Menelusuri Jejak Bekas Jalur Kereta Api di Sekitar Jalan Letjen Suprapto Jogja

Menelusuri Jejak Bekas Jalur Kereta Api di Sekitar Jalan Letjen Suprapto Jogja
1 (20%) 1 vote

Pada masa kejayaan kereta api di Indonesia, pernah dibuat jalur kereta api yang menghubungkan antara kota Yogyakarta dengan kota Bantul. Namun seiring berjalannya waktu, jalur kereta api tersebut berhenti beroperasi. Saat ini sisa-sisa jalur kereta api tersebut sudah banyak yang hilang diterpa arus pembangunan kawasan perkotaan dan pedesaan.

Jalur Kereta Api Yogyakarta – Bantul dibangun pada tahun 1912 oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan lebar rel sebesar 1.435mm dilanjutkan dengan pembangunan beberapa stasiun dalam jalur tersebut. Pada awal tahun 1970an, jalur kereta api ini dihentikan pengoperasiannya.

Kami mencoba menelusuri sisa-sisa jejak jalur kereta api jurusan Yogyakarta menuju Bantul dimulai dari Stasiun Tugu. Dari bagian luar stasiun Tugu sudah tidak tampak potongan rel yang berbelok memotong Jalan Jlagran Lor menuju ke arah selatan. Di sisi selatan Jalan Jlagran Lor terdapat taman yang bentuknya memanjang dan berbelok dan di sebelah kiri kanannya berupa jalan kampung.

Bentuk taman memanjang dan sedikit berbelok ini kami perkirakan berupa jalur kereta api.  Karena menurut teman saya sebelum dibangun taman yang merupakan program tamanisasi kota Yogyakarta, masih terlihat bekas-bekas rel kereta api pada bagian tengah taman. Rasa penasaran membuat kami menelusuri taman yang bentuknya memanjang tersebut hingga ujung terdapat warung. Setelah melewati sebuah warung, perkiraan kami ternyata benar.

Potongan-potongan rel masih berada pada tempat yang lebih tinggi diantara dua buah jalan kampung. Beberapa jalur rel sudah tertutup oleh tanah, bebatuan, dan di beberapa titik tertutup oleh bangunan permanen yang digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan seperti pos ronda dan kantor karang taruna. Di beberapa titik dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat duduk-duduk santai karena sempitnya kawasan pemukiman. Kawasan perkampungan ini ternyata masih menyimpan bukti-bukti sejarah kejayaan kereta api pada masa lampau.

Hingga ujung jalan kampung yang terhubung dengan Jalan Letjen Suprapto, sisa-sisa rel tersebut masih banyak terlihat. Meskipun wujud bantalan rel dan tiang komunikasi sudah tidak tampak lagi. Ketika tiba di Jalan Letjen Suprapto, kami sempat kehilangan jejak karena potongan rel sudah tidak terlihat lagi. Namun karena jalur mengarah ke selatan, kami mencoba menelusurinya ke arah selatan.

Dalam perjalanan menelusuri Jalan Suprapto yang masuk dalam wilayah Ngampilan, kami menemukan beberapa tiang besi tua yang diperkirakan merupakan bekas-bekas tiang komunikasi yang dibangun di jalur kereta api. Beberapa tiang-tiang tersebut berdiri berdampingan dengan tiang listrik dan tiang telepon sehingga bila kita kurang cermat, kita tidak mengetahui bahwa tiang tersebut merupakan tiang komunikasi bekas jalur kereta api. Cukup aneh mengingat keberadaan tiang tersebut tidak kami temukan ketika kami melewati jalan perkampungan tadi. Mungkin tiang tersebut sengaja tidak diangkut dan dibiarkan oleh PT Kereta Api Indonesia sebagai penanda bahwa jalan dulunya merupakan jalur rel kereta api.

Namun keberadaan rel kereta api di Jalan Letjen Suprapto sudah sudah hilang dan sepertinya telah diangkut oleh PT Kereta Api Indonesia saat pembangunan jalan dan trotoar. Di sebuah utara ujung jalan perempatan lampu merah dekat Terminal Ngabean, di depan masih tersisa tiang rambu sinyal yang memiliki ketinggian sekitar 6 meter yang kontruksinya masih terlihat baik. Bahan tiang sinyal yang berasal dari besi murni tua ini memang sangat kuat dan lebih baik daripada besi-besi jaman sekarang. Tiang rambu sinyal itu dicat warna kuning dan hitam secara bergantian. Penelusuran jalur kereta api tidak berhenti sampai ujung jalan Letjen Suprapto, perjalanan dilanjutkan menuju ke bekas Stasiun Ngabean yang berada di kawasan Terminal Ngabean (text/foto: annosmile)

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. HeruLS:

    Main asal timpa aja, cara pembangunan yg tak cantik sekali 

Kirim pendapat