Menelusuri Kampung Wisata Kotagede

Menelusuri Kampung Wisata Kotagede
5 (100%) 1 vote

Nama Kotagede memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Salah satu kawasan di kota Jogjakarta yang menjadi sentra industri kerajinan perak. Namun, sedikit yang tahu bahwa di dalam perkampungan di daerah Kotagede memiliki nilai historis sendiri karena Kotagede juga merupakan bekas ibukota Kerajaan Islam Mataram.

Kotagede adalah nama sebuah kawasan pada zaman dahulu merupakan Ibukota Kerajaan Mataram Islam. Saat ini Kotagede menjadi kawasan pusat kerajinan perak di Yogyakarta.

Kami tidak menemui kendala ketika menuju ke Kawasan Kotagede karena sudah banyak rambu-rambu yang mengarahkannya. Jalan kendaraan di sepanjang Kotagede cukup sempit sehingga kami memarkirkan kendaraan kami di depan Pasar Kotagede atau juga disebut Pasar Legi. Selanjutnya kami berjalan kaki menelusuri jalan di Kotagede.

Kami berjalan kaki menuju ke kawasan yang dikembangkan sebagai Kampung Wisata Kotagede. Lokasi ini berada disebelah barat dari cagar budaya Masjid Kotagede dan Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam di Kotagede. Jalan menuju kampung merupakan sebuah gang yang berukuran kurang lebih dua meter dan belum terdapat papan informasi yang jelas sehingga banyak orang yang kurang tahu keberadaan kampung wisata tersebut.

Gang sempit yang bernama Gang Soka untuk menuju salah satu kawasan Kampung Wisata Kotagede ini memang cukup ramai dilewati oleh penduduk sekitar. Khususnya diwaktu pagi hari dan sore hari karena menjadi jalan tikus untuk menghindari kemacetan. Ketika berjalan menelusuri jalanan di gang ini, terlihat bangunan rumah tua yang berdiri memanjang hingga ke ujung dan tiap rumah memiliki keunikan arsitektur bangunan sendiri-sendiri. Ada bangunan yang sedikit mencolok yaitu bangunan rumah yang dinamakan Rumah Pesik.

Rumah Pesik merupakan rumah kepunyaan Rudy J. Persik yang konon pekerjaannya merupakan seorang pengusaha. Di salah satu pintu terdapat prasasti yang berisi Lech Walesa, mantan Presiden Polandia 1990-1995 dan penerima Nobel Perdamaian tahun 1993 pernah menginap kesana.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalan hingga menuju ke sebuah persimpangan jalan yang terdapat sebuah Pos. Pos yang dinamakan Pos Malang yang di dindingnya terdapat peta wisata kawasan Kotagede dan sedikit penjelasan mengenai asal-usul keberadaan Pos Malang.

Pos Malang adalah salah satu bangunan terbuka yang melintang di antara Gang Soka dan Gang Tumenggungan (gang menuju Dalem Tumenggung Mertalaya) di desa Jagalan. Dahulu Pos Malang dijaga oleh seorang opas atau petugas keamanan.

Dari Pos Malang, ada sebuah bangunan yang dinamakan Omah UGM. Kami penasaran apakah universitas tertua di Indonesia memiliki kaitan khusus dengan sejarah keberadaan perkampungan di Kotagede. Langsung saja kami bergegas menuju ke bangunan yang dinamakan Omah UGM. Ternyata dugaan kami salah, kami menemukan sebuah bangunan yang berbentuk joglo yang masih baru dan setelah membaca keterangannya disebutkan bahwa bangunan tersebut baru dibeli oleh Universitas Gadjah Mada beberapa tahun lalu untuk menjaga kelestarian kawasan Kotagede.

Omah UGM merupakan sebutan untuk sebuah bangunan rumah adat milik Universitas Gadjah Mada. Sebelum dibeli oleh UGM pasca gempa 2006, rumah ini adalah milik keluarga Parto Darsono. Terletak di Kampung Bodon, Jagalan. Omah UGM difungsikan sebagai Pusat Pergerakan Pelestarian. Pendapa di kompleks Omah UGM ini adalah bangunan baru yang didirikan pasca gempa tahun 2006. Sedangkan gandhok disebelah timur pendapa yang roboh karena gempa, dibangun kembali dengan tetap melestarikan bekas dinding yang sudah tidak utuh lagi. Ini dimaksudkan sebagai monumen untuk mengingat kedahsyatan gempa bumi 27 mei 2006 tersebut. bangunan ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat di bidang pelestarian pusaka. bahkan sejak Juni 2010 sampai April 2010 menjadi kantor sementara REKOMPAK-Java Reconstruction Fund yang bekerjasama dengan warga setempat dalam program pelestarian kawasan pusaka Kotagede (Kotagede Heritage).

Selusur Kampung Wisata Kotagede kami lanjutkan menuju sebuah titik bangunan yang bernilai sejarah cukup tinggi. Menuju ke sebuah sisi yang lain, kami mengunjungi bangunan yang dinamakan Rumah Adat. Walaupun bangunan ini cukup bersejarah, bangunan ini masih dihuni oleh pemiliknya. Kurang beruntung, kami tidak menemukan pemiliknya sehingga segan untuk memasuki bangunan rumah tanpa permisi. Akhirnya kami melihat keindahan arsitektur dari luar pagar saja.

Rumah Adat ini dibangun tahun 1750an menggunakan gaya arsitektur tradisional jawa dengan atap joglo. Terdiri dari bangunan dalem dan gandok timur. Selain sebagai rumah tinggal pada masa lalu rumah ini digunakan untuk produksi kerajinan perak. Struktur rangka rumah menggunakan kayu, dinding menggunakan batu bata dan sebagian kayu. Rumah ini mengalami rusak akibat gempa tahun 2006. Tahun 2010 bangunan dalem dan gandok direhabilitasi oleh REKOMPA-JRF dan difungsikan sebagai rumah publik.

Jelajah kampung terakhir kami menuju ke Omah Tumenggungan yang terdapat dua buah bangunan besar berdampingan. Bangunan ini juga masih digunakan sebagai tempat tinggal. Namun salah bangunan terlihat kurang terawat dibandingkan bangunan yang satunya. Entah karena sering ditinggal pergi pemiliknya sehingga tidak sempat dibersihkan secara rutin atau entah karena hal lain.

Kedua rumah tersebut merupakan kediaman keluarga Tumenggung Mertalaya (Rumah sisi timur) dan keluarga bahoewinangun (Rumah sisi barat). Bangunan menggunakan arsitektur jawa beratap joglo. Pendopo rumah Bahoewinangun merupakan satu-satunya pendopo di Kotagede yang menggunakan struktur gantung.

Akhirnya kami mengakhiri jelajah perkampungan di Kotagede. Sebetulnya masih banyak sekali bangunan tua lainnya yang memiliki keunikan arsitektur dan nilai historisnya, namun karena hanya sekedar jalan-jalan dan hanya mengandalkan papan yang berisi keterangan, kami hanya mendapat sedikit informasi mengenai Kampung Kotagede. Mungkin dilain kesempatan, kami akan berkunjung ke kawasan ini dengan didampingi oleh pemandu atau ahli sejarah sehingga kami betul-betul mengerti mengenai sejarah perkembangan kampung Kotagede ini.

Ada 7 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. mawi wijna:

    sepertinya lagi mencoba2 lensa wide ya No? :D

    eh, deket Pos Malang itu ada rumah tua yg katanya angker. Sering ada gundul mringis jatoh dari pohon jambu katanya.

  2. aming:

    tetap berbau mistis…

    nice report bro…

  3. ip-ip:

    wkwkwk.. abis pada main ke kotagede to..
    aku nak kotagede ne..
    salam dari anak blogger jogja..

  4. Hasan:

    angerl photoya bagus, lokasi menarik jadi lebih menarik. Makam Kota gede& Masjid kota gedenya mana Gan? Asik juga itu

  5. ikhsan:

    kapan2 kesana ah :)

  6. Fotodeka:

    heeehhh…. bajilak… aku baru motret yo ning kotagede.. :))) bahahaha

Kirim pendapat