Makna Kinang Dalam Tradisi Sekaten

Kinang merupakan makanan atau ramuan tradisional yang hanya digunakan untuk dikunyah di mulut, tidak ditelan, dan mirip seperti cara menikmati permen karet. Mengunyah kinang adalah salah satu tradisi perayaan sekaten yang diselenggarakan setiap tahun oleh kraton seperti Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta. Namun seiring berkembangnya zaman, tradisi ini sudah mulai memudar dan mulai dilupakan orang.

Kinang merupakan salah satu makanan atau ramuan yang boleh diperjualbelikan dalam perayaan sekaten. Kinang terdiri dari campuran dari tembakau kering, daun sirih, gambir, jambe, injet (kapur sirih) dan kembang kanthil. Campuran tersebut dibungkus dengan conthong (kerucut) yang terbuat dari daun pisang.

Penjual Kinang Di Sekaten Yogyakarta

Saat perayaan Sekaten, kinang banyak diperjualbelikan oleh pedagang di halaman Masjid Gedhe Kraton. Sebagian besar penjual kinang adalah simbah atau wanita yang telah lanjut usia. Sepertinya tidak ada atau belum ada regenerasi dalam penjualan ramuan tersebut. Hampir setiap tahun penjual kinang selalu tetap dan bila Anda rutin mengunjungi perayaan Sekaten pasti akan hapal dengan wajah penjual ramuan tersebut. Bila tidak ada wajah baru atau regenerasi penjual kinang dapat diperkirakan beberapa tahun lagi jumlah penjualnya semakin berkurang.

Omset penjualan kinang bisa dibilang stabil dan rata-rata didominasi oleh pembeli yang percaya akan berkah atau tuah dari kinang perayaan Sekaten itu sendiri. Jumlah pembelian juga tidak banyak, kadang hanya satu bungkus, dua bungkus, dan ada yang membeli lebih dari lima bungkus. Para pembeli kinang pun tidak langsung menikmati atau mengunyah kinang di lokasi dan lebih memilih membungkusnya untuk dibawa pulang. Sepertinya pergeseran nilai dan fungsi kinang mulai terasa dalam setiap perayaan Sekaten dari tahun ke tahun.

Baca Juga  Resto Kandang Sapi, Nikmatnya Masakan Mangut Ndas Manyut Dari Piyungan Bantul

Pada awal penyelenggaraan Sekaten, kinang dikunyah sambil mendengarkan gendhing gamelan kraton yang dimainkan dalam perayaan Sekaten selama satu minggu di halaman masjid gedhe kraton. Masyarakat tersugesti dengan mengunyah kinang pada waktu-waktu tersebut dapat membuat awet muda. Ada yang percaya hal tersebut merupakan magis dari perayaan atau tradisi Sekaten tersebut dan ada pula yang menganggap hal tersebut dikarenakan bahan penyusun kinang itu sendiri. Kenyataannya mengunyah kinang dan membuat awet muda justru dibuktikan oleh pedagang kinang itu sendiri. Hampir seluruh penjual kinang yang berusia lanjut bahkan mencapai usia 100 tahun itu berjualan sambil mengunyah kinang.

Lima bahan kinang diantaranya tembakau, daun sirih, gambir, jambe, dan injet dipercaya mempunyai makna filosofis. Bahan-bahan ramuan itu merupakan simbol kehidupan manusia melalui rasanya yang pahit,sepet, getir, getas, dan asin. Daun sirih sendiri disebutkan memiliki arti bertemunya rasa. Hal ini melambangkan sebuah rasa keingintahuan seorang manusia yang selalu muncul pada sang penciptanya yaitu Tuhan. Selain itu daun sirih juga berarti tempat bergantungnya hati. Artinya bila seseorang mengunyah daun sirih (nginang) diharapkan dapat memahami ajaran tauhid dengan rasa tersebut. Bunga kantil yang juga satu- kesatuan dalam campuran kinang juga memiliki arti tersendiri. Dalam perayaan sekaten bunga kantil itu bermakna ingin selalu bersama Tuhan. Seseorang yang mengunyah kinang dengan menyanding bunga kantil diharapkan orang tersebut dapat selalu ingat pada Tuhan Yang Kuasa. Karena segala tindak tanduk dan perbuatan manusia di dunia ini pasti akan selalu diawasi oleh Sang Penciptanya.

Baca Juga  Sate Kambing Pak Turut, Sajian Sate Kambing Khas Gunungkidul

Dari segi kesehatan, mengunyah kinang juga memiliki manfaat terutama kesehatan gigi. Antara lain dapat menguatkan gigi, mencegah kerusakan gigi, mencegah pembekakan gusi, mencegah pendarahan geraham, dan menghilangkan bau mulut. Sedang efeknya sampingnya, mengunyah kinang dapat membuat gigi berwarna kecoklatan, dan saat mengunyahnya harus sering meludah. Ini yang membuat nginang sering dianggap kotor dan menjijikan. Hal yang terlepas dari pengamatan nginang justru pada proses mengunyah itu sendiri. Proses mengunyah dalam waktu yang lama dapat memperlancar kinerja saraf yang terdapat pada gusi dan gigi dimana saraf tersebut terhubung ke saraf lain di seluruh tubuh manusia. Efek ini yang menyebabkan saraf manusia dapat bekerja dengan baik hingga usia lanjut dan dapat memperpanjang usia. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat