Masyarakat Tionghoa Yogyakarta Gelar Kirab Dewa Bumi

Kirab Dewa Bumi merupakan tradisi adat masyarakat China kuno yang telah ada dalam ribuan tahun yang lalu. Di Yogyakarta sendiri, tradisi ini kembali dilestarikan dan diselenggarakan secara meriah seteleh berpuluh-puluh tahun tidak diselenggarakan. Adalah Klenteng Fuk Ling Miau yang kembali menyelenggarakan Kirab Dewa Bumi.

Kirab Dewa Bumi (Jut Bio Rao Ching) merupakan ungkapan terima kasih kepada Dewa Bumi sehabis panen raya. Patung Dewa Bumi yang dikirab keliling luar klenteng bertujuan menghilangkan energi-energi negatif demi keselamatan masyarakat. Tradisi ini telah ada sejak 3.000 tahun sebelum masehi.

Kemeriahan Kirab Dewa Bumi Klenteng Fuk Ling Miau Gondomanan Yogyakarta

Kirab Dewa Bumi Klenteng Fuk Ling Miau atau lebih dikenal dengan Klenteng Gondomanan kembali diselenggarakan bersamaan dengan acara Kirab Budaya Nusantara. Kirab budaya ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan masyarakat keturunan China atau Tionghoa sudah membaur menjadi bagian kebudayaan Indonesia.

Selama berpuluh-puluh tahun, Kirab Dewa Bumi tidak diselenggarakan karena dilarang pada masa orde baru. Klenteng Fuk Ling Miau Gondomanan Yogyakarta kembali menyelenggarakan tradisi ini setelah belasan tahun memasuki orde reformasi atau berakhirnya orde baru.

Kirab Dewa Bumi Klenteng Fuk Ling Miau Melewati Kawasan Bank Indonesia Lama Yogyakarta

Rencananya Kirab Budaya Nusantara akan menempuh jarak sekitar 3 kilometer melewati tengah kota Yogyakarta. Kirab dimulai dari depan kantor harian Kedaulatan Rakyat (KR) di Jalan Margo Utomo (dulu Jalan P. Mangkubumi). Rute yang dilewati antara lain Jalan Margo Mulyo (lebih dikenal dengan nama Jalan Malioboro), Jalan P. Senopati, dan berakhir di Klenteng Fuk Ling Miau di Jalan Brigjen Katamso.

Baca Juga  Pojok Beteng Lor

Peserta Pembawa Tandu Dewa Bumi Klenteng Fuk Ling Miau

Kirab Budaya Nusantara ini dimeriahkan oleh barisan prajurit kraton dari kasultanan Yogyakarta dan kadipaten Pakualaman, marching band, kesenian daerah, permainan barongsai, dan Kirab Dewa Bumi. Acara sedikit terlambat dimulai namun tidak mengurangi antusiasme para penonton yang memenuhi tepi jalan.

Kirab Dewa Bumi yang baru pertamakali diselenggarakan setelah sekian lama tidak diadakan cukup menarik perhatian para penonton. Peserta kirab berpakaian merah saling bergantian membawa tandu yang berisi patung Dewa Bumi. Tidak ketinggalan bau dupa dan bunyi alat musik dari China.

Kirab Dewa Bumi Menuju Klenteng Fuk Ling Miau Gondomanan

Saat Kirab Dewa Bumi tiba di halaman Klenteng Fuk Ling Miau dilanjutkan dengan prosesi pengembalian patung Dewa Bumi ke tempatnya semula di dalam klenteng. Patung Dewa Bumi didalam tandu dikeluarkan kemudian dibawa masuk ke dalam klenteng. Dalam prosesi tersebut, masyarakat Tionghoa berdoa dan berucap syukur atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Dewa Bumi.

Acara masih dilanjutkan dengan beberapa pertunjukkan kesenian daerah dari peserta yang mengikuti Kirab Budaya Nusantara. Penyelenggaraan Kirab Dewa Bumi menambah daftar tradisi budaya Tionghoa  yang kembali diselenggarakan seperti Perayaan Peh Cun, Perayaan Zhong Qiu Jie dan Pekan Budaya Tionghoa dalam menyambut Imlek. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. EventJogja.Com:

    jogja sungguh kotanya budaya, beragam kebudayaan dilestarikan disana ^^

  2. Idah Ceris:

    Baru tau nama asli Jl. Malioboro.
    Rame pas diarak yo, Mas.

Balas pendapat dari Idah Ceris