari Kemuliaan dan Kesembuhan

Patirtan Kamulyan atau ada yang menyebutnya Sendang Patirtan Kamulyan merupakan sumber mata air alami yang berada di daerah Jetis Bantul. Sendang atau sumber mata air ini dipercaya memiliki kaitan dengan era zaman kerajaan Majapahit hingga kerajaan Mataram Islam. Sesuai dengan cerita turun temurun dan pengalaman peziarah, sendang ini dipercaya menyembuhkan penyakit bagi orang yang mandi di tempat tersebut. Selain itu dapat memberikan keberhasilan dan kemuliaan sesuai dengan namanya.

Patirtan Kamulyan terletak di dusun Bangeran, desa Sabdodadi, kecamatan Jetis, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Lokasi Patirtan Kamulyan berada diantara Jalan Parangtritis dengan Jalan Imogiri Barat. Rute termudah dari Jalan Parangtritis hingga kilometer 10. Selanjutnya cari dua gang di sebelah utara dari gang menuju MAN Sabdodadi. Ikuti gang masuk hingga tiba di Masjid Bangeran. Dari Masjid Bangeran ambil jalan ke arah utara kemudian ada pertigaan kecil ambil jalan ke kanan atau arah timur. Posisi sendang berada di ujung jalan dan ujung perkampungan penduduk. Area parkir yang disediakan cukup terbatas hanya dapat menampung 1-2 kendaraan roda empat saja dan belasan kendaraan beroda dua.

Patirtan Kamulyan menempati komplek seluas 1600 meter persegi dimana terdiri dari satu bangunan pendopo, kolam pemandian laki-laki, kolam pemandian perempuan, dan sebuah teras untuk tirakat. Sendang Lanang atau pemandian laki-laki berukuran 2,5 x 4 meter. Sendang Wadon atau pemandian perempuan berukuran 2 x 4 meter. Kedalaman rata-rata dari sendang ini sekitar 0.5-1 meter. Ukuran diameter Sumur Kawak sekitar 0,70 m sedangkan kedalaman Sumur Kawak sekitar 3 meter. Debit airnya tergolong kecil atau hampir tidak terlihat mengalir. Namun demikian kolam penampungan air selalu terisi penuh walau digunakan untuk mandi. Pada sisi selatan sendang ada sebuah pohon beringin kecil yang digunakan sebagai tempat melakukan ritual tirakat dan meletakkan sesaji.

Sejarah Patirtan Kamulyan berawal dari zaman Kerajaan Majapahit yang dipimpin Prabu Brawijaya. Dikisahkan Gusti Ayu Brawijaya atau istri dari Prabu Brawijaya Majapahit menderita sakit yang tidak kunjung sembuh meskipun sudah dibawa ke berbagai tabib. Suatu ketika Gusti Ayu Brawijaya bermimpi bahwa ia harus mandi pada sebuah sumber mata air yang munculnya di sisi barat dan timur sungai sekaligus. Beliau mempercayai mimpi tersebut dan mencari keberadaan sumber mata air didampingi pengawal pribadinya yaitu Kyai Lodarasari dan Nyai Lodarasari. Akhirnya beliau menemukan sumber mata air yang dicarinya dan sembuh setelah mandi di sumber mata air tersebut.Pada era zaman Kerajaan Mataram Islam, sendang atau mata air ini digunakan untuk mandi sekaligus mengobati luka prajurit Mataram ketika diserang prajurit Mangir. Luka-luka dan infeksi yang dialami para prajurit itu menimbulkan aroma banger atau bangir (amis), namun setelah dimandikan di sendang ini aroma tersebut menjadi arang-arang (jarang). Oleh karena itu muncullah istilah bangir + arang atau banger + arang yang lama-kelamaan berubah penyebutannya menjadi bangeran. Istilah atau penyebutan terakhir inilah yang kemudian digunakan hingga sekarang untuk menamai wilayah yang kemudian menjadi dusun yaitu Dusun Bangeran.

Kondisi Patirtan Kamulyan saat ini sudah dipugar dengan dibuatkan bangunan permanen lengkap dengan area parkir. Hanya saja proses pemugaran tidak memperhatikan nilai estetika dimana terlihat seperti pemandian umum saja dan tidak terlihat seperti situs pemandian peninggalan sejarah. Warna cat tembok yang didominasi warna kuning dan bentuk bangunan yang terkesan asal-asalan cukup disesalkan. Diharapkan kalau pemerintah desa atau daerah serius mengembangkan kawasan ini menjadi wisata religi maka harus diperbaiki bentuk komplek bangunannya (text/foto: annosmile)

Baca Juga  Mie Lampung Uno, Cita Rasa Mie Ayam Khas Lampung Di Yogyakarta
INFORMASI
Patirtan Kamulyan
Dusun Bangeran, desa Sabdodadi, kecamatan Jetis, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Retribusi
Tiket Masuk : *gratis*

Kirim pendapat