Masjid Golo, Masjid Peninggalan Sunan Pandanaran Di Klaten

Masjid Golo (Gala/Gholo) atau ada yang menyebutnya dengan nama Masjid Agung Sunan Pandanaran (Padangaran) adalah masjid peninggalan salah satu penyiar agama Islam di Klaten periode Wali Songo. Masjid ini telah berusia ratusan tahun dan menurut beberapa sumber merupakan masjid tertua di Klaten. Saat ini masjid ini masih kokoh berdiri dan masih difungsikan sebagai tempat ibadah.

Masjid Golo Bayat terletak di Jalan Sunan Pandanaran, dusun Mendin, desa Paseban, kecamatan Bayat, kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57462.

Lokasi Masjid Golo Bayat berada di dekat Makam Sunan Pandanaran atau sekitar 13 km ke arah selatan dari kota Klaten. Rute menuju ke masjid ini dari kota Klaten menuju ke arah kota kecamatan Wedi. Dari pertigaan pasar Wedi ikuti jalan lurus kemudian belok ke kiri mengkuti petunjuk arah ke kota kecamatan Bayat. Sebelum tiba di pertigaan atau gang masuk menuju area parkir Makam Sunan Pandanaran, posisi masjid berada di sisi kiri jalan di atas bukit kecil. Area parkir yang disediakan sangat terbatas dan hanya tersedia untuk parkir kendaraan roda dua saja.

Masjid Golo Bayat merupakan salah satu masjid peninggalan Ki Ageng Pandanaran (Pandanarang) atau dikenal dengan nama lain Sunan Bayat atau Tembayat. Sunan Bayat adalah murid dari Sunan Kalijaga. Masjid ini dibangun diatas bukit kecil dengan ketinggian 25 meter dari tepi jalan. Tidak diketahui kapan tepatnya masjid ini berdiri karena tidak ditemukan prasasti yang menyebutkan pendirian masjid. Menurut informasi masjid ini dibangun pada kisaran abad ke 14-15 Masehi saat Sunan Pandanaran melakukan syiar agama Islam di kawasan ini.

Struktur bangunan Masjid Golo agak berbeda dengan struktur masjid-masjid kuno di Jawa. Masjid ini tidak memiliki serambi, pawestren ataupun kolam pasucen di sekeliling masjid. Masjid ini hanya terdiri dari satu ruangan yaitu bangunan utama berukuran sekitar 12 x 12 meter. Seluruh bangunan terbuat dari kayu kecuali dinding/tembok masjid dan lantai masjid. Atap tumpangnya pun tidak berbentuk ganjil sebagaimana atap masjid kuno di Jawa, misalnya tiga atau lima. Atap Masjid Gala hanya berbentuk tumpang dua. Bentuk akulturasi Islam dengan budaya setempat nampak dalam arsitektur bangunan masjid, seperti kaki dinding pada sisi luar masjid yang berbentuk seperti profil kaki candi dengan menggunakan bingkai padma, susunan plipit-plipit persegi, dan bingkai setengah lingkaran. Nampak pula dengan adanya bentuk mustaka terakota seperti punden berundak atau stupa candi dengan beberapa tingkatan dan makin mengecil untuk puncak tertingginya.

Baca Juga  Daftar Nama dan Alamat Pura Di Jakarta Barat

Asal usul pemberian nama Masjid Golo berasal dari 2 huruf jawa yaitu “GO” yang artinya adalah 1 dan “LO” yang berarti 7. Dua huruf tersebut maknanya adalah sholat sehari semalam yang berjumlah 17 rakaat. Pengertian dari 17 rakaat tersebut adalah gabungan rakaat dari solat isya, sholat dhuhur, sholat asar, sholat magrib, sholat subuh. Adapun dalam bahasa arab arti masjid Golo adalah “niat I’tikaf ta’ala” yaitu diperuntukkan untuk beribadah lebih aman, nyaman, tentram, dan member peluang untuk mengingat Allah lebih besar. Cerita lain menyebutkan bahwa asal usul nama Golo berasal dari kata “golok” dimana artinya yang dilemparkan kemudian menancap di tanah. Karena masyarakat setempat kesulitan menyebut kata “golok”, akhirnya menyebutnya dengan nama “Gholo/Golo”.

Masjid Golo telah berulangkali mengalami perbaikan dan renovasi agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat ibadah. Proses renovasi secara besar-besaran terjadi 2 (dua) kali setelah zaman kemerdekaan Republik Indonesia. Proses renovasi yang pertama pada tahun 1980 oleh Departemen Agama dan Dinas Purbakala Depdikbud. Proses renovasi kedua pada tahun 1993 dan ditandai dengan papan prasasti peresemian purna pugar bertuliskan tanggal 11 Februari 1993 oleh Menteri Agama yang menjabat pada kala itu yaitu Munawir Sjadzali. Selanjutnya pada tahun 2006, kawasan ini dilanda Gempa Jogja namun tidak terjadi kerusakan yang begitu berarti. Masjid Golo pada tahun 2010 ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya. Disamping itu juga ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan situs yang harus dilindungi berdasarkan Permenbudpar No: PM. 57/DW. 007/MKP/2010.

Baca Juga  Kawah Sikendang, Kawah Tersembunyi di Telaga Warna Dieng

Bukti peninggalan lain Masjid Golo Bayat yang masih tersisa adalah bedug lengkap dengan kentongan serta pemukul dan 4 (empat) buah gentong untuk berwudlu. Bedug berdiameter sekitar 1 (satu) meter diletakkan di dalam bangunan masjid sedangkan gentong ditaruh diluar masjid sebelah timur dimana 2 (dua) gentong di sisi kiri (tenggara) dan 2 (dua) gentong di sisi kanan (timur laut). Bukti lain yang disebutkan pada sebuah referensi sudah tidak ada lagi ketika kami mengunjungi masjid ini. Mimbar masjid yang konon terdapat dua buah atau mimbar kembar sudah tidak diketahui karena sudah digantikan dengan sebuah mimbar baru berukuran lebih kecil. Payung susun satu, dua dan tiga dalam ruangan masjid ini juga sudah tidak ditemukan. Entah apakah sudah diamankan oleh pihak Badan Pelestarian Cagar Budaya atau memang sudah rusak kemudian dipindah oleh pengelola masjid. Fasilitas pendukung masjid lain seperti tempat berwudlu dengan kran dan kamar mandi dibangun di pojok halaman sedikit menjauh dari bangunan masjid agar tidak merusak tatanan masjid. (text/foto: annosmile)

REFERENSI

Islamisasi Jawa Bagian Selatan: Studi Masjid Gala Sunan Bayat Klaten. Retno Kartini Savitaningrum Imansyah. 2013. Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jakarta. email: catcoklat@yahoo.com

Masjid Agung Golo Sunan Pandanaran Bayat. Herawati Nur Permata Depy. 2017. UIN Surakarta. website: wawancaraspiherawati.blogspot.com

TAMBAHAN: CERITA MISTIS

Menurut cerita masyarakat sekitarnya, masjid ini masih dihuni jin yang bernama Muhammad Harun. Pernah salah seorang yang tidur di dalam masjid, dipindahkan ke tempat lain (di luar masjid di bawah pohon).

INFORMASI
Masjid Golo Bayat
Jl. Sunan Pandanaran, dusun Mendin, desa Paseban, kecamatan Bayat, kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57462

Kirim pendapat