Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat Babadan

Tidak jauh dari kawasan Jogja Expo Center atau sering disingkat dengan nama JEC, terdapat bangunan Masjid Pathok Nagari milik Kraton Yogyakarta. Namanya lebih terkenal dengan nama Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat Babadan. Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai batas negara dan membentengi wilayah kraton dari segi agama, sosial, politik, dan keamanan. Keberadaannya saat ini masih dipertahankan dan menjadi salah satu dari lima Masjid Pathok Nagari (Negoro) Kraton Yogyakarta.

Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat terletak di Desa Babadan, kecamatan Banguntapan, kabupaten Bantul.

Depan Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat

Lokasi Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di sebelah barat Jogja Expo Center. Di sebelah barat Jogja Expo Center terdapat persimpangan jalan kecil yang terdapat pohon beringin di tengah-tengah kemudian kami mengambil jalan ke arah barat. Tanda pohon beringin ini diperkirakan sebagai persimpangan rel kereta lori dari pabrik gula yang ada disekitar daerah tersebut. Kami menelusuri jalan hingga ujung dan akhirnya kami tiba di halaman Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat.

Kesan pertama melihat bangunan Masjid Ad-Darojat sepintas seperti bangunan baru dan tidak mencirikan bangunan lama seperti yang diceritakan dalam sejarah. Meskipun demikian desain masjid tetap memiliki cirikhas masjid milik Kraton Yogyakarta. Bangunan masjid dikelilingi oleh tembok namun sebagian telah dibongkar dan dijadikan pintu masuk ke rumah penduduk yang ada disekitar. Keberadaan makam di belakang masjid menjadi cirikhas masjid-masjid yang dibangun pada zaman kasultanan Islam di pulau Jawa.

Masjid Pathok Negoro Ad-Darojatun pada mulanya bernama Masjid Pathok Negoro Kauman Babadan merupakan salah satu Masjid Pathok Negoro milik Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini didirikan pada tahun 1774 oleh Sultan Hamengku Buwono I. Arsitektur bangunan masjid diseragamkan dengan bangunan Masjid Pathok Negoro yang lain. Pada tahun 1942, Masjid Pathok Negoro Babadan ini dirobohkan oleh penjajah Jepang dan digunakan untuk gudang senjata. Awal dekade 1960an tepatnya 1964, Masjid Pathok Negoro ini kembali dibangun dan setiap 10 tahun dilakukan renovasi hingga seperti sekarang ini.

Bedug Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat

Suasana Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat menjelang sore cukup lenggang dan tidak terlihat aktivitas di sekitar masjid. Kami sempat kebingungan mencari takmir masjid untuk menanyakan sejarah masjid ini dan akhirnya bertanya dengan warga yang kebetulan selesai beribadah di masjid ini. Diketahui bahwa bangunan masjid ini sepenuhnya baru meskipun bentuknya telah dikembalikan seperti aslinya.

Bangunan Serambi Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat cukup luas dibandingkan aslinya karena dilakukan perlebaran bangunan masjid. Tiang beton tanpa hiasan dan dinding beton model bangunan modern mewarnai serambi masjid. Tidak tampak kesan unik dan menarik dengan bangunan serambi masjid karena sama dengan bangunan masjid-masjid modern yang belum lama dibangun. Di sisi kiri masjid terdapat sebuah bedug yang masih difungsikan saat memasuki waktu shalat. Menurut informasi, dulunya Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat ini terdapat kolam yang mengelilingi masjid namun karena perluasan serambi masjid akhirnya kolam tersebut dihilangkan.

Bagian Dalam Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat

Memasuki waktu shalat ashar, kami langsung berwudlu kemudian memasuki rungan masjid sebelah dalam atau ruangan utama masjid. Terlihat bangunan mirip joglo yang disokong oleh empat saka guru dengan tinggi sekitar 7 meter beralaskan umpak batu. Dibagian tengah dipasang lampu gantung yang memberikan kesan megah untuk bangunan utama masjid. Beberapa tulisan arab dipasang di dinding bangunan utama masjid untuk memperindah dekorasi. Selain itu di bagian atap bangunan utama masjid dipasang mustoko (mustaka) dengan puncak disebut gada sulur. Kondisi gada sulur ini telah diganti dengan bahan yang terbuat dari logam (kuningan) karena bahan sebelumnya (asli) terbuat dari gerabah dan kondisinya sudah rusak.

Meskipun Masjid Pathok Negoro Ad-Darojat merupakan salah satu masjid pathok nagari Kraton Yogyakarta, tidak terlihat adanya cirikhas dan kesan yang nampak seperti saat mengunjungi Masjid Pathok Nagari Sulthoni Plosokuning di kabupaten Sleman. Kondisi bangunan yang baru dan jauh dari bentuk asli mungkin adalah penyebabnya meskipun bagian utama masjid telah dirombak kembali dan dikembalikan seperti aslinya. (text/foto: annosmile)

Baca Juga  Keindahan 1000 Lampion Candi Borobudur Puncak Perayaan Hari Tri Suci Waisak

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Zippy:

    Dulu waktu ke Jogja, nggak sempat mampir ke JEC.
    Maklum, cepet2 soalnya :D
    Btw, Masjidnya masih terawat banget ya :)

  2. jarwadi:

    kenapa disebut masjid pathok nagari mas? apakah batas negera yogyakarta pada saat itu?

Kirim pendapat