Mengais Sisa-Sisa Sejarah di Kawasan Pasar Kotagede

Mengais Sisa-Sisa Sejarah di Kawasan Pasar Kotagede
Rate this post

Salah satu kawasan yang cukup menonjol yang terletak di Kotagede adalah kawasan pasar Kotagede yang sekarang lebih dikenal sebagai Pasar Legi Kotagede. Keberadaan pasar ini telah ada sejak awal mula berdirinya kerajaan Mataram Islam dan masih digunakan untuk berdagang hingga sekarang.

Pasar Kotagede dulunya dikenal dengan nama Pasar Gede atau Sargede yang merupakan pasar tradisional yang dibangun pada masa Panembahan Senopati. Keramaian Pasar Gede masih bisa dirasakan ketika penanggalan Jawa menunjukkan pasaran Legi. Sehingga sekarang lebih dikenal sebagai Pasar Legi Kotagede.

Ketika tiba di area parkir Pasar Legi Kotagede, suasana cukup sepi karena bukan hari pasaran legi dalam penanggalan Jawa. Melihat kondisi bangunan pasar dari depan nampak baru karena telah mengalami renovasi setelah gempa yang melanda kota Yogyakarta pada tahun 2006 lalu. Sebetulnya bangunan Pasar Legi Kotagede bukan merupakan peninggalan pada zaman Kerajaan Mataram Islam dan dibangun pada zaman penjajahan Belanda pada era tahun 1930an.

Ketika berjalan ke arah samping timur bangunan pasar, kita melihat sebuah monumen yang kadang tertutup oleh tenda pedagang ataupun gerobak pedagang. Monumen yang berada di timur laut dekat persimpangan jalan ini merupakan monumen untuk memperingati Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Monumen Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini lebih dikenal dengan sebutan Pacak Suji. Pembangunan monumen ini adalah wujud rasa hormat dan suka cita masyarakat Kotagede. Sri Sultan HB IX naik tahta 1938, masyarakat Kotagede membangun Monumen Jumenengan tahun 1940. Waktu itu, di atas tugu persegi ada lambang Keraton Ngayogyakarta, kemudian dihiasi dengan kain putih sebagai dekorasi.

Kondisi monumen Pacak Suji terlihat kurang terawat walaupun kondisi sudah direnovasi setelah runtuh saat terjadi gempa 2006 lalu. Monumen ini pernah mengalami nasib memprihatinkan menjadi tempat pembuangan sampah dan tempat parkir sepeda. Saat ini area monumen telah dibuat pagar keliling agar tidak digunakan untuk memarkir sepeda dan berjualan. Selanjutnya saya berjalan menuju ke sisi barat kembali melewati bagian depan Pasar Legi Kotagede. Di sisi barat pasar terdapat sebuah bangunan yang ternyata merupakan gardu listrik tua.

Gardu listrik tua Kotagede dikenal dengan sebutan Babon Aniem dibangun pada tahun 1900 an. Menggunakan nama Babon karena gardu listrik ini adalah gardu induk (dalam bahasa jawa=babon). Sedangkan nama Aniem digunakan karena gardu pusat kontrol listrik tersebut merupakan warisan perusahan listrik Pemerintah Belanda, NV ANIEM (Algemeen Nederlands Indische Electriciteit Maatschappij)

Kondisi gardu listrik Kotagede (Babon Aniem) sudah mengalami renovasi seperti bagian lain di Kawasan Pasar Kotagede. Jendela kayu sudah diganti dengan yang baru dan diberi papan keterangan mengenai sejarah keberadaan gardu listrik ini.

Terakhir yang saya tahu, di seberang jalan kecil dari gardu listrik terdapat sebuah bangunan kecil berukuran tinggi kurang dari 3 meter. Dari jauh bangunan ini kurang terlihat karena tertutup oleh pedagang yang menggunakan atap payung. Ketika berjalan mendekat, saya baru tahu kalau bangunan ini merupakan tugu yang bernama Tugu Ngejaman.

Asal Usul nama Situs atau Tugu Ngejaman karena terdapat sebuah tugu prasasti yang dilengkapi jam penunjuk waktu. Tugu Ngejaman merupakan hadiah dari Kasunanan Surakarta era Paku Buwana X.

Kondisi tugu nampak kurang menarik karena kondisinya sudah terlihat kusam dan kotor, selain itu jam yang menempel pada tugu tidak menunjukkan waktu yang tepat alias sudah rusak dan posisinya berhimpit dengan tembok rumah. Seiring berjalannya waktu, Tugu Ngejaman menjadi salah satu bukti sejarah perkembangan Kawasan Kotagede.

Peninggalan sejarah di sekitar Pasar Legi Kotagede sudah mengalami perbaikan dan renovasi, namun kurangnya pemahaman dan perhatian sebagian besar masyarakat terhadap peninggalan sejarah masa lampau membuat kondisinya terbengkalai dan kurang terawat. Namun ditengah sikap kurang peduli masyarakat terhadap peninggalan sejarah, masih ada sekelompok orang yang  memberikan perhatian lebih kepada peninggalan sejarah di Kawasan Kotagede dan menjaganya agar tetap lestari.

Kirim pendapat