Menonton Gamelan Sekaten

Kemeriahan Sekaten dari tahun ke tahun tidak akan pernah sepi dari pengunjung. Tradisi menjelang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini banyak ditunggu orang-orang karena diselenggarakan paling meriah dibandingkan peringatan hari-hari besar Islam yang lain. Puncak acara Sekaten digelar menjelang satu minggu dari hari jatuhnya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Perayaan Sekaten untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada zaman dahulu hadir dalam rangka menyiarkan agama Islam. Meskipun saat ini telah berubah makna sebagai tradisi, budaya, bisnis, dan daya tarik wisata. Gamelan Pusaka Kraton yang dibunyikan merupakan salah satu rangkaian perayaan sekaten Kraton Yogyakarta

Penonton Berkerumun Menonton Gamelan
Sejak turunnya gamelan pusaka Kraton Yogyakarta ke Pagongan (panggung tempat meletakkan gamelan) di halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta atau disebut Miyos Gongso, suasana halaman masjid yang tadinya sepi berubah menjadi pasar dadakan. Di dekat Pagongan dibangun tenda-tenda yang didirikan khusus untuk pedagang dan bagi pedagang yang tidak kebagian tenda menggelar dagangannya di halaman terbuka. Pasar dadakan yang sering disebut Pasar Sekaten ini menjual dari makanan tradisional khas Sekaten hingga mainan tradisional.

Kita dapat menjumpai beberapa makanan yang hanya dijajakan ketika perayaan sekaten saja seperti Sego Gurih (nasi gurih) dan Endog Abang (telur merah). Selain itu beragam mainan tradisional yang jarang ditemui pada pasar tradisional pun dijualbelikan di tempat ini seperti kapal othok-othok, gangsingan, dan sebagainya. Para pengunjung pun masih tertarik untuk membelinya karena unik dan nostalgia pada zaman kecil.

Tembang (lagu-lagu) yang dimainkan oleh dua gamelan pusaka itu antara lain Rambu, Rangkung, Andong2, Loh Gadung pel, Gleyong, Urang-Aring, Ngajatun, Salatun dan Suciatun

Nyekar ke Pusaka Gamelan Kraton

Hal yang paling ditunggu adalah bunyi gamelan kraton yang dibawa ke Pagongan di sudut halaman masjid. Gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian dari Pagongan Lor (utara) dan Pagongan Kidul (selatan). Gamelan yang diletakkan di Pagongan Lor bernama Gamelan Kyai Guntur Madu dan di Pagongan Kidul bernama Kyai Naga Wilaga. Para pengunjung berkumpul di depan pintu Pagongan untuk mendengarkan bunyi gamelan dari dekat.

Baca Juga  Merti Bumi Sumber Air Tuk Surocolo Bantul, Acara Untuk Siapa?

Bunyi gamelan yang merdu dan indah menggoreskan sisa-sisa syiar Islam dan kejayaan Kerajaan Islam di tanah Jawa. Bagi orang yang bisa meresapi, bunyi gamelan kraton ini berbeda dengan gamelan-gamelan biasa dan memiliki kharisma keagungan kraton dan rajanya. Beberapa orang percaya, mendengarkan gamelan kraton ini mampu menentramkan dan menyejukkan hati. Sepintas begitu sederhana, namun orang-orang seperti itulah yang masih menjaga dan melestarikan tradisi budaya ditengah arus modernisasi. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat