Museum Sasana Wiratama Pangeran Diponegoro Merana

Museum Sasana Wiratama Pangeran Diponegoro Merana
Rate this post

Keberadaan bekas kediaman Pangeran Diponegoro yang saat ini menjadi Museum Sasana Wiratama acap kali jarang terdengar. Sebagai salah satu museum dari sekian banyak museum yang berdiri di kota Yogyakarta ini bukan menjadi tujuan utama wisata ke museum di kota Yogyakarta. Padahal keberadaannya cukup penting dalam sejarah nasional bangsa Indonesia sebelum mencapai kemerdekaan.

Museum Sasana Wiratama Pangeran Diponegoro berada di dekat Jalan HOS Cokroaminoto  dengan alamat lengkap Tegalrejo TRIII/430, Yogyakarta. Museum Sasana Wiratama atau monumen ini merupakan kediaman Pangeran Diponegoro diresmikan pada tanggal 9 Agustus 1969 oleh Jendral TNI Soeharto.

Gerbang Masuk Museum Sasana Wiratama Pangeran  Diponegoro

Letak Museum Sasana Wiratama Pangeran Diponegoro yang berada di tengah-tengah perkampungan sempat membuat kami kebingungan menuju ke lokasi meskipun lokasinya berada di daerah perkotaan. Saat tiba di kawasan museum, terdapat area parkir luas namun terlihat sepi kendaraan yang terparkir. Saya langsung memarkir sepeda motor kemudian berjalan memasuki gerbang masuk museum.

Di pintu gerbang sendiri terdapat dua orang penjaga berpakaian biru tentara dan sepertinya Museum Sasana Wiratama ini dikelola oleh Disjarah AD. Setelah mengutarakan izin untuk mengunjungi museum dan mengisi daftar pengunjung, saya langsung memasuki area dalam yang berada dibalik gerbang. Terhampar sebuah halaman luas yang di depannya terdapat pendopo berukuran besar dan disamping kiri kanan terdapat bangunan kecil memanjang yang berfungsi sebagai ruang kantor dan menyimpan koleksi museum.

Pangeran Diponegoro sendiri merupakan keturunan bangsawan yang melawan penjajahan Belanda pada tahun 1825 – 1830 terkenal dengan nama Perang Diponegoro.

Monumen Tembok Berlubang

Di area halaman depan pendopo terdapat beberapa meriam kuno yang ditata secara apik dan dikelilingi taman. Saat melihat salah satu koleksi museum di ruangan sisi kiri, terlihat kereta yang pernah digunakan Pangeran Diponegoro berikut perlengkapan berkuda dalam kondisi kurang terawat dan dipenuhi jaring laba-laba. Beberapa koleksi lain dalam ruangan yang lain juga kondisinya tidak jauh lebih baik. Cukup ironis mengingat benda-benda koleksi merupakan peninggalan salah seorang Pahlawan Nasional.

Koleksi Museum Sasana Wiratama yang dipamerkan ini terbilang sedikit karena hanya disimpan dalam beberapa ruangan kecil dan sebagian pintunya terkunci. Sebagian ruangan yang ada merupakan ruang perkantoran dan rumah tempat tinggal. Namun saya tidak mau berkesimpulan cepat mengenai museum ini dan akhirnya saya meneruskan perjalanan mengelilingi area museum. Di area belakang ada sesuatu yang menarik perhatian yakni sebuah lubang pada dinding dan di dekatnya terdapat sebuah prasasti. Lubang tersebut berfungsi untuk meloloskan diri Pangeran Diponegoro dari kepungan penjajah Belanda.

Batuan Yoni

Cukup menarik meskipun tidak ada papan petunjuk informasi di lokasi lubang yang menurut beberapa orang dijebol (dilubangi) sendiri oleh Pangeran Diponegoro untuk keluar dari kepungan. Tidak ada sesuatu yang menarik lagi di area belakang kawasan Museum Sasana Wiratama Pangeran Diponegoro. Seluruh bangunan memanjang seperti mess sepertinya masih difungsikan sebagai barak tempat tinggal para prajurit yang menjaga museum.

Beberapa hal yang membuat saya bertanya-tanya tentang keberadaan beberapa yoni dan batu lumpang yang tersebar di beberapa sudut kawasan museum. Entah darimana asal dan segi keaslian batu-batu yang merupakan peninggalan sejarah Indonesia. Akhirnya saya mengakhiri kunjungan saya ke museum ini dan berjalan kembali ke arah halaman untuk keluar dari museum. Nasib museum ini tidak seberuntung museum-museum lain yang ada di kota Yogyakarta. Museum ini sepi pengunjung, penataan koleksi yang kurang menarik, serta minimnya papan informasi di setiap koleksi dan bagian penting dari bangunan kediaman Pangeran Diponegoro. Saat ini museum Sasana Wiratama lebih condong digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan atau ruang pertemuan ketimbang sebagai tempat edukasi sejarah Indonesia. Namun hanya dengan inilah museum ini bisa bertahan untuk memelihara kediaman Pangeran Diponegoro berserta isinya. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat