Museum Purbakala Pleret

Museum Purbakala Pleret
3 (60%) 2 votes

Sedikit orang yang tahu bahwa di daerah Pleret terdapat sebuah museum purbakala yang dinamakan Museum Purbakala Pleret. Museum ini sebetulnya belum resmi dibuka, menunggu penataan dan kelengkapan isi museum yang kabarnya masih sedikit koleksi yang ada.

Museum Purbakala Pleret berada di dusun Kedaton, desa Pleret, kecamatan Pleret, kabupaten Bantul. Museum ini berupa penampungan beberapa benda cagar budaya yang ditemukan disekitaran Bantul.

Lokasi Museum Purbakala Pleret berada di tepi jalan umum sehingga akses jalan untuk menuju tempat ini cukup mudah untuk ditempuh. Sebelumnya memasuki museum, saya meminta izin dulu kepada penjaga museum yang rumahnya berada di depan museum.

Di halaman Museum Purbakala Pleret, terdapat beberapa arca seperti arca nandi yang berfungsi sebagai jaladwara, potongan batu jaladwara, batu yang berbentuk lumpang, sebuah stupa, dan beberapa batuan purbakala yang dipasang di beberapa sudut museum.

Museum purbakala ini terdapat beberapa bangunan namun hanya satu bangunan yang terletak di bagian barat yang baru terisi koleksi benda-beda sejarah. Pintu bangunan yang menyimpan benda-benda bersejarah ini selalu terkunci. Sebelum memasuki ruangan bangunan, pintu tersebut dibuka kuncinya oleh penjaga museum sambil menjelaskan informasi keberadaan dan asal-usul benda-benda bersejarah di museum ini. Kami dianjurkan untuk melepas alas kaki sebelum memasuki ruangan bagian dalam.

Memasuki bangunan museum yang terletak di sebelah barat. Terdapat dua etalase yang didalamnya terdapat koleksi benda-benda seperti serpihan logam dan beberapa hiasan serta perabot yang terbuat dari logam. Kondisinya cukup terawat dengan baik. Kami melihat beberapa arca yang kami ketahui seperti arca Ganesha, arca Agasatya terawat dengan baik.

Beberapa arca yang ditemukan di kawasan Bantul juga disimpan disini walaupun sebagian masih dititipkan di BP3 dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Umpak yang merupakan batu alas penyangga bangunan juga disimpan disini. Konon umpak yang ditemukan merupakan sisa dari bangunan Kraton Mataram Pleret yang hancur kemudian berpindah ke Kartasura.

Sumur yang bercat warna merah muda sering disebut Sumur Gumuling ini oleh warga sekitar dipercaya oleh sebagian masyarakat bila menggunakan air dari sumur tersebut bisa cepet dapet rejeki dan jodoh.

Sebelum meninggalkan area museum, kami melihat sebuah sumur tua yang lokasinya berada di balik papan nama Museum Purbakala Pleret. Sumur yang dinamai Sumur Gumuling sama dengan nama di salah satu kawasan situs Taman Sari ini memiliki cerita unik di kalangan masyarakat sekitar.

Kami berpikir, Museum Purbakala Pleret cukup berpotensi untuk dibuka menjadi museum yang dikunjungi umum tanpa harus melewati proses perizinan untuk memasukinya. Keberadaannya cukup dibutuhkan mengingat kabupaten Bantul belum memiliki museum sendiri yang menyimpan benda-benda purbakala dan bersejarah. Sebagian besar barang temuan purbakala  yang ditemukan di kawasan kabupaten Bantul masih tersimpan di BP3 dan Museum Sonobudoyo. Semoga kedepannya segera dibuka menjadi kawasan wisata umum dan proses pencarian benda purbakala bisa dilanjutkan mengingat masih banyak kawasan di Bantul yang diperkirakan ditemukan benda-benda purbakala.

Ada 7 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. mila:

    gw masih penasaran sama istana nya. Itu hancur waktu perang atau gimana ya? *buka buku sejarah*
    Klo gw ke Jogja anterin gw kesini yak

  2. wahyu asyari m:

    anterin aku juga ya kak :(

  3. Rusa:

    Di Surabaya banyak banget Museum, kalau mampir ke Surabaya biar Rusa anterin deh Anno :D 

  4. Hanif:

    wah, menarik soal sumur itu, cat merah itu emang disengaja ya? hehe.

  5. Scaffolding:

    Seharusnya pelajar indonesia di ajak untuk tour ke tempat2 bgnian kayak kemaren di acara kick andy mengenai peningkatan sejarah dari tour2 ketempat sejarah. karena kalau bukan yang muda siapa lagi yang akan melestarikan.

  6. m-amin:

    Kalau musium tidak dapat diakses untuk umum terus apa gunanya dibangun musium.

  7. arif:

    museum itu kurang pemasaran, mungkin para sarjana pariwisata harus lbh banyak dikasi materi manajemen pemasaran :D

Kirim pendapat