Mampir di Desa Sembungan Dieng

Rate this post

Setelah gagal melihat sunrise di Puncak Sikunir dan hanya menunggu hilangnya kabut di tepi Telaga Cebong, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke kawasan wisata disekitar Kompleks Candi Arjuna. Kami kembali melewati area pemukiman di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Dataran Tinggi Dieng. Desa Sembungan sendiri merupakan satu-satunya jalan dari Kompleks Candi Arjuna menuju ke Telaga Cebong atau Puncak Sikunir begitu sebaliknya.

Desa Sembungan merupakan desa tertinggi dipulau Jawa (±2300 mdpl) yang sudah sejak lama dikenal oleh wisatawan asing maupun domestik. Bahkan sekitar tahun 1911, orang Belanda sudah sampai didesa dan bertemu dengan penduduk desa setempat dan mengabadikan dengan kamera pada saat itu.

Aktivitas penduduk saat pagi hari di kawasan pemukiman Desa Sembungan sudah cukup ramai. Anak-anak kecil bermain di tepi jalan dan orang tua sibuk mengawasinya. Beberapa pria sibuk memanasi kendaraannya agar siap untuk dikendarai sembari memoles agar tetap mengkilat dan menarik. Kami secara perlahan-lahan memacu kendaraan kami melalui kawasan pemukiman ini. Sesekali kami bertegur sapa untuk menghormati warga yang berpapasan dengan kami.

Kendaraan pick up bak terbuka lalu lalang menjemput penumpang dan transportasi ini masih setia dimanfaatkan warga meskipun mereka sudah memiliki kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil. Di sebuah sudut jalan para ibu-ibu sedang sibuk memilih sayuran dan bahan makanan yang dijual oleh pedagang keliling. Ketika melihat dagangan berupa makanan gorengan semacam tempe goreng dan pisang goreng, kami pun menghentikan laju kendaraan dan membeli makanan tersebut untuk mengganjal perut. Perut kami yang kosong belum sarapan sedikit demi sedikit terisi oleh makanan.

Baca Juga  Parkir Inap Sepeda Motor Di Sekitar Banyumas

Beberapa makanan daerah yang kebetulan dijual pedagang keliling pun kami cicipi untuk mengenyangkan perut. dagangan yang mereka jual cukup lengkap dan hampir semua kebutuhan dapur selain makanan juga dijual oleh pedagang keliling ini. Namun kekurangannya pedagang ini tidak menjual nasi bungkus seperti yang kami harapkan, mungkin karena takut tidak laku karena pembeli utama mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang memasak makanan sendiri untuk keluarganya.

Sempat kami ngobrol dengan penjual keliling serta warga sekitar yang sedang berbelanja,  mereka cukup ramah dan mudah akrab dengan kami. Mereka banyak bercerita mengenai desanya sendiri dan berharap pemerintah lebih mensejahterakan desa tersebut. Dengan pengembangan kawasan Telaga Cebong dan Puncak Bukit Sikunir di wilayahnya, masyarakat berharap agar perekonomian desa ikut terangkat dan fasilitas jalan umum yang sudah mulai rusak segera diperbaiki. Setelah cukup ngobrol dengan warga sekitar, kami membayar makanan yang kami makan kemudian kami meneruskan perjalanan menuju obyek wisata yang ada di Dataran Tinggi Dieng. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat