Menguak Informasi Penggalian Situs Kauman Pleret

Menguak Informasi Penggalian Situs Kauman Pleret
5 (100%) 1 vote

Penggalian peninggalan kerajaan Mataraam Islam saat ini terus dilakukan setelah ditemukan beberapa titik bagian Kraton Mataram Islam Pleret yang tertimbun di dalam tanah. Salah satunya adalah Situs Kauman Pleret yang terletak disebelah utara Pasar Pleret. Situs Kauman Pleret menurut informasi merupakan situs bangunan reruntuhan Masjid Agung Mataram Pleret.

Situs Kauman Pleret berada di Dusun Kauman, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Merupakan situs penggalian reruntuhan bekas Masjid Agung atau Masjid Gedhe Kraton Pleret.

Reruntuhan Ruang Iman dan Bangunan Masjid Utama Mataram Pleret

Lokasi Situs Kauman Pleret berada disebelah utara Pasar Pleret dan berada ditengah-tengah pemukiman warga. Banyak yang tidak menduga bahwa dikawasan tersebut terdapat situs reruntuhan bangunan masjid kraton yang tertimbun di dalam tanah. Kendaraan kami parkir di halaman masjid baru yang berada di sebelah Situs Kauman Pleret. Sempat kami berbincang-bincang dengan penjaga masjid mengenai keberadaan Situs Kauman Pleret yang berada disebelahnya.

Sedikit informasi yang di dapat, Kompleks Situs Kauman Pleret saat ini menjadi situs penggalian bekas Kraton Mataram Pleret terbesar. Baru kali ini kami melihat dan mengunjungi situs penggalian reruntuhan masjid yang begitu luas. Sebelumnya situs penggalian yang kami temui hanyalah situs penggalian candi dan purbakala di beberapa daerah. Rasa penasaran pun muncul dan kami ditemani penjaga masjid berkelilingi kompleks Situs Kauman Pleret.

Sejarah pembangunan Masjid Agung Mataram Pleret disebutkan dalam bagian Serat Babad Momana bahwa pada tahun 1571 J atau sekitar 1649 M adalah waktu pembangunan Masjid Agung Kauman Pleret. Di dalam serat tersebut ditulis “Angka: 1571, taun Alip, krama Dalem dhaup putra Kranon, inggih Ratu Mas Malat nunggil adeging mesjid ageng”. Pendirian Masjid Agung Kauman Pleret juga disebutkan dalam Babad ing Sangkala yang menunjuk bulan Muharram tahun 1571 J sebagai tahun pembangunannya.

Reruntuhan Serambi Masjid Mataram Pleret

Penelusuran kami mulai dengan mendatangi bagian Situs Kauman Pleret yang diperkirakan sebagai area serambi masjid. Di beberapa titik telah dilakukan penggalian, pengukuran, dan pemberian patok-patok tanda. Di sebuah area masih dilakukan penggalian dengan dilindungi oleh bangunan semi permanen yang diberi pagar keliling dengan bambu. Di dekat penggalian kawasan serambi masjid terdapat beberapa penggalian kecil yang diperkirakan sebagai kamar mandi dan tempat untuk berwudlu. Di sebuah ujung sisi timur laut terdapat sumur tua dan area yang diperkirakan sebagai kolam yang menghiasi masjid.

Penelusuran dilakukan ke arah barat dan kami memasuki kawasan yang disebut inti masjid atau dalam masjid. Ukuran Inti masjid yang berfungsi sebagai tempat ibadah ini cukup luas dan kami perkirakan lebih luas daripada ruangan masjid Kotagede. Area ini telah dilakukan pengukuran dan pemasangan patok sehingga dapat diperkirakan seberapa luas Masjid Agung Mataram Pleret ini. Sisa-sisa yang nampak hanyalah reruntuhan pondasi dan separuh bangunan mihrab (tempat imam memimpin shalat) yang dapat disusun kembali.

Reruntuhan Tempat Wudlu Masjid Mataram Pleret

Di belakang reruntuhan kompleks Masjid Agung Mataram Pleret terdapat kompleks makam tua yang konon memiliki kaitan dengan keberadaan masjid ini. Keberadaan bangunan masjid yang berdampingan dengan pemakaman merupakan budaya orang Jawa untuk menghormati leluhur sekaligus beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak jauh dari kompleks makam terdapat dua buah pohon randu raksasa yang berumur ratusan tahun dan diperkirakan seumuran dengan umur Masjid Agung Mataram Pleret.

Ada sesuatu yang menarik perhatian kami yaitu umpak batu sebagai alas penyangga tiang bangunan masjid. Ukuran umpak batu ini cukup besar, memiliki bentuk yang bulat, dan tidak terlihat adanya ukiran pada bagian dindingnya. Sangat jauh berbeda dengan umpak batu Masjid Kotagede dan umpak batu Kraton Mataram Pleret yang ditemukan di Situs Mataram Kerta yang semuanya berbentuk trapesium dengan ukuran pada bagian dindingnya. Menurut pemikiran kami, bentuk umpak batu di Situs Kauman Pleret ini mirip dengan bentuk umpak batu yang ditemukan di Situs Watugudig. Seperti yang kami tahu dan telusuri, Situs Watugidig merupakan situs perbakala dari zaman pra klasik yang terletak di sekitar Prambanan. Kami berkesimpulan sementara bahwa beberapa bagian Situs Kauman Pleret seperti umpak batu memanfaatkan bagian reruntuhan candi atau situs purbakala yang tidak terpakai lagi.

Umpak Batu

Argumentasi diatas mungkin saja terjadi karena banyak sekali kasus-kasus pemanfaatan reruntuhan situs untuk bangunan baru. Misalnya pemanfaatan umpak batu Situs Mataram Kerta untuk membangun Masjid Soko Tunggal yang letaknya disebelah Istana Air Taman Sari. Umpak batu tersebut digunakan sebagai umpak batu untuk tiang penyangga tunggal di bagian tengah masjid. Beberapa sejarah lain menyebutkan bahwa sebagian batu penyusun kraton yang masih dapat dimanfaatkan digunakan untuk membangun Pabrik Tebu Kedaton Pleret, pembuatan markas tentara Jepang hingga digunakan sebagai pondasi bangunan rumah warga pada saat awal kemerdekaan.

Memang kesimpulan dan pendapat diatas belum dapat menjadi patokan karena penelitian situs masih terus dilakukan. Setelah Kraton Mataram Pleret tidak digunakan sebagai pusat pemerintahan dan istana karena dipindah ke Kartasura, kondisinya rusak terbengkalai. Tidak diketahui kapan terjadi kerusakan pada Kraton Mataram Pleret beserta Masjid Agung Mataram Pleret ini. Proses penggalian Situs Kauman Pleret atau reruntuhan Masjid Agung Mataram Pleret ini masih terus berlangsung meskipun membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menguak sejarah Kraton Mataram Pleret yang masih penuh misteri dan pertanyaan. Keberadaan bekas Kraton Mataram Pleret ini terbilang kurang beruntung daripada Kraton Mataram Kotagede dan Kraton Mataram Kartasura yang masih diketahui sisa-sisa peninggalannya. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Una:

    Oalah…
    Aku tau mrono tapi gak pati paham cerita sejarahnya hihi,
    trus narsis narsis depan randu alas :D :D

  2. Raden Sunu Agustriyanto:

    Menurut babad tanah jawi, dibangun pada masa Raja Amangkurat Agung, beliau karena konflik melarikan diri ke arah barat dan meninggal di Tegal/Tegalarum (R. Sunu/cucu KA Penjawi)

Kirim pendapat