Pasar Kakilangit, Tren Pasar Kekinian Musiman Yang Berkonsep Tradisional

Pasar Kakilangit, Tren Pasar Kekinian Musiman Yang Berkonsep Tradisional
3 (60%) 2 votes

Pasar Kakilangit merupakan pasar mini yang dikemas dengan nuansa tradisional atau khas pedesaan di daerah Mangunan Bantul. Konsep yang dipergunakan mirip seperti Pasar Papringan yang berada di daerah Temanggung. Penggagas pasar ini adalah Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dan Genpi  (Generasi Pesona Indonesia) dalam program destinasi digital dimana promosi daya tarik wisata baru dengan sosial media (facebook, instagram, twitter). Pasar ini mulai beroperasi pada tanggal 10 Desember 2017 dan diselenggarakan pada hari sabtu dan minggu setiap minggunya.

Pasar Kakilangit (Kaki Langit) terletak di Jalan Raya Imogiri-Dlingo, desa wisata Kakilangit, dusun Cempluk, desa Mangunan, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Lokasi Pasar Kakilangit berada di samping kawasan Sendang Mangunan Dlingo atau akses keluar dari Kebun Buah Mangunan. Rute menuju pasar kekinian ini dari pusat kota Yogyakarta ke arah selatan melewati Terminal Giwangan dan Jalan Imogiri Timur. Ikuti Jalan Imogiri Timur lurus hingga melewati Pasar Imogiri dan menemui sebuah pertigaan. Ambil jalan ke kiri mengikuti petunjuk jalan menuju ke arah Makam Raja-Raja Mataram Imogiri. Setelah melewati lapangan atau bekas pasar Imogiri lama dan sebelum tiba di area Terminal Parkir Makam Raja-Raja Imogiri, ada sebuah pertigaan ambil jalan ke kanan menuju ke arah Kebun Buah Mangunan dan Dlingo. Ikuti jalan tersebut hingga tiba di kawasan Sendang Mangunan Dlingo sebelum simpangan menuju Hutan Pinus Mangunan dan Kebun Buah Mangunan. Area parkir sedikit masuk kedalam dan tidak terlalu luas karena hanya menggunakan sebagian dari area parkir panggung terbuka Sendang Mangunan.

Pengunjung yang baru datang ke Pasar Kakilangit dipersilakan menukarkan mata uang Rupiah ke mata uang koin untuk membeli makanan dan minuman di pasar ini. Tempat penukaran koin berada di Gubug Lurah Pasar yang berada di pintu masuk Pasar Kakilangit. Penjaga penukaran uang koin berpakaian adat Jawa khas pedesaan. Uang koin yang disediakan ada beberapa angka nominal pecahan mulai dari keping koin bernilai 1 (satu), 2 (dua), 5 (lima), dan 10 (sepuluh). Adanya beberapa angka nominal sedikit merepotkan bagi pengunjung karena harus melihat nominal yang tertera pada keping koin. Pengunjung yang menukarkan sejumlah uang menjadi koin akan menerima bungkus uang berbentuk kain yang diberi tali. Namun bungkus uang ini tidak dibawa pulang melainkan dikembalikan ke Gubug Lurah Pasar sebelum meninggalkan lokasi berikut keping mata uang koin yang tersisa. Setelah menukarkan mata uang koin pengunjung dipersilakan masuk ke kawasan Pasar Kakilangit untuk membeli makanan dan minuman yang berada di stan-stan.

Stan-stan makanan dan minuman di Pasar Kakilangit menempati area parkir kendaraan yang dahulu digunakan untuk parkir pengunjung Sendang Mangunan dan Panggung Alam Terbuka atau dikenal dengan istilah Amphitheater. Penggagas pasar dan masyarakat sekitar memanfaatkan area Sendang Mangunan tersebut karena kawasan tersebut sudah tidak pernah lagi sebagai lokasi acara, event, ataupun festival. Terakhir area Sendang Mangunan digunakan komunitas Jogja Shutter Camp pada tanggal 10 April 2016 dalam acara fotografi bertajuk blusukan Mangunan dengan acara utama pemotretan pengrajin keris di Banyusumurup, resepsi pengantin di Hutan Pinus Mangunan, upacara mitoni di Sendang Mangunan, kesenian jatilan, dan tarian senja di Puncak Becici.

Bangunan stan makanan dan minuman di Pasar Kakilangit memiliki konsep bangunan yang sama dengan yang digunakan pada Pasar Kangen Jogja. Bangunan stan terbuat dari rangka bambu yang dibangun memanjang seperti kios-kios. Atap bangunan menggunakan asbes yang dilapisi atap ijuk agar terlihat lebih alami. Kemudian antara stan penjual satu dengan yang lain dibatasi dengan sekat yang terbuat dari anyaman bambu. yang telah dicat mengkilat. Pewarnaan bangunan menjadi cerah dan mengkilap justru menghilangkan kesan tradisional yang ndeso dan lebih memberikan kesan glamour atau mahal seperti halnya resto-resto yang menggunakan bangunan joglo jawa. Hal ini ditambah lagi dengan lantai yang menggunakan paving semen yang memperkuat konsep pasar tradisional perkotaan bukan pasar tradisional bersifat pedesaan.

Menu makanan yang ditawarkan stan-stan Pasar Kakilangit antara lain sego goreng (nasi goreng), sego godog (nasi rebus), sego rames (nasi rames), nasi merah, nasi pecel, lontong opor, mie des, opor ayam, oseng daun pepaya, oseng jamur, oseng pepaya, bubur kacang hijau dan ketan hitam, bubur sumsum, soto ayam kampung, soto sapi, kacang godok (kacang rebus), jagung godok (jagung rebus), brongkos, telo ndeso, urap, dan sebagainya. Menu minuman antara lain teh panas, jeruk panas, wedang uwuh, rempah susu, kopi ireng, ronde, dan sebagainya. Menu-menu yang ditampilkan menu-menu khas pedesaan di daerah sekitar Yogyakarta. Menu-menu yang ditawarkan sebenarnya tidak unik dan menarik lagi karena sudah umum ditawarkan di tempat-tempat lain yang menyajikan menu tradisional seperti di rumah makan, restoran, atau dalam event festival.

Panggung yang merupakan bagian dari Pasar Kakilangit sudah tidak ada pertunjukkan seni lagi seperti pada awal-awal pembukaan pasar. Panggung dibiarkan sepi tanpa ada suara yang menambah kemeriahan pasar. Padahal sebagian pengunjung berharap iringan musik dan pertunjukan di panggung dapat menemani saat menikmati santapan makanan dan minuman. Saat ini panggung tersebut hanya digunakan sebagai spot selfie atau spot berfoto oleh pengunjung.

Sepertinya Pasar Kakilangit harus banyak pembenahan dan perbaikan agar dapat menarik wisatawan untuk datang berkunjung. Pada awal pembukaan pasar ini tergolong sukses menarik animo untuk datang berkunjung. Kekuatan promosi acara dari sosial media (sosmed) di internet memang tidak perlu dipertanyakan lagi karena memang menyasar pengunjung usia muda. Namun jangan berbangga dulu karena persaingan dunia pariwisata sangat ketat dan lokasi ini berada di antara obyek wisata yang terkenal. Beberapa bulan berselang, jumlah pengunjung mengalami penurunan atau dapat disebut mulai sepi pengunjung. Sepertinya wisatawan hanya sekedar penasaran dengan apa yang dibahas pada sosial media. Semoga penggagas acara menyadari hal ini dan tidak sekedar membuat kegiatan atau program yang bersifat musiman, tidak berkelanjutan, dan berakhir dengan berhenti karena sepi peminat. Secara keseluruhan Pasar Kakilangit dapat menjadi salah satu pilihan sarapan pagi di sekitar perbukitan Mangunan. (text/foto: annosmile)

INFORMASI
Pasar Kakilangit
Jl. Raya Imogiri-Dlingo, desa wisata Kakilangit, dusun Cempluk, desa Mangunan, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta

Jam Buka
Sabtu-Minggu mulai pukul 06.00 s/d 11.00 WIB

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Nasirullah Sitam:

    Pasar-pasar seperti ini kok banyak banget ya. Di kota-kota lain juga sedang digaungkan. Tetap saja menurutku yang paling jos itu Pasar Papringan :-)

Kirim pendapat