Menikmati Secangkir Kopi di Sudut Kota Magetan

Perjalanan dari Yogyakarta menuju ke Magetan melewati jalan baru Tawangmangu Sarangan cukup melelahan. Ketika tiba waktu sore hari, kami berisitirahat sejenak di rumah kawan sambil menikmati udara tepian kota Magetan. Malam hari kami mencoba berkeliling kota Magetan, alhasil kami diajak nongkrong di salah satu warung kopi (warkop) yang terletak di tengah-tengah kota.

Secangkir Kopi Hitam

Dalam pengamatan saya, keberadaan warung kopi di kota Magetan sudah menjamur. Banyak ditemukan warung kopi di beberapa sudut kota yang strategis misalnya di Alun-Alun Kota Magetan dan sebuah jalan kecil yang memiliki emperan trotoar yang luas. Ketika melewati alun-alun, hampir semua warung kopi sudah terisi penuh pelanggan, akhirnya kami memilih warung kopi yang berada di tepian trotoar.

Setelah memesan kopi berikut makanan lain, kami langsung mencari tikar yang masih kosong di emperan trotoar. Suasana di tempat ini juga cukup ramai dan tidak kalah ramai dengan suasana warung kopi di alun-alun. Jam 8 malam merupakan titik dimana warung-warung kopi di sekitar kota Magetan diserbu oleh pelanggan yang di dominasi oleh anak muda. Sepertinya budaya minum kopi saat malam hari telah menjadi bagian dari masyarakat Magetan. Bedanya para anak muda lebih menyukai minum kopi sambil berkumpul dengan kawannya di warung kopi, para orang tua lebih memilih minum kopi di rumah sambil menikmati televisi ataupun berkumpul dengan tetangganya di pos ronda.

Baca Juga  Membuktikan Kebenaran The Mysterius Road di Gunung Kelud

Secangkir kopi pesanan saya akhirnya tiba, cangkir kopi berwarna putih dengan isi cairan kopi yang sangat kental. Bubuk kopi yang dimasukkan kedalam cangkir saya perkirakan hampir setengah cangkir sendiri. Sangat pekat dan kental dibandingkan dengan takaran kopi kemasan. Tidak diketahui jenis dan asal kopi yang digunakan warung kopi tersebut walaupun saya menduga bahwa bubuk kopi berasal dari wilayah Jawa Timur. Gulanya sudah dicampur ke dalam kopi dan ketika mencoba meminumnya rasanya cukup menarik, tidak terlalu manis atau pahit, dan sepertinya merupakan selera masyarakat sekitar. Sangat jarang orang yang datang ke warung kopi tidak membeli kopi cangkir yang kental ini karena merupakan selera dan budaya masyarakat Magetan. Malahan kopi-kopi kemasan yang banyak diiklankan lewat media massa jarang laku di kota ini karena terlalu encer dan menurut sebagian orang rasanya aneh. Menurut pengamatan saya di beberapa warung kopi tidak menyediakan kopi kemasan karena takut tidak laku. Kopi kental yang kadang disebut kopi cangkir ini harganya cukup murah bagi kalangan kelas kebawah. Tidak heran bila setiap hari warung-warung kopi di Magetan ramai dikunjungi pembeli. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat