Pantai Ngobaran, Pantai yang Sarat Sejarah dan Mistis

Pantai Ngobaran, Pantai yang Sarat Sejarah dan Mistis
4.3 (86.67%) 6 votes

Pantai Ngobaran merupakan salah satu gugusan pantai di Kabupaten Gunungkidul. Kami mendapatkan informasi bahwa kawasan pantai ini merupakan wisata sepaket tiga pantai yang lokasinya berdampingan, yaitu Pantai Ngrenehan, Pantai Ngobaran, dan Pantai Nguyahan.

Pantai Ngobaran terletak di desa Kanigoro, kecamatan Saptosari, kabupaten Gunungkidul. Pantai Ngobaran merupakan pantai yang memiliki sejarah yang panjang karena berkaitan dengan sejarah akhir masa keberadaan kerajaan Majapahit dan zaman kerajaan islam di Indonesia. Nama Ngobaran berasal dari kata kobaran yang berarti terbakar.

Perjalanan menuju ke pantai Ngobaran berbeda dengan menuju ke kawasan pantai-pantai di Gunungkidul pada umumnya seperti deretan pantai Baron, Kukup, dan Krakal. Lokasi pantai Ngobaran berada disebelah barat dari kota Wonosari sehingga setelah melewati Hutan Pendidikan Wanagama kami berbelok ke kanan menyusuri jalanan menuju Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan. Perjalanan dilanjutkan hingga menembus jalur baru penghubung Pantai Baron dengan Pantai Parangtritis kemudian mengikuti arah ke Pantai Ngobaran.

Tiba di kawasan Pantai Ngobaran, para pengunjung termasuk kami disambut dengan suasana mistis pantai ini. Bau menyan dan wewangian kadang terlintas di hidung. Wajar, mengingat di kawasan ini banyak berdiri bangunan yang digunakan untuk bersembahyang, bersemedi, dan bertirakat. Beberapa pura dibangun ditempat ini baik buat beribadah umat Hindu maupun Kejawen. Kendaraan langsung kami parkir di gubuk-gubuk yang menyediakan jasa parkir demi keamanan dan melindungi kendaraan dari terik sinar matahari.

Pantai Ngobaran merupakan bagian sejarah kerajaan Majapahit, dimana pantai Ngobaran merupakan titik akhir perjalan panjang kerajaan Majapahit. Akhir kerajaan Majapahit  yang berpusat di Trowulan Jawa Timur dimulai dari lemahnya sistem pemerintahan dan bersamaan dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara pulau Jawa pada pertengahan abad ke 15 M. Salah satu putra raja Brawijaya V, yakni Raden Patah adalah penguasa kasultanan Demak. Perkembangan agama Islam di pulau Jawa amat pesat, hingga sampai menyentuh pusat kerajaan Majapahit dan kemudian kerajaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi.

Ketika berjalan menuju ke tepian pantai, kami melewati sebuah gapura yang terdapat tembok yang melingkar mirip seperti bangunan pura. Di bagian dalam berdiri patung-patung dan arca yang disusun membentuk formasi serta dua buah bangunan yang terbuat dari bambu dengan atap ijuk. Beberapa arca sepertinya tidak asing lain karena bentuknya mirip dengan arca Ganesha, Syiwa, Brahma, dan sebagainya.

Di ujung bangunan terdapat patung Dewa Wisnu menaiki Garuda yang menghadap ke arah selatan atau arah laut. Hati-hati bila melintasi tempat ini karena di beberapa sudut kadang ditemukan sesaji persembahan bekas ritual atau sembahyang ajaran kejawen. Di sebelah timurnya pada bagian bawah terdapat sebuah bangunan mirip masjid yang berkiblat ke arah selatan. Lantai dalam bangunan seperti masjid tersebut berupa pasir dan sepertinya tidak pernah digunakan karena bayak terdapat jaring laba-laba dibagian dalamnya.

Sejarah keberadaan ajaran Kejawen bermula ketika Raja Brawijaya V bersama salah satu putranya yakni Bondan Kejawan meninggalkan kerajaaan Majapahit, berjalan ke arah barat dan singgah di Pantai Ngobaran. Semasa Bondan Kejawan hidup, terjadi interaksi antara masyarakat dengan pangeran, kemudian tutur kata dan perbuatan sang pangeran, Bondan Kejawan dikenang oleh masyarakat setempat, dan sampai sekarang dikenal sebagai aliran kepercayaan “kejawan”.

Maka di pantai Ngobaran terekpresi betapa di situ terdapat nilai-nilai luhur tentang kebhineka-an. Di pantai Ngobaran dapat di temui bangunan Joglo tempat peribadatan aliran Kejawan, masjid tempat peribadatan umat Muslim, dan pura tempat peribadatan pemeluk agama Hindu. Masjid unik di pantai Ngobaran tampak menyatu dengan alam, lantai masjid ini tetap pasir, hanya diberi alas tikar, menghadap ke arah laut, ke arah selatan tidak seperti biasanya masjid-masjid di Gunungkidul menghadap ke arah timur, namun arah kiblat tetap sama ke arah barat.

Posisi bangunan pura kejawen yang terletak di tepi pantai dan di atas tebing ini mengingatkan kita pada Pura Ulu Watu di Pulau Bali sehingga kawasan ini kerap disebut dengan Ulu Watu-nya Jogjakarta atau Gunungkidul. Tidak perlu jauh-jauh ke pulau seberang untuk menikmati suasana pantai yang terdapat pura dan mungkin satu-satunya di pulau Jawa. Hampir semua tepi laut di kawasan Pantai Ngobaran telah dibangun beberapa pura meskipun beberapa pengerjaannya belum selesai.

Disamping pura kejawen terdapat sebuah bukit karang yang posisinya lebih tinggi. Dari atas bukit karang tersebut, kita bisa melihat pemandangan Pantai Ngobaran dari sisi atas paling tinggi berikut pantai-pantai lain tang berada didekatnya. Di puncak bukit tersebut juga terdapat bangunan yang tertutup fungsinya sebagai tempat bersemedi. Namun ketika kami tiba di puncak bukit, gerbang masuk bangunan peribadatan tersebut ditutup dan sepertinya tidak sembarangan orang boleh memasukinya. Mungkin lebih terhadap melindungi bangunan tersebut dari kerusakan dari orang-orang yang tidak berkepentingan kecuali meminta izin untuk beribadat atau bersemedi.

Ketika menuruni bagian bawah pura kejawen tadi dan menyusuri dinding tebing karang yang cukup tinggi, kami dihadang kembali kepada suasana mistis. Diujung jalan terdapat sebuah petilasan yang disebut Petilasan Wono Pantai Ngobaran yang dijaga oleh seorang juru kunci. Petilasan tersebut terlihat hanya sebuah tanah lapang yang berukuran kurang lebih 4 x 2 meter dan dibagian tepinya terdapat beberapa sesaji.

Banyaknya sesaji di berbagai sudut Pantai Ngobaran mengisyaratakan kita sebagai pengunjung atau wisatawan untuk berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku karena berada di tempat peribadatan umat yang cukup sakral. Setelah cukup puas menelusuri kawasan pura di Pantai Ngobaran dan mengetahui informasi yang ada, kami berjalan menuju ke kawasan pantai yang sejak tadi terlihat indah oleh mata.

Ketika tiba dibagian bawah atau pantai, kondisi Pantai Ngobaran sedang surut. Keuntungannya kita bisa berjalan di karang-karang yang ditumbuhi rumput laut dan ganggang laut. Beberapa ikan terjebak diantara cekungan karang yang cukup menggoda untuk ditangkap. Saat pagi hari, banyak terlihat nelayan yang sedang mencari rumput laut di tempat ini. Selain itu pemandangan dari bawah tebing sungguh memukau dan tidak kalah dengan pemandangan dari atas bukit. Kita tidak akan pernah bosan berada di tempat ini yang suasananya terlihat masih alami dan bersih dari sampah-sampah.

Hal yang menarik lainnya adalah di dekat Pantai Ngobaran ini terdapat beberapa pura yang digunakan untuk ibadat umat Hindu. Setiap setahun sekali diadakan upacara Melasti sebagai perayaan umat Hindu di Pantai Ngobaran. Arus wisatawan dari waktu ke waktu sepertinya bertambah karena keunikan pantai ini dan diharapkan disediakan titik-titik kotak sampah agar mengurangi tindakan wisatawan yang membuang sampah sembarangan. Kuliner khas pantai ini adalah hidangan laut dan sayur rumput laut yang tidak ketinggalan harus dicoba karena rasanya lain daripada yang lain. (text/foto: annosmile)

== Tiket Masuk

Dewasa = Rp2.000,-/orang

== Informasi Tambahan

Biaya parkir di Pantai Ngobaran cukup mahal dan terkesan banyak pungutan liar. Tidak ada karcis parkir resmi di obyek wisata. Pengunjung diharapkan berhati-hati dan semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah yang mengelola kawasan ini.

Ada 12 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. ndop:

    sumpah kayak bali yaaaa…..

  2. marsudiyanto:

    Persis Bali…
    Mr. nDop bener sekali
    (biasane salah)

  3. Dendy Darin:

    Itu foto yang terakhir awannya keren bener! Ya, bener Pak Mars, biasane salah #eh

  4. Nahdhi:

    Sudah sampai puncak yang di ujung bukit di tepi pantai itu belum? Yang tertutup rapat oleh pagar…

    • admin:

      itu yg foto dari atas bukit mas diambil darisana :)

  5. tomi:

    ediaaan.. maksimal tenan mas..
    semua postingan pantai baru di ngrenean.. ngobaran dari dl udah di planing tp g jadi2 hehe

  6. Maztrie:

    Ih ini keadaan terkininya yaa..
    semoga tetap terjaga kebersihannya Mass…

  7. jarwadi:

    kowe kesurupan ora mas, neng ngrenehan, hehe

  8. maryo:

    keren bro pantainya…indah dgn mistisnya.,,,,

  9. bintangair:

    uwaaaaa cakep banget…. inget kunung kidul, inget temenku yang tinggal di sana.

  10. Pencerah:

    aku malah durung tau mrono

  11. Hdhe16:

    Sekarang juga saya kesana! *buka pintu kemana saja*

Kirim pendapat