Pulau Timang, Bukan Wisata Biasa

Pulau Timang, Bukan Wisata Biasa
Rate this post

Beberapa waktu lalu ketika saya bertemu salah seorang fotografer yang memamerkan sebuah foto yang cukup menarik bagi saya. Sebuah pantai yang merupakan tebing dan ada tali mirip seperti jembatan yang digunakan untuk menyeberang ke pulau yang berdiri kokoh diseberang. Pulau yang bernama Pulau Panjang atau Pulau Timang ini menjadi penasaran untuk kami selusuri.

Pantai Timang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Terdapat batu karang raksasa yang disebut Watu Panjang yang sering disebut dengan nama Pulau Timang atau Pulau Panjang.

Setelah sempat menengok kondisi Pantai Sundak, kami langsung mencari informasi keberadaan Pantai Timang karena minim informasi. Menurut informasi pertama dengan salah seorang yang kami temui di lokasi Pantai Sundak, lokasi Pantai Timang berada di dekat Pantai Siung tapi kurang diketahui posisi jalannya karena bukan merupakan kawasan wisata.

Kami begegas melewati jalan yang melewati tepian kawasan pantai kemudian memasuki jalur menuju ke Pantai Siung. Di tengah perjalanan kami bertanya kepada salah seorang penduduk sekitar. Diketahui posisi jalan menuju ke Pantai Timang melalui jalan perkampungan penduduk yang tidak beraspal dan sebagian besar merupakan jalan batu yang katanya cukup terjal. Letak jalan kecil menuju ke Pantai Timang berpatokan pada sebuah lapangan di tepi jalan.

Bukan seorang petualang kalau melihat medan yang berat dan resiko tersesat menghentikan perjalanan menuju Pantai Timang yang cukup misterius ini. Dan ternyata benar, kami berbelok melewati jalan menuju perkampungan penduduk setelah lapangan yang dibagian tepi sudah disemen. Sepertinya merupakan jalan baru yang habis dibangun berkat swadaya masyarakat setempat. Dibalik kekeringan yang terjadi di Gunungkidul, mereka masih mau swadaya membangun desanya.

Jalan baru yang terbuat dari semen habis ketika kami melewati pemukiman dan memasuki kawasan kebun atau ladang. Jalanan berubah menjadi jalan batu yang belum dihaluskan dan hanya sebagai dasar pembuatan jalan. Jalan batu yang terjal ini memang tidak disarankan untuk kendaraan biasa seperti sepeda motor dan mobil. Kami yang nekat berboncengan sepeda motor mengalami slip beberapa kali dan hampir terjatuh sekali akibat jalan licin yang menurun. Ketika kami berpapasan dengan penduduk sekitar yang memiliki ladang di sekitar jalan tersebut, mereka menggunakan kendaraan motor tanpa berboncengan karena medan yang berat. Di beberapa titik terlihat kandang ternak petani yang sengaja di bangun jauh dari pemukiman.

Tiba diujung jalan, kami memarkir sepeda motor kami di salah satu gubuk milik nelayan lobster sambil meminta izin kepada nelayan yang kebetulan sedang duduk-duduk di gubuk tersebut. Sambil menyapa nelayan, kami bertanya mengenai lokasi Pulau Timang dan diberi tahu bahwa lokasinya berada dibalik bukit karang yang ada di tepi pantai.

Akhirnya kami berjalan menyusuri jalan setapak yang berupa batuan dan menaiki bukit yang dibagian atas penuh dengan rerimbunan pohon pandan laut khas pantai selatan.  Saat menaiki bukit, kami melihat pemandangan Pantai Timang berada disebelah kiri atau timur tebing yang terlihat alami dan berpasir putih. Kami meneruskan perjalanan dan menerobos pepohonan pandan laut untuk menuju bibir bukit karang yang berbatasan langsung dengan laut. Dari tebing karang Pantai Timang, kami melihat pemandangan yang indah berupa Pulau Timang atau Watu Panjang yang berdiri kokoh diseberang. Ditepi tebing karang terdapat kereta gantung yang digunakan untuk menyeberang ke Pulau Panjang.

Sejarah keberadaan kereta gantung pulau Timang bermula untuk memudahkan usaha nelayan dalam mencari lobster yang terdapat di Watu Panjang  (Pulau Timang). Sekitar 4 tahun yang lalu dibuat sebuah kereta gantung dengan menggunakan tali sepanjang 200 meter dan berdiameter 4cm. Kereta gantung tersebut terbuat dari besi dan kayu dan sampai saat ini digunakan nelayan untuk menyeberang mencari lobster.

Kami berjalan mendekati lokasi tiang penyangga kereta gantung yang membuat kami penasaran. Ternyata benar, kereta gantung tersebut seluruhnya terbuat dari balok kayu yang disusun. Tiang penyangga yang menghubungkan tali dari dua sisi juga terbuat dari kayu yang dikaitkan pada rongga-rongga karang. Melihat pemandangan tersebut membuat siapa saja tidak percaya bahwa kereta gantung tradisional yang merupakan bikinan nelayan sendiri tersebut masih layak digunakan untuk menyebrang.

Deburan ombak yang ganas hingga percikan air laut sampai ke atas tebing membuat nyali kami ciut untuk mencoba kereta gantung ini. Waktu ombak pasang ini memang butuh nyali tinggi dan cukup berbahaya bila tidak dilakukan dengan orang yang berpengalaman.  Saya mengurungkan niat mencobanya untuk menyeberang ke Pulau Timang ketika diberitahu sebaiknya jangan mencoba ketika musim pasang dan menunggu waktu ombak tenang di beberapa hari kedepan. Bila serius ingin mencoba menaiki kereta gantung dan berkunjung ke seberang atau Pulau Timang dipersilakan untuk menghubungi nelayan pencari lobster agar dibantu mendorong kereta gantungnya. Apakah anda berani mencobanya? (text/foto: annosmile)

Ada 10 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. jarwadi:

    kelihatannya panas sekali waktu dikau ke sana :D

  2. mila:

    mana kereta gantung nya?

  3. tuteh:

    Terima kasih karena telah menulis tentang wilayah ini… saya jadi tau keindahannya.. apalagi pantainya itu hehehe… hidup traveling! ;))

  4. Kumpulan Cerita Inspirasi:

    gunung kidul memang menyimpan banyak keindahan. saya jadi teringat kembali ketika berkunjung kesana. :)

  5. Antyo:

    Lha tenan to, saya belum pernah dengar nama tempat ini. Suwun infonya. :)

  6. soewoeng:

    kalo nampu tau gak mas? dulu pernah seminggu di nampu

  7. Tri Setyo Wijanarko:

    pernah liat ini di tipi.. tapi sampe sekarang masih penasaran juga pengen kesana nyobain kereta gantungnya.. :D

  8. fahmy:

    saya udah pernah nyebrang sampai pulau timangnya :p
    panasnya itu lho gak nahan :))

  9. PRofijo:

    Pancen tim blusukan sejati. Aku ae rung tekan kono….. #WORSHIP

Kirim pendapat