Mendirikan Telur Dalam Perayaan Peh Cun

Tradisi atau Perayaan Peh Cun telah diselenggarakan ribuan tahun yang lalu sama seperti Perayaan Tahun Baru Imlek. Di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di kabupaten Bantul, rutin diselenggarakan Perayaan Peh Cun setiap tahun. Dimulai dengan perlombaan Perahu Naga di Bendungan Tegal hingga perlombaan barongsai dan mendirikan telur. Acara yang diselenggarakan cukup meriah berkat dukungan masyarakat keturunan Tionghoa wilayah Yogyakarta dengan pemerintah daerah.

Tradisi Peh Cun diselenggarakan pada tanggal 5 bulan 5 pada kalender Imlek. Tradisi ini berasal dari negeri China dan dilaksanakan sejak ribuan tahun yang lalu. Asal usul munculnya perayaan Peh Cun sebagai ungkapan syukur atas kepahlawan Khut Gwam, seorang perdana menteri saat Dinasti Han berkuasa.

Perayaan Peh Cun dan Festival Barongsai

Beberapa hari setelah perlombaan Perahu Naga di Bendungan Tegal, diselenggarakan puncak perayaan Peh Cun di kawasan Pantai Parangtritis Baru. Lokasi perayaan Peh Cun saat ini mulai dikenal dengan kawasan Pantai Mancingan Baru kompleks Pantai Parangtritis. Sebagai kawasan wisata yang sudah lama dikenal, pengunjung tidak kesulitan untuk menuju ke tempat ini baik menggunakan kendaraan umum maupun kendaarn pribadi.

Saat tiba dilokasi, acara Perayaan Peh Cun baru akan dimulai. Acara ini diselenggarakan menjelang siang karena pada saat tengah hari posisi matahari berada sejajar dengan bumi dan bulan. Acara dibuka dengan beberapa sambutan dari panitia dan perwakilan dari kabupaten Bantul. Selanjutnya terdapat beberapa pentas barongsai yang cukup memukau penonton.

Baca Juga  Situs Sumur Bandung Dan Watu Kenong Piyungan Bantul

Tradisi mendirikan telur pada perayaan Peh Cun bukanlah kegiatan yang bersifat mistis. Telur dapat berdiri karena pengaruh gravitasi bumi, bulan,  dan matahari karena dalam posisi sejajar. Posisi matahari pada saat titik terdekat bumi dan bumi berada dalam orbit segaris membuat gravitasi menjadi berimbang. Fenomena unik ini memberikan berkah bagi warga Tionghoa yang merayakannya.

Mencoba Mendirikan Telur

Mendekati tengah hari, beberapa warga Tionghoa berjalan ke tepi laut untuk melakukan sembahyang sebagai ucapan syukur akan Perayaan Peh Cun. Sesaji telah dipersiapkan di tepi laut dan mereka bersembahyang di depannya sambil membakar dupa. Setelah selesai dilakukan lomba mendirikan telur. Telur yang dipergunakan adalah telur ayam mentah biasa yang dijual dipasar-pasar. Perlombaan ini diikuti sebagian pengunjung yang ingin membuktikannya dan masyarakat Tionghoa. Waktu perlombaan ini dimulai tepat setelah ritual doa di tepi laut atau pukul 12.00.

Panitia segera membagikan telur-telur yang telah dipersiapkan kepada para peserta lomba. Perlombaan mendirikan telur dimulai dan peserta diberi waktu sekitar 30 menit untuk mendirikan telur. Para peserta dengan berkonsentrasi penuh mendirikan telur dan siapa yang terbanyak mendirikan telur ialah pemenangnya. Cara mendirikan telur sebetulnya cukup mudah dimana peserta harus berkonsentrasi penuh, tenang, dan menahan nafas.

Telur Berdiri

Telur tersebut diletakkan diatas lantai panggung yang datar dan para peserta mencoba untuk mendirikannya. Banyak orang mengira tradisi ini kental dengan mistik padahal bisa dibuktikan dengan logika yaitu pengaruh gravitasi bumi dan matahari. Pengaruh gravitasi  bumi dan matahari yang seimbang ini terjadi tepat tengah hari pada pukul 12.00 saat perayaan Peh Cun.

Baca Juga  Menikmati Suasana Pantai Parangtritis Baru

Akhirnya beberapa orang berhasil mendirikan telur setelah berkonsentrasi penuh dan berusaha sekuat tenaga. Hingga waktu perlombaan habis, beberapa puluh telur berhasil didirikan oleh peserta. Setelah itu dilakukan dokumentasi telur dan penyerahan hadiah buat para pemenang. Acara perayaan Peh Cun dilanjutkan dengan perlombaan Barongsai hingga akhir acara. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat